Iran Sebut Kesepakatan Transit Selat Hormuz Bergantung pada Komitmen AS

Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi. (Anadolu Agency)

Iran Sebut Kesepakatan Transit Selat Hormuz Bergantung pada Komitmen AS

Willy Haryono • 30 August 2026 08:40

Teheran: Iran telah mencapai kesepahaman dengan Oman mengenai pengaturan transit kapal melalui Selat Hormuz, namun implementasinya masih bergantung pada pemenuhan komitmen Amerika Serikat (AS), ujar seorang pejabat senior Iran.

Wakil Menteri Luar Negeri Iran untuk Urusan Hukum dan Internasional Kazem Gharibabadi mengatakan kesepahaman tersebut tidak secara otomatis dapat segera diterapkan.

"Kesepahaman ini tidak akan secara otomatis memasuki tahap implementasi," kata Gharibabadi, dikutip dari kantor berita semi-resmi Tasnim, Minggu, 30 Agustus 2026.

Menurutnya, pelaksanaan kesepahaman bergantung pada pemenuhan komitmen pihak lain, terutama AS. "Ketika komitmen tersebut dilaksanakan, Iran juga akan mengambil langkah-langkahnya," ujarnya.

Gharibabadi mengatakan Iran tidak terburu-buru membuka kembali Selat Hormuz dan akan terus melakukan "langkah-langkah pertahanan" serta menghadapi berbagai ancaman.

Ia juga mengatakan jika Washington ingin kembali ke jalur diplomasi, AS harus bertanggung jawab atas tindakan-tindakan sebelumnya.

Iran Klaim Awasi Seluruh Lalu Lintas Hormuz

Gharibabadi mengatakan Iran dan Oman telah menyepakati pengaturan terkait Selat Hormuz. Namun, menurutnya, pemenuhan prasyarat untuk menerapkan kesepakatan tersebut sepenuhnya bergantung pada Washington.

"Ketika komitmen tersebut dipenuhi, Iran akan mengambil tindakan yang diperlukan. Selat Hormuz masih ditutup, dan jika ada kapal yang melewati jalur ini, hal itu dilakukan dengan koordinasi dan izin Republik Islam Iran," katanya.

Ia menambahkan bahwa angkatan bersenjata Iran memiliki "pengawasan penuh" terhadap seluruh pergerakan di Selat Hormuz.

Gharibabadi membantah klaim bahwa kapal dapat melintasi selat tersebut tanpa koordinasi dengan Teheran.

Iran juga terus melakukan konsultasi dengan Qatar dan Pakistan yang berperan sebagai mediator. Menurut Gharibabadi, kedua negara tersebut berupaya melihat kemungkinan melanjutkan kembali pelaksanaan komitmen berdasarkan kesepahaman yang dicapai di Islamabad.

Kesepakatan Iran-AS Masih Buntu

Ketegangan antara Iran dan AS meningkat sejak perang di Iran dimulai pada akhir Februari dan mendorong Teheran melancarkan serangan terhadap aset militer AS di sejumlah negara Arab sekutu Washington.

Kedua pihak kemudian mencapai gencatan senjata pada April dan menandatangani nota kesepahaman di Islamabad pada Juni. Namun, kemajuan perundingan terhenti akibat perbedaan mengenai ketentuan transit dan biaya pelintasan kapal di Selat Hormuz.

Serangan yang kembali meningkat pada Juli kemudian mendorong Washington memberlakukan kembali blokade laut terhadap pelabuhan Iran serta mencabut sejumlah pengecualian terkait ekspor minyak.

Situasi tersebut membuat konflik Iran-AS berada dalam kondisi buntu, sementara Selat Hormuz tetap menjadi salah satu titik utama perselisihan kedua pihak.

Baca juga:  Iran Minta AS Akhiri Perang Regional jika Ingin Selat Hormuz Dibuka

(Willy Haryono)