Ilustrasi Gedung Wisma Danantara. Foto: dok Danantara.
Danantara Siap Perluas Investasi Pusat Data di Tengah Tingginya Permintaan
Ade Hapsari Lestarini • 27 August 2026 21:49
Jakarta: Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara siap memperluas investasi di sektor pusat data (data center) seiring tingginya permintaan terhadap infrastruktur digital di Indonesia.
Chief Technology Officer (CTO) Danantara Sigit Puji Santosa mengatakan kebutuhan kapasitas data center terus meningkat. Bahkan, kapasitas baru yang dibangun disebut langsung terserap pasar.
"Kalau kita membangun 100 megawatt, 200 megawatt, habis langsung," ujar Sigit di Jakarta, dilansir Antara, Kamis, 27 Agustus 2026.
Menurut dia, permintaan data center di Indonesia saat ini sangat besar. Setiap investasi baru untuk pembangunan pusat data langsung diikuti dengan penyerapan kapasitas oleh pasar. Kondisi tersebut menyebabkan waktu tunggu untuk memperoleh kapasitas data center dapat mencapai enam bulan hingga satu tahun.
"Permintaan data center luar biasa besar, sehingga terjadi kelangkaan, harus menunggu enam bulan, sembilan bulan sampai setahun," kata dia.
Menurut Sigit, Indonesia saat ini memiliki sekitar 45 data center berskala besar. Namun, tingginya kebutuhan terhadap infrastruktur digital membuat ketersediaan kapasitas masih menjadi tantangan.
Danantara, kata dia, siap mengambil bagian dalam pengembangan infrastruktur tersebut, termasuk menyiapkan kebutuhan teknologi dan komponen pendukung bagi industri pusat data.

Ilustrasi Gedung Danantara. Foto: dok Danantara.
Danantara bidik pengembangan AI cip
Selain infrastruktur pusat data, Sigit mengatakan Danantara juga menaruh perhatian pada pengembangan cip semikonduktor, terutama artificial intelligence (AI) cip yang kebutuhannya meningkat pesat.
Ia mengatakan Danantara telah menjalin kerja sama dengan perusahaan semikonduktor Inggris Arm Limited untuk mengembangkan desain chip. Sejumlah badan usaha milik negara (BUMN) juga dilibatkan dalam pengembangan tersebut.
Sigit menambahkan kebutuhan terhadap AI cip saat ini juga mengalami peningkatan tajam secara global. Waktu tunggu untuk memperoleh chip tersebut di sejumlah negara bahkan dapat mencapai enam hingga sembilan bulan.
Menurut Sigit, Danantara akan menyiapkan kebutuhan infrastruktur digital mulai dari sistem, subsistem, hingga komponen yang diperlukan untuk menangkap peluang pertumbuhan industri tersebut.
Namun demikian, pengembangan infrastruktur digital masih menghadapi sejumlah tantangan, antara lain keterbatasan daya serta kompleksitas proses dan regulasi.
"Memang tantangannya cukup besar, tapi juga peluangnya juga cukup besar," ucap Sigit.