Pentingnya Peran Guru Agar Kemampuan Murid Tak Tergeser AI

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Stella Christie. Foto: Dok. Istimewa.

Pentingnya Peran Guru Agar Kemampuan Murid Tak Tergeser AI

Fachri Audhia Hafiez • 11 October 2026 06:12

Jakarta: Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Stella Christie, menegaskan pentingnya peran guru dalam membimbing murid menghadapi pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Menurutnya, fokus pendidikan masa depan harus bergeser dari sekadar menguasai teknologi menjadi membangun kemampuan berpikir kritis agar posisi manusia tidak tergantikan.

"Guru seharusnya tidak sekadar mengajarkan cara menggunakan AI, tetapi mengajarkan agar posisi murid di masa depan tidak bisa digantikan oleh AI. Kita harus mampu mengevaluasi hasil dari AI secara kritis," tegas Stella dikutip melalui keterangan tertulis, Sabtu, 10 Oktober 2026.
 


Pernyataan tersebut disampaikan Stella dalam penutupan Redea International Conference ke-16 yang diselenggarakan oleh Redea Institute yang dahulu HighScope Indonesia Institute. Kegiatan ini dilaksanakan pada 8–9 Oktober 2026. 

Mengusung tema “Guardians of the Future: Sustainably Impactful and Future-Driven School”, konferensi ini menghadirkan berbagai pakar nasional dan internasional untuk membahas transformasi ekosistem pendidikan yang berorientasi pada keberlanjutan dan kesejahteraan manusia.

Dalam pemaparannya, Stella membeberkan data Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) tahun 2026 yang menunjukkan bahwa siswa pengguna AI harian memiliki rata-rata skor sains paling rendah dibandingkan mereka yang jarang menggunakannya. Ia mengingatkan bahwa pelimpahan seluruh proses pemecahan masalah kepada AI dapat membuat manusia kehilangan esensi proses belajar, padahal agilitas, pembelajaran konsisten, dan kreativitas merupakan keahlian utama yang dibutuhkan pada 2030 berdasarkan data World Economic Forum 2025.


Konferensi pers penutupan Redea International Conference ke-16 yang diselenggarakan oleh Redea Institute. Foto: Dok. Istimewa.

Pendiri dan CEO Redea Institute, Antarina S.F. Amir, dalam pidato pembukaannya menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara kemajuan teknologi dan nilai-nilai kemanusiaan.

“Sebagai pendidik, kita adalah penjaga rasa ingin tahu dan sisi kemanusiaan peserta didik. Tanggung jawab kita adalah memastikan bahwa seiring berkembangnya teknologi, sekolah tetap berlandaskan pada visi keberlanjutan yang mendalam,” ujar Antarina.

Konferensi ini juga menyoroti aspek lingkungan hidup melalui pemaparan Direktur Perlindungan dan Pengelolaan Mutu Udara Kementerian Lingkungan Hidup/BPLH, Dr. Edward Nixon Pakpahan. Ia menekankan bahwa kolaborasi lintas sektor menjadi kunci mutlak dalam menghadirkan lingkungan hidup yang baik dan sehat bagi masyarakat.

Rangkaian acara turut diisi oleh kehadiran pembicara internasional seperti Aaron Eisberg, Richard Cash, dan Ken Moore, serta sesi Learning Heroes yang menampilkan praktik baik dari para pendidik jaringan EcoSocioTech (EST) School. Melalui ajang ini, Redea Institute memperkuat komitmennya untuk mendorong sekolah bertransformasi menjadi ekosistem pembelajar yang adaptif demi masa depan generasi bangsa.

(Fachri Audhia Hafiez)