Seminar Academia Politica yang digelar Yayasan Partisipasi Muda (YPM) di Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin (UNHAS), Makassar. Foto: Dok. Istimewa.
Peran Akademisi Dibutuhkan Menganalisis Dampak Lingkungan
M Sholahadhin Azhar • 14 October 2026 14:52
Jakarta: Analisis dampak lingkungan memerlukan pemeriksaan mendalam yang dilakukan akademisi. Terutama, yang berkaitan dengan komoditas penting.
"Perlu dibuktikan dengan pendekatan sains, sehingga peran akademisi sangat dibutuhkan," kata Fungsional Pengendali Dampak Lingkungan DLHK Sulawesi Selatan, Fachrie Rezka Ayyub, dalam keterangan yang dikutip Rabu, 14 Oktober 2026.
Baca Juga :
Hal tersebut dikatakan Fachrie, dalam seminar Academia Politica yang digelar Yayasan Partisipasi Muda (YPM) di Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin (UNHAS), Makassar. Menurut Fachrie, pemerintah terus berkomitmen penguatan tata kelola lingkungan dan partisipasi publik di tengah lonjakan industri nikel.
Menurut Fachrie, analisis akademisi ini penting, terutama terkait nikel. Mengingat, Indonesia menguasai sekitar 60% nikel dunia.
"Dan Sulawesi Selatan menyumbang sekitar 15% dengan pusat aktivitas di Luwu Timur dan Bantaeng," kata Fachrie.
Di sisi lain, Direktur Eksekutif Daerah WALHI Sulawesi Selatan Muhammad Al Amien menyebut tak hanya akademisi yang harus terlibat. Menurut dia, anak muda harus dilibatkan terkait hal ini.
Dalam hal pengelolaan komoditas, Kepala Pusat Riset Kebencanaan Unhas Ilham Alimuddin menyebut Indonesia menghadapi tantangan penting. Utamanya, terkait kesejahteraan.
"Tantangannya adalah mengubah kekayaan geologi menjadi kesejahteraan," kata Ilham.

Ilustrasi. Foto: Freepik.com.
Menutup seminar, Direktur Eksekutif YPM Neildeva Despendya mendorong anak muda melakukan partisipasi optimal. Terutama, dalam menentukan arah pembangunan.
"Partisipasi bermakna menuntut adanya ruang, suara, audiens, dan pengaruh, yang dapat diwujudkan melalui policy brief, position paper, maupun laporan pemantauan," tegas Neildeva.