Peta terkini wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. ANTARA/HO-Staklim BMKG Yogyakarta
BMKG Tetapkan Seluruh Wilayah DIY Berstatus Awas Kekeringan
Silvana Febiari • 11 October 2026 18:44
Yogyakarta: Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Kelas II Yogyakarta menyatakan seluruh wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) berada dalam status awas peringatan dini kekeringan meteorologis.
Status tersebut didasarkan pada pengamatan gejala fisis dan data dinamika atmosfer-laut terkini. Angin yang bertiup dari timur di wilayah Indonesia bagian selatan ekuator mengindikasikan aktifnya Monsun Australia.
"Peringatan dini kekeringan meteorologis DIY pada Dasarian II Oktober 2026 berada dalam status Awas di seluruh wilayah DIY," kata Kepala Stasiun Klimatologi Kelas II Yogyakarta Mamenun dalam keterangan di Yogyakarta, dilansir Antara, Minggu, 11 Oktober 2026.
Indeks El Nino Southern Oscillation (ENSO) dalam fase sangat kuat sehingga fenomena El Nino berpeluang terjadi hingga awal 2027. Sementara Dipole Mode Indeks (DMI) berada dalam fase positif dan berpeluang terjadi sampai awal 2027 dan Madden Julian Oscillation (MJO) diprediksi tidak aktif di wilayah Indonesia.
"Analisis anomali suhu muka air laut di perairan selatan DIY antara -0.5 sampai dengan +0.5 derajat Celsius atau kategori netral, dengan suhu berkisar antara 26 sampai 30 derajat Celsius," jelasnya.
Atas kondisi cuaca tersebut, BMKG mengimbau kepada pemerintah daerah, institusi terkait dan seluruh masyarakat, untuk meningkatkan kewaspadaan kekeringan meteorologis.
"Tetap waspada terhadap kekeringan, kebakaran hutan atas lahan, dan kondisi kualitas udara yang buruk akibat mundurnya awal musim hujan," ucapnya.

Ilustrasi kekeringan. (MGN/Nur Soli)
Meski demikian, BMKG mengimbau seluruh pihak meningkatkan kewaspadaan pada masa peralihan atau akhir musim kemarau. Kondisi ini ditandai dengan cuaca ekstrem, seperti hujan lebat, petir, angin kencang, puting beliung, dan hujan es.
"Lakukan langkah mitigasi antara lain membersihkan saluran air, memangkas dahan pohon yang berisiko tumbang, serta memastikan struktur bangunan dan baliho dalam kondisi kuat guna mengurangi potensi dampak cuaca ekstrem selama masa peralihan musim," ungkapnya.