Ilustrasi hujan deras. (Dokumentasi/ BMKG)
Musim Hujan Diprediksi Mulai Akhir November, BPBD Sleman Minta Warga Siaga Bencana
Silvana Febiari • 5 November 2026 13:57
Sleman: Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta mengimbau masyarakat meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi bencana alam menjelang musim hujan saat ini.
Kepala Pelaksana BPBD Sleman Bambang Kuntoro mengatakan berdasarkan data Stasiun Klimatologi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), wilayah Sleman saat ini berada pada masa pancaroba. Musim hujan diperkirakan mulai masuk pada dasarian ketiga November 2026, sedangkan puncak pada Februari 2027.
"Dampak fenomena El Nino membuat awal musim hujan mundur dan durasinya menjadi lebih pendek. El Nino masih menguat dan diprakirakan meluruh menuju moderat pada Januari–Februari, sehingga puncak musim hujan diprediksi terjadi pada Februari dan mulai mereda pada dasarian ketiga April," kata Bambang, dilansir dari Antara, Kamis, 5 November 2026.
Menindaklanjuti Surat Edaran (SE) BNPB Nomor 4 Tahun 2024, ia menekankan delapan langkah penting berbasis komunitas dan keluarga untuk meminimalkan risiko bencana alam akibat cuaca ekstrem, yakni pemetaan risiko bencana secara mandiri di tingkat mikro hingga RT/RW. Meski Sleman telah memiliki Dokumen Kajian Risiko Bencana untuk 11 potensi ancaman, pemetaan hingga tingkatan paling bawah dinilai sebagai penting.
Selain itu, pemenuhan kesiapsiagaan sumber daya keluarga dan komunitas. Masyarakat diimbau menyiagakan tas siaga bencana yang berisi dokumen penting, obat-obatan, senter, serta kecukupan pasokan makanan dan minuman darurat.
Selain itu, pemantauan cuaca secara mandiri melalui aplikasi resmi BMKG agar warga dapat mengantisipasi perubahan cuaca saat beraktivitas di luar rumah, mengoptimalkan koordinasi lingkungan. Salah satunya memanfaatkan grup komunikasi pesan instan, seperti WhatsApp di tingkat RT/RW, untuk menyebarkan informasi kondisi terkini dan pemetaan wilayah rawan.
Selain itu, edukasi dan simulasi evakuasi mandiri di dalam keluarga, di mana diskusi internal keluarga sebagai langkah penting untuk menentukan siapa membawa apa, ke mana arah evakuasi, tempat kumpul, serta penanganan khusus bagi kelompok rentan, seperti lansia, anak-anak, dan disabilitas.

Kepala Pelaksana BPBD Sleman Bambang Kuntoro. ANTARA/Sutarmi
Lalu, pengaktifan peringatan dini berbasis kearifan lokal di mana pihaknya mendorong penggiatan kembali pos kamling, pengerasan suara di tempat ibadah (masjid/mushalla), maupun penggunaan alat tradisional seperti kentongan saat kondisi darurat. Pengurangan risiko fisik lingkungan lewat aksi nyata gotong royong membersihkan selokan, memperbaiki tanggul air yang rusak, serta memangkas dahan pohon yang rindang dan membahayakan.
Jika pohon berisiko mengenai jaringan listrik atau penanganan sulit, warga bisa melapor ke BPBD. Selanjutnya, pihaknya berkoordinasi dengan PLN dan melakukan penanganan 24 jam.
Langkah lainnya percepatan pelaporan darurat di mana warga diharapkan segera melapor jika terjadi keadaan darurat melalui pengurus RT/RW, lurah, maupun menghubungi posko kebencanaan BPBD Sleman yang bersiaga penuh selama 24 jam.
"Kesiapsiagaan harus dimulai dari unit terkecil, yaitu diri sendiri dan keluarga. Mari tingkatkan sikap tanggap, tangkas, dan tangguh agar kita dapat melewati musim hujan ini dengan aman dan minim risiko," demikian Bambang.