Museum Joang 45 (Dok. Yayasan Mitra Museum Jakarta)
8 Museum Bertema Pahlawan di Jakarta, Cocok untuk Rayakan Hari Pahlawan
Muhamad Marup • 5 November 2026 20:42
Jakarta: Menjelang peringatan Hari Pahlawan pada 10 November 2026, masyarakat dapat mengenang kembali perjuangan para tokoh bangsa melalui wisata sejarah. Salah satu caranya adalah mengunjungi museum yang menyimpan berbagai koleksi peninggalan, dokumentasi, hingga kisah perjuangan para pahlawan Indonesia.
Jakarta memiliki sejumlah museum yang berkaitan erat dengan sejarah perjuangan bangsa. Mulai dari museum yang mengabadikan kehidupan tokoh nasional, tempat perumusan kemerdekaan, hingga bangunan yang menjadi saksi perjuangan mempertahankan kemerdekaan.
Berikut daftar museum bertema pahlawan di Jakarta yang bisa menjadi tujuan wisata edukasi.
Daftar Museum Bertema Pahlawan di Jakarta
Jakarta memiliki sejumlah museum yang berkaitan erat dengan sejarah perjuangan bangsa. Mulai dari museum yang mengabadikan kehidupan tokoh nasional, tempat perumusan kemerdekaan, hingga bangunan yang menjadi saksi perjuangan mempertahankan kemerdekaan.
Berikut daftar museum bertema pahlawan di Jakarta yang bisa menjadi tujuan wisata edukasi.
Daftar Museum Bertema Pahlawan di Jakarta
1. Museum Joang 45
Museum Joang 45 menjadi salah satu tempat yang tepat untuk mengenal sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia, khususnya peran para pemuda pada masa menjelang Proklamasi 1945. Museum ini terletak di Jalan Menteng Raya No. 31, Jakarta Pusat.
Bangunan museum ini awalnya merupakan Hotel Schomper 1 yang didirikan pada 1938. Ketika Jepang menduduki Indonesia, gedung tersebut dikuasai para pemuda dan digunakan sebagai asrama sekaligus tempat pendidikan nasionalisme.
Ir. Soekarno, Drs. Mohammad Hatta, Adam Malik, Chaerul Saleh dan sejumlah tokoh Indonesia lainnya merupakan tokoh-tokoh yang terlibat dalam pendidikan pemuda yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.
Museum Joang 45 menyimpan berbagai koleksi bersejarah, seperti foto dokumentasi perjuangan, diorama, senjata, pakaian pejuang, serta mobil dinas REP 1 dan REP 2 milik Presiden dan Wakil Presiden pertama Indonesia, Soekarno dan Mohammad Hatta.
Museum ini diresmikan pada 19 Agustus 1974 oleh Presiden Soeharto dan Gubernur DKI Jakarta, ali sadikin, serta menjadi salah satu tempat untuk mempelajari perjalanan perjuangan bangsa menuju kemerdekaan.
Guna memberikan pengalaman edukasi yang lebih hidup, museum ini juga menghadirkan ruang multimedia interaktif, fasilitas teater berkapasitas 70 tempat duduk. Di area museum tersebut juga terdapat area santai “Omah Kopi 45” untuk bersantai setelah berkeliling museum.
Museum ini buka tiap Selasa-Minggu, pukul 08.00-15.00 WIB. Harga tiket masuk museum ini yaitu Rp5.000-Rp15.000 (Lokal), Rp50.000 (Mancanegara).
Bangunan museum ini awalnya merupakan Hotel Schomper 1 yang didirikan pada 1938. Ketika Jepang menduduki Indonesia, gedung tersebut dikuasai para pemuda dan digunakan sebagai asrama sekaligus tempat pendidikan nasionalisme.
Ir. Soekarno, Drs. Mohammad Hatta, Adam Malik, Chaerul Saleh dan sejumlah tokoh Indonesia lainnya merupakan tokoh-tokoh yang terlibat dalam pendidikan pemuda yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.
Museum Joang 45 menyimpan berbagai koleksi bersejarah, seperti foto dokumentasi perjuangan, diorama, senjata, pakaian pejuang, serta mobil dinas REP 1 dan REP 2 milik Presiden dan Wakil Presiden pertama Indonesia, Soekarno dan Mohammad Hatta.
Museum ini diresmikan pada 19 Agustus 1974 oleh Presiden Soeharto dan Gubernur DKI Jakarta, ali sadikin, serta menjadi salah satu tempat untuk mempelajari perjalanan perjuangan bangsa menuju kemerdekaan.
Guna memberikan pengalaman edukasi yang lebih hidup, museum ini juga menghadirkan ruang multimedia interaktif, fasilitas teater berkapasitas 70 tempat duduk. Di area museum tersebut juga terdapat area santai “Omah Kopi 45” untuk bersantai setelah berkeliling museum.
Museum ini buka tiap Selasa-Minggu, pukul 08.00-15.00 WIB. Harga tiket masuk museum ini yaitu Rp5.000-Rp15.000 (Lokal), Rp50.000 (Mancanegara).
2. Museum MH Thamrin
Museum MH Thamrin merupakan museum yang didedikasikan untuk mengenang kehidupan dan perjuangan Mohammad Husni Thamrin, salah satu pahlawan nasional asal Betawi. Museum ini berlokasi di Jalan Kenari 2 No. 15, Senen, Jakarta Pusat.
MH Thamrin dikenal sebagai tokoh pergerakan nasional yang memperjuangkan kepentingan masyarakat pribumi melalui jalur politik. Ia juga berperan dalam memperjuangkan perbaikan kehidupan masyarakat Jakarta pada masa pemerintahan kolonial Belanda. Museum ini menyimpan berbagai koleksi yang berkaitan dengan perjalanan hidup dan perjuangannya. Pengunjung dapat melihat foto-foto dokumentasi, radio, barang-barang peninggalan, serta sejumlah koleksi yang menggambarkan kiprah MH Thamrin dalam pergerakan kebangsaan.
Bangunan museum tersebut juga memiliki nilai sejarah karena beberapa kali dijadikan tempat pelaksanaan kongres. Tahun 1935 diadakan Kongres Partai Politik oleh Partai Nasional Indonesia. Tahun 1939 diadakan kongres Kongres Persatuan Arab Indonesia, Kongres Partai Rakyat Indonesia, serta Pembentukan dan Kongres Gabungan Partai Indonesia.
Gedung ini digunakan juga oleh para tokoh Pergerakan Nasional untuk menyelenggarakan Pendidikan Perjuangan Rakyat.
Pada 1972, gedung ini ditetapkan sebagai bangunan bersejarah yang dilindungi Undang-Undang Monumen (Monumen Ordonantie) STBL. 1931 No. 238 dan Surat Keputusan Gubernur KDKI Jakarta No. CB II/I.12.720.
Pada 11 Januari 1986, gedung ini diresmikan sebagai Gedung Mohammad Hoesni Thamrin. Lalu pada tahun 1994, Ny. Dee Zubaida Dimmyati Thamrin menyerahkan tanah dan bangunan gedung MH Thamrin kepada Pemerintahan Provinsi DKI Jakarta untuk dirawat, dikelola dan dilestarikan sebagai Museum Perjuangan dengan nama Gedung Mohammad Hoesni Thamrin dengan Surat Keputusan Gubernur KDKI Jakarta No. 1438 Tahun 1994.
MH Thamrin dikenal sebagai tokoh pergerakan nasional yang memperjuangkan kepentingan masyarakat pribumi melalui jalur politik. Ia juga berperan dalam memperjuangkan perbaikan kehidupan masyarakat Jakarta pada masa pemerintahan kolonial Belanda. Museum ini menyimpan berbagai koleksi yang berkaitan dengan perjalanan hidup dan perjuangannya. Pengunjung dapat melihat foto-foto dokumentasi, radio, barang-barang peninggalan, serta sejumlah koleksi yang menggambarkan kiprah MH Thamrin dalam pergerakan kebangsaan.
Bangunan museum tersebut juga memiliki nilai sejarah karena beberapa kali dijadikan tempat pelaksanaan kongres. Tahun 1935 diadakan Kongres Partai Politik oleh Partai Nasional Indonesia. Tahun 1939 diadakan kongres Kongres Persatuan Arab Indonesia, Kongres Partai Rakyat Indonesia, serta Pembentukan dan Kongres Gabungan Partai Indonesia.
Gedung ini digunakan juga oleh para tokoh Pergerakan Nasional untuk menyelenggarakan Pendidikan Perjuangan Rakyat.
Pada 1972, gedung ini ditetapkan sebagai bangunan bersejarah yang dilindungi Undang-Undang Monumen (Monumen Ordonantie) STBL. 1931 No. 238 dan Surat Keputusan Gubernur KDKI Jakarta No. CB II/I.12.720.
Pada 11 Januari 1986, gedung ini diresmikan sebagai Gedung Mohammad Hoesni Thamrin. Lalu pada tahun 1994, Ny. Dee Zubaida Dimmyati Thamrin menyerahkan tanah dan bangunan gedung MH Thamrin kepada Pemerintahan Provinsi DKI Jakarta untuk dirawat, dikelola dan dilestarikan sebagai Museum Perjuangan dengan nama Gedung Mohammad Hoesni Thamrin dengan Surat Keputusan Gubernur KDKI Jakarta No. 1438 Tahun 1994.
3. Museum Sumpah Pemuda
Museum Sumpah Pemuda merupakan museum yang menyimpan sejarah perjuangan para pemuda dalam membangun persatuan bangsa. Museum ini berlokasi di Jalan Kramat Raya No. 106, Jakarta Pusat.
Museum ini menempati gedung yang menjadi lokasi penyelenggaraan Kongres Pemuda II pada 27-28 Oktober 1928. Pertemuan tersebut melahirkan ikrar Sumpah Pemuda yang menjadi tonggak penting dalam perjalanan menuju kemerdekaan Indonesia.
Museum ini dulunya adalah rumah tinggal warga keturunan Tionghoa bernama Sie Kong Lian. Pada tahun 1908 rumah ini disewa oleh para pelajar Stovia dan Rechtsschool sebagai tempat tinggal dan ruang diskusi pergerakan pemuda.
Di dalam museum, pengunjung dapat melihat berbagai koleksi yang berkaitan dengan pergerakan pemuda, termasuk foto tokoh-tokoh kongres, dokumentasi organisasi kepemudaan, serta biola milik Wage Rudolf Supratman yang digunakan untuk memperdengarkan lagu Indonesia Raya.
Beberapa tokoh yang dikenalkan melalui koleksi museum ini antara lain Mohammad Yamin, Mohammad Tabrani, Soenario, dan W.R. Supratman.
Museum ini dapat menjadi pilihan untuk mengenal kontribusi generasi muda dalam memperjuangkan persatuan dan kemerdekaan Indonesia.
Museum ini diresmikan pertama kali sebagai Gedung Sumpah Pemuda oleh Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin pada 20 Mei 1973. Kemudian pada 20 Mei 1974, museum ini diresmikan kembali secara resmi oleh Presiden Republik Indonesia, Soeharto.
Museum ini buka setiap hari Selasa-Minggu, pukul 08.00-16.00 WIB. Harga tiket museum ini yaitu Rp2.000 (Anak/Pelajar), Rp5.000 (Dewasa).
Museum ini menempati gedung yang menjadi lokasi penyelenggaraan Kongres Pemuda II pada 27-28 Oktober 1928. Pertemuan tersebut melahirkan ikrar Sumpah Pemuda yang menjadi tonggak penting dalam perjalanan menuju kemerdekaan Indonesia.
Museum ini dulunya adalah rumah tinggal warga keturunan Tionghoa bernama Sie Kong Lian. Pada tahun 1908 rumah ini disewa oleh para pelajar Stovia dan Rechtsschool sebagai tempat tinggal dan ruang diskusi pergerakan pemuda.
Di dalam museum, pengunjung dapat melihat berbagai koleksi yang berkaitan dengan pergerakan pemuda, termasuk foto tokoh-tokoh kongres, dokumentasi organisasi kepemudaan, serta biola milik Wage Rudolf Supratman yang digunakan untuk memperdengarkan lagu Indonesia Raya.
Beberapa tokoh yang dikenalkan melalui koleksi museum ini antara lain Mohammad Yamin, Mohammad Tabrani, Soenario, dan W.R. Supratman.
Museum ini dapat menjadi pilihan untuk mengenal kontribusi generasi muda dalam memperjuangkan persatuan dan kemerdekaan Indonesia.
Museum ini diresmikan pertama kali sebagai Gedung Sumpah Pemuda oleh Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin pada 20 Mei 1973. Kemudian pada 20 Mei 1974, museum ini diresmikan kembali secara resmi oleh Presiden Republik Indonesia, Soeharto.
Museum ini buka setiap hari Selasa-Minggu, pukul 08.00-16.00 WIB. Harga tiket museum ini yaitu Rp2.000 (Anak/Pelajar), Rp5.000 (Dewasa).
4. Museum Perumusan Naskah Proklamasi

Museum Perumusan Naskah Proklamasi (Dok. IHA Kemenbud)
Museum Perumusan Naskah Proklamasi atau Munasprok merupakan salah satu tempat bersejarah yang berkaitan langsung dengan lahirnya kemerdekaan Indonesia. Museum ini terletak di Jalan Imam Bonjol No. 1, Menteng, Jakarta Pusat.
Museum ini menempati bekas kediaman Laksamana Muda Tadashi Maeda. Bangunan tersebut menjadi lokasi perumusan naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada malam 16 Agustus hingga dini hari 17 Agustus 1945.
Sejumlah tokoh bangsa yang terlibat dalam proses perumusan naskah Proklamasi antara lain Soekarno, Mohammad Hatta, dan Ahmad Soebardjo. Sementara itu, Sayuti Melik berperan mengetik naskah Proklamasi yang telah disepakati.
Museum ini menyimpan lebih dari seribu koleksi asli dan replika yang berkaitan dengan peristiwa perumusan Proklamasi. Beberapa di antaranya adalah mesin tik bersejarah, radio, piano, dan berbagai benda peninggalan yang berkaitan dengan peristiwa proklamasi.
Museum Perumusan Naskah Proklamasi diresmikan pada tanggal 24 November 1992. Peresmian tersebut didasarkan pada Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 0476/O/1992.
Daya tarik utama yang membuat museum ini wajib dikunjungi adalah keberadaan bunker rahasia di halaman belakang yang menjadi tempat perlindungan darurat dari serang penjajah. Di dalamnya juga terdapat 4 ruangan yang merupakan fase terciptanya proklamasi dari mulai pra-perumusan hingga ruang keempat yang menjadi fase pengetikan.
Museum ini buka setiap Selasa-Minggu, pukul 08.00-16.00 WIB (Jumat s.d. 16.30 WIB). Harga tiket museum ini yaitu Rp2.000-Rp5.000 (Lokal/Pelajar), Rp25.000 (Mancanegara).
5. Museum Sasmita Loka Ahmad Yani
Museum Sasmita Loka Ahmad Yani merupakan museum yang menempati bekas kediaman Jenderal Ahmad Yani, salah satu Pahlawan Revolusi yang gugur dalam peristiwa G30S pada 1965.
Museum ini terletak di Jalan Lembang No. D58, Menteng, Jakarta Pusat dan dikelola oleh Dinas Sejarah Angkatan Darat.
Museum ini diabadikan untuk mengenang jasa Jenderal Ahmad Yani sekaligus memperkenalkan perjalanan hidup dan pengabdiannya sebagai perwira TNI Angkatan Darat.
Di dalamnya terdapat berbagai benda peninggalan yang ditata menyerupai kondisi rumah ketika masih ditempati Ahmad Yani bersama keluarganya. Koleksinya mencakup senjata, pakaian dinas, tongkat komando, foto, serta barang-barang pribadi.
Salah satu bagian yang menarik adalah koleksi kaca rumah yang terkena tembakan dalam peristiwa penculikan tersebut. Benda-benda ini menjadi bagian dari dokumentasi sejarah yang menggambarkan peristiwa yang merenggut nyawa sang jenderal.
Museum ini terletak di Jalan Lembang No. D58, Menteng, Jakarta Pusat dan dikelola oleh Dinas Sejarah Angkatan Darat.
Museum ini diabadikan untuk mengenang jasa Jenderal Ahmad Yani sekaligus memperkenalkan perjalanan hidup dan pengabdiannya sebagai perwira TNI Angkatan Darat.
Di dalamnya terdapat berbagai benda peninggalan yang ditata menyerupai kondisi rumah ketika masih ditempati Ahmad Yani bersama keluarganya. Koleksinya mencakup senjata, pakaian dinas, tongkat komando, foto, serta barang-barang pribadi.
Salah satu bagian yang menarik adalah koleksi kaca rumah yang terkena tembakan dalam peristiwa penculikan tersebut. Benda-benda ini menjadi bagian dari dokumentasi sejarah yang menggambarkan peristiwa yang merenggut nyawa sang jenderal.
6. Museum Sasmitaloka Pahlawan Nasional Jenderal Besar A.H. Nasution
Museum Sasmitaloka Jenderal Besar A.H. Nasution merupakan museum rumah yang menyimpan jejak kehidupan dan pengabdian Jenderal Besar Abdul Haris Nasution.
Museum yang terletak di Jalan Teuku Umar No. 40, Gondangdia, Menteng, Jakarta Pusat ini menempati bekas kediaman A.H. Nasution di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Ia dikenal sebagai tokoh militer dan pahlawan nasional yang memiliki peran penting dalam sejarah perjuangan serta pertahanan Indonesia.
Tempat ini juga menjadi saksi peristiwa G30S pada 1965. Saat terjadi upaya penculikan terhadap A.H. Nasution, ia berhasil menyelamatkan diri, tetapi putrinya, Ade Irma Suryani Nasution, gugur dalam peristiwa tersebut.
Pengunjung dapat melihat berbagai dokumentasi, foto, benda peninggalan, serta diorama yang menggambarkan perjalanan hidup dan peristiwa sejarah yang berkaitan dengan sang jenderal.
Museum ini menjadi salah satu tempat untuk mengenal lebih dekat sosok A.H. Nasution dan perjalanan sejarah militer Indonesia.
Museum yang terletak di Jalan Teuku Umar No. 40, Gondangdia, Menteng, Jakarta Pusat ini menempati bekas kediaman A.H. Nasution di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Ia dikenal sebagai tokoh militer dan pahlawan nasional yang memiliki peran penting dalam sejarah perjuangan serta pertahanan Indonesia.
Tempat ini juga menjadi saksi peristiwa G30S pada 1965. Saat terjadi upaya penculikan terhadap A.H. Nasution, ia berhasil menyelamatkan diri, tetapi putrinya, Ade Irma Suryani Nasution, gugur dalam peristiwa tersebut.
Pengunjung dapat melihat berbagai dokumentasi, foto, benda peninggalan, serta diorama yang menggambarkan perjalanan hidup dan peristiwa sejarah yang berkaitan dengan sang jenderal.
Museum ini menjadi salah satu tempat untuk mengenal lebih dekat sosok A.H. Nasution dan perjalanan sejarah militer Indonesia.
7. Museum Keprajuritan Indonesia
Museum Keprajuritan Indonesia merupakan museum yang mengangkat sejarah perjuangan dan tradisi keprajuritan masyarakat Indonesia dari berbagai daerah.
Museum yang terletak di kawasan Taman Mini Indonesia Indah, Cipayung, Jakarta Timur ini akan memperkenalkan perjalanan perjuangan bangsa melalui berbagai koleksi yang menggambarkan perlawanan terhadap penjajahan dan upaya mempertahankan wilayah Nusantara.
Koleksinya meliputi diorama, relief, pakaian tradisional prajurit, serta berbagai perlengkapan yang berkaitan dengan sejarah perjuangan di sejumlah wilayah Indonesia.
Berbeda dari museum yang hanya berfokus pada satu tokoh, Museum Keprajuritan Indonesia memperlihatkan keberagaman bentuk perjuangan masyarakat Nusantara dalam menghadapi berbagai ancaman terhadap kedaulatan wilayahnya.
Museum ini dapat menjadi pilihan wisata edukasi untuk mengenal sejarah keprajuritan dan semangat perjuangan dari berbagai daerah.
Museum yang terletak di kawasan Taman Mini Indonesia Indah, Cipayung, Jakarta Timur ini akan memperkenalkan perjalanan perjuangan bangsa melalui berbagai koleksi yang menggambarkan perlawanan terhadap penjajahan dan upaya mempertahankan wilayah Nusantara.
Koleksinya meliputi diorama, relief, pakaian tradisional prajurit, serta berbagai perlengkapan yang berkaitan dengan sejarah perjuangan di sejumlah wilayah Indonesia.
Berbeda dari museum yang hanya berfokus pada satu tokoh, Museum Keprajuritan Indonesia memperlihatkan keberagaman bentuk perjuangan masyarakat Nusantara dalam menghadapi berbagai ancaman terhadap kedaulatan wilayahnya.
Museum ini dapat menjadi pilihan wisata edukasi untuk mengenal sejarah keprajuritan dan semangat perjuangan dari berbagai daerah.
8. Monumen Pancasila Sakti
.jpg)
Monumen Pancasila di Museum Pancasila Sakti (Dok. Kementerian Pertahanan RI)
Monumen Pancasila Sakti merupakan kompleks monumen dan museum sejarah yang dibangun untuk mengenang tujuh Pahlawan Revolusi yang gugur dalam peristiwa G30S pada 1965.
Kompleks ini berada di kawasan Lubang Buaya, Jakarta Timur. Pengunjung dapat melihat sejumlah bangunan dan monumen yang berhubungan dengan peristiwa tersebut, termasuk museum diorama yang menggambarkan kronologi kejadian.
Tujuh Pahlawan Revolusi yang dikenang di tempat ini adalah Jenderal Ahmad Yani, Letjen R. Suprapto, Letjen M.T. Haryono, Letjen S. Parman, Mayjen D.I. Panjaitan, Mayjen Sutoyo Siswomiharjo, dan Kapten Pierre Tendean.
Selain museum, terdapat Monumen Pancasila Sakti dan lokasi sumur tempat jenazah para Pahlawan Revolusi ditemukan. Kawasan ini menjadi salah satu tempat untuk mengenang para korban sekaligus mempelajari sejarah Indonesia pada masa tersebut.
Berikut biaya masuk Monumen Pancasila Sakti:
- Umum: Rp5.000 per orang
- Siswa / Mahasiswa: Rp3.000 per orang
- Parkir Sepeda Motor: Rp5.000 per unit
- Parkir Mobil: Rp15.000 per unit
- Parkir Bus: Rp25.000 per unit
- Pemandu wisata (Rp75.000 - Rp100.000)
- Pemutaran film dokumenter (Rp75.000 - Rp150.000)
(Siti Nahdia Usman & Adam Nur Fadhilah)