Bentrokan dengan Warga di Morowali, 75 TKA Dievakuasi

Kapolres Morowali AKBP Reza Khomeini memberikan keterangan kepada wartawan terkait bentrokan antara warga dan pihak PT Astima Konstruksi (Askon) di Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, Minggu (4/10/2026). ANTARA/HO-Humas Polres Morowali

Bentrokan dengan Warga di Morowali, 75 TKA Dievakuasi

Whisnu Mardiansyah • 5 October 2026 06:43

Morowali: Polisi mengevakuasi 75 tenaga kerja asing (TKA) ke Polda Sulawesi Tengah (Sulteng) setelah bentrokan terjadi antara warga dan perusahaan di Desa Matarape, Kabupaten Morowali. Kericuhan tersebut menyebabkan enam orang mengalami luka akibat senjata tajam.

Kapolres Morowali AKBP Reza Khomeini mengatakan puluhan warga negara asing (WNA) tersebut dibawa ke Polda Sulteng untuk menjalani pemeriksaan. Langkah itu dilakukan untuk mendalami rangkaian peristiwa dan penyebab konflik antara warga dengan pihak perusahaan.

"Kami telah mengevakuasi dan mengamankan 75 WNA. Saat ini telah dibawa ke Polda Sulteng untuk dilakukan pemeriksaan mendalam terkait penyebab konflik antara perusahaan dan warga," kata Reza seperti dilansir Antara, Minggu malam, 4 Oktober 2026.

Reza menyampaikan 75 TKA tersebut juga menjalani proses pendataan bersama pihak Imigrasi. Hingga saat ini, seluruhnya masih ditempatkan dalam status sebagai saksi dalam penanganan perkara tersebut.

Bentrokan berlangsung di Desa Matarape, Kecamatan Sambori Kepulauan, pada Jumat, 2 Oktober 2026. Kericuhan bermula setelah warga menyampaikan protes terhadap dampak lingkungan yang ditimbulkan aktivitas perusahaan di sekitar wilayah tersebut.
 


Salah satu hal yang menjadi keluhan warga ialah debu yang muncul akibat kegiatan pengangkutan material di kawasan sekitar permukiman. Situasi kemudian berkembang menjadi kericuhan antara warga dan pihak perusahaan.

Dalam kejadian tersebut, enam orang mengalami luka akibat terkena senjata tajam. Korban terdiri atas lima warga setempat dan satu warga negara asing.

"Untuk perkembangan korban luka yaitu lima dari warga terkena benda tajam, rata-rata kena sabetan di kaki dan tangan, dan satu dari warga negara asing," kata Reza.

Selain menimbulkan korban luka, bentrokan juga menyebabkan kerusakan terhadap sejumlah kendaraan dan alat berat milik perusahaan. Polisi mencatat lima mobil operasional mengalami kerusakan, sedangkan lima unit ekskavator dibakar massa.


Ilustrasi penganiayaan. Dok. Medcom.id


Polisi menambah pengamanan di sekitar lokasi untuk mencegah terjadinya bentrokan lanjutan. Personel gabungan dikerahkan untuk memantau situasi sekaligus menjaga kondisi keamanan di Desa Matarape.

Pasukan tersebut terdiri atas personel Polres Morowali, Polres Konawe Utara, dan unsur Brigade Mobil (Brimob). Pengamanan dilakukan setelah kericuhan yang melibatkan warga dan pihak perusahaan tersebut.

Kapolres Morowali meminta masyarakat maupun perusahaan tidak mengambil tindakan yang dapat memperkeruh keadaan. Penanganan perkara diserahkan kepada aparat penegak hukum sesuai proses yang berlaku.

"Kami meminta masyarakat menahan diri, jangan mudah terpancing provokasi dan tidak melakukan tindakan main hakim sendiri yang merugikan serta melanggar hukum," katanya.

Polisi masih melakukan pemeriksaan terhadap pihak-pihak terkait untuk mendalami penyebab dan rangkaian bentrokan. Sementara itu, 75 TKA yang telah dievakuasi masih menjalani pemeriksaan dan pendataan bersama pihak Imigrasi.

(Whisnu M)