AS memblokade pelabuhan-pelabuhan Iran sebagai respons atas ditutupnya Selat Hormuz. (Anadolu Agency)
AS Serang Dua Kapal Tanker Iran yang Disebut Melanggar Blokade di Teluk Oman
Willy Haryono • 9 May 2026 09:18
Washington: Pesawat jet tempur Amerika Serikat menyerang dua kapal tanker berbendera Iran yang menurut Komando Pusat AS (CENTCOM) mencoba melanggar blokade laut di Teluk Oman pada Jumat, 8 Mei.
Serangan ini terjadi di saat pemerintahan Presiden Donald Trump sedang menunggu jawaban dari Iran terkait persyaratan terbaru untuk mengakhiri perang.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengecam serangan terbaru dengan mengatakan bahwa Trump tengah melangkah ke dalam rawa baru.
Melalui unggahan di media sosial, Araghchi mempertanyakan motif AS yang selalu memilih petualangan militer yang gegabah setiap kali solusi diplomatik sedang dibahas. "Apakah ini taktik tekanan yang kasar?" tulis Araghchi, seperti dikutip Washington Post, Sabtu, 9 Mei 2026.
Di saat yang sama, Uni Emirat Arab (UEA) melaporkan bahwa sistem pertahanan udaranya telah mencegat dua rudal balistik dan tiga pesawat tanpa awak (drone) yang diluncurkan dari Iran. Sebelumnya pada Kamis, pihak Iran menuduh pesawat tempur UEA terlibat dalam serangan AS terhadap Pulau Qeshm dan kota pesisir Bandar Abbas.
Project Freedom
Dalam rangkaian permusuhan tersebut, militer Iran mengklaim telah menyerang dan merusak tiga kapal perusak AS pada hari Kamis sebagai balasan atas serangan terhadap kapal dagang Iran. Namun, Trump membantah klaim tersebut dan menegaskan bahwa kapal-kapal perusak AS berhasil keluar dari selat tanpa mengalami kerusakan.Teheran menyebut serangan AS pada Rabu dan Kamis sebagai pelanggaran terhadap gencatan senjata sementara yang dideklarasikan sejak awal April. Pemerintahan Trump mencoba memisahkan operasi blokade ini dari misi Project Freedom yang bertujuan membuka jalur transit di selat menggunakan kapal perang dan jet tempur.
Trump telah menghentikan sementara Project Freedom awal pekan ini atas permintaan mitra regional guna memberi ruang bagi negosiasi perdamaian. Meskipun terjadi berbagai serangan militer sepanjang pekan, pejabat militer AS menegaskan bahwa mereka belum melintasi garis pertempuran terbuka dan gencatan senjata masih berlaku. Trump bahkan menyebut baku tembak tersebut sebagai sebuah sepele.
CENTCOM merinci bahwa dua kapal tanker kosong, M/T Sea Star III dan M/T Seveda, dihantam amunisi dari pesawat F/A-18 Super Hornet yang diluncurkan dari kapal induk George H.W. Bush. Dalam pernyataan resminya, CENTCOM menegaskan bahwa blokade yang melarang kapal masuk atau keluar dari pelabuhan Iran tetap berlaku sepenuhnya.
Blokade Maritim AS
Saat ini, lebih dari 70 kapal tanker dilarang mendekati pelabuhan Iran, yang secara total membawa kapasitas 166 juta barel minyak senilai lebih dari 13 miliar dolar AS. AS dan sekutu Teluknya menuntut Iran untuk mencabut larangan lalu lintas di selat yang diklaim berada di bawah kendali militer Teheran.Tawaran perdamaian AS saat ini menuntut agar Teheran mengizinkan lalu lintas bebas di jalur vital tersebut, membersihkan ranjau, dan menghentikan penarikan tol. Namun, proposal tersebut tidak menyinggung penghentian blokade AS, yang merupakan salah satu poin tuntutan utama Iran.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengatakan bahwa jawaban Iran masih ditinjau dan akan diumumkan setelah mencapai kesimpulan. Terkait tenggat waktu yang diberikan AS, Baghaei menegaskan bahwa pihaknya bekerja sesuai agenda sendiri dan tidak mempedulikan tenggat waktu tersebut.
Menlu Araghchi terus menjalin komunikasi internasional dengan mengadakan pembicaraan telepon bersama Menlu Inggris Yvette Cooper dan Menlu Turki Hakan Fidan.
Di sisi lain, rencana Iran membentuk lembaga baru untuk mengontrol lalu lintas di selat ditolak mentah-mentah oleh Marco Rubio. Rubio menilai sistem pemerintahan Iran saat ini sangat retak dan disfungsional, yang menurutnya menjadi penghambat proses negosiasi. (Kelvin Yurcel)
Baca juga: Iran Klaim Rudalnya Paksa Kapal AS Mundur dari Selat Hormuz