Bacaan Lengkap Doa Kafaratul Majelis beserta Keutamaannya

Ilustrasi: Freepik

Bacaan Lengkap Doa Kafaratul Majelis beserta Keutamaannya

Riza Aslam Khaeron • 22 September 2026 07:00

Jakarta: Manusia sebagai makhluk sosial tentunya kerap kali menghadiri sebuah acara pertemuan untuk mempererat silaturahmi. Tak jarang, dalam sebuah pertemuan terdapat perkataan yang kurang bermanfaat, candaan berlebihan, maupun ucapan yang tidak sengaja menyinggung orang lain.

Oleh karena itu, umat Islam dianjurkan untuk mengamalkan doa kafaratul majelis sebagai doa penutup sebelum meninggalkan pertemuan.

Doa kafaratul majelis merupakan salah satu doa yang dianjurkan untuk dibaca ketika sebuah pertemuan atau majelis telah selesai. Doa ini menjadi bentuk permohonan ampun kepada Allah Swt. atas kesalahan atau kekhilafan yang mungkin terjadi selama berada dalam majelis.

Berikut merupakan bacaan lengkap doa kafaratul majelis:
 

Bacaan Doa Kafaratul Majelis

Berikut bacaan doa kafaratul majelis dalam bahasa Arab:



Subhanakallahumma wa bihamdika, asyhadu an la ilaha illa anta, astaghfiruka wa atubu ilaik.

Artinya: "Mahasuci Engkau, ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Engkau. Aku memohon ampun kepada-Mu dan bertobat kepada-Mu."
 

Dalil Doa Kafaratul Majelis

Doa kafaratul majelis mengacu pada sabda Rasulullah saw. yang diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a.

Dalam hadis tersebut dijelaskan mengenai seseorang yang berada dalam sebuah majelis dan kemudian membaca doa tersebut sebelum meninggalkan tempatnya.

Rasulullah saw. bersabda:

"Barang siapa duduk dalam suatu majelis lalu banyak kesalahan di dalamnya, kemudian sebelum berdiri ia membaca doa ini, maka diampuni baginya apa yang terjadi dalam majelis tersebut."
Hadis tersebut diriwayatkan dalam Sunan at-Tirmidzi dan dinilai hasan oleh banyak ulama.
   

Kapan Doa Kafaratul Majelis Dibaca?

Doa kafaratul majelis dibaca ketika suatu majelis atau pertemuan akan berakhir, sebagai permohonan ampun kepada Allah Swt. atas kesalahan kata yang disengaja maupun tidak sengaja saat perkumpulan berlangsung.

Doa ini dapat diamalkan dalam berbagai jenis pertemuan, di antaranya:
  1. Kajian atau Pengajian
    Doa dapat dibaca setelah kegiatan kajian atau pengajian selesai sebagai penutup majelis.
  2. Rapat Organisasi
    Setelah rapat selesai, peserta dapat membaca doa kafaratul majelis sebelum meninggalkan tempat pertemuan.
  3. Pertemuan Keluarga
    Doa ini juga dapat diamalkan setelah berkumpul dan berbincang bersama keluarga.
  4. Diskusi atau Musyawarah
    Setelah menyelesaikan diskusi atau musyawarah, doa dapat dibaca sebagai bentuk permohonan ampun kepada Allah Swt.
  5. Kegiatan Belajar Mengajar
    Doa dapat diamalkan setelah kegiatan belajar bersama selesai.
  6. Pertemuan Lainnya
    Doa kafaratul majelis dapat dibaca setelah berbagai aktivitas yang melibatkan pertemuan atau perkumpulan dengan orang lain.
     

Keutamaan Membaca Doa Kafaratul Majelis

Doa kafaratul majelis tidak hanya menjadi doa penutup acara, tetapi juga memiliki sejumlah makna dan keutamaan. Berikut keutamaan membaca doa kafaratul majelis:
  1. Memohon Ampunan atas Kekhilafan
    Sebagai manusia yang tak luput dari kesalahan, mungkin saja dalam percakapan terdapat perkataan yang kurang tepat, menyinggung orang lain, atau perkataan yang tidak bermanfaat. Dengan membaca doa kafaratul majelis, umat Islam memohon ampun kepada Allah Swt. atas kekhilafan yang terjadi selama berada dalam majelis.
  2. Menjadi Penutup Pertemuan
    Membaca doa sebelum meninggalkan majelis dapat menjadi salah satu bentuk penutup yang baik dalam sebuah pertemuan karena umat Islam diajarkan untuk memulai dan menutup sesuatu dengan doa. Doa tersebut mengingatkan seorang muslim untuk tidak hanya memperhatikan kegiatan yang dilakukan, tetapi juga mengakhirinya dengan mengingat Allah Swt.
  3. Mengajarkan Muhasabah
    Doa kafaratul majelis juga mengandung pesan untuk melakukan introspeksi diri (muhasabah). Setelah mengikuti suatu pertemuan, seseorang dapat mengingat kembali perkataan dan sikap yang telah dilakukan. Hal tersebut dapat menjadi bahan refleksi diri agar kesalahan yang sama tidak kembali dilakukan.
Dengan demikian, aktivitas sehari-hari tidak hanya berakhir dengan meninggalkan tempat pertemuan, tetapi juga ditutup dengan doa.

(Yaumil Tianri Rahmi)

(Riza Aslam Khaeron)