Ilustrasi Anadolu
AS Gempur Iran Lagi, CENTCOM Sebut sebagai Respons atas Serangan Teheran
Fajar Nugraha • 30 July 2026 09:50
Washington: Militer Amerika Serikat (AS) mulai melancarkan gelombang baru serangan terhadap Iran pada Rabu malam, 29 Juli 2026.
Komando Pusat AS (CENTCOM) menyebut operasi tersebut sebagai respons atas dugaan serangan Iran terhadap pasukan AS di Timur Tengah sehari sebelumnya.
"Pasukan AS mulai melancarkan serangan terhadap Iran pada pukul 20.00 hari ini (waktu setempat). Serangan ini merupakan respons kuat terhadap dugaan serangan Iran kemarin terhadap pasukan AS yang ditempatkan di Timur Tengah," kata CENTCOM, dikutip dari TRT World, Kamis, 30 Juli 2026.
Serangan tersebut dilakukan beberapa jam setelah Presiden Donald Trump berjanji akan memberikan respons "sangat keras" menyusul serangan drone terhadap kapal pengangkut gas alam cair (LNG) milik AS di Mesir.
"Kami akan menghantam mereka dengan sangat keras karena sekarang giliran kami untuk menyerang. Mereka tahu itu akan datang," kata Trump.
Media pemerintah Iran melaporkan terjadi sejumlah ledakan di wilayah selatan negara itu, termasuk di Kota Pelabuhan Bandar Abbas dan Pulau Qeshm.
Sebelumnya pada hari yang sama, Trump juga mengatakan AS akan menyerang Iran sebagai respons atas serangan rudal terhadap pangkalan militer AS di Yordania.
"Kami akan menghantam mereka dengan keras. Mereka akan menerima pukulan telak," kata Trump kepada Fox News.
Menurut koresponden Fox News, Trump juga menggunakan kata-kata kasar untuk menegaskan ancamannya. Namun, Gedung Putih belum merilis transkrip resmi pernyataan tersebut.
Trump juga mengatakan kepada Fox News bahwa serangan udara AS dan Arab Saudi terhadap kelompok milisi pro-Iran di Irak dilakukan dengan koordinasi pemerintah Irak.
Sementara itu, pemerintah Irak sebelumnya secara terbuka mengecam serangan tersebut.
Ketegangan antara AS dan Iran meningkat dalam beberapa pekan terakhir setelah Washington melancarkan serangkaian serangan ke Iran, sementara Teheran menyatakan telah membalas dengan menyerang fasilitas dan peralatan militer AS di sejumlah negara di kawasan.