67 Migran Tewas dalam Krisis di Ceuta, Spanyol Perketat Perbatasan

Sedikitnya 67 migran tewas dalam gelombang penyeberangan massal dari Maroko ke Ceuta, wilayah kantong milik Spanyol di Afrika Utara. (Anadolu Agency)

67 Migran Tewas dalam Krisis di Ceuta, Spanyol Perketat Perbatasan

Willy Haryono • 2 August 2026 08:51

Madrid: Sedikitnya 67 migran tewas saat puluhan ribu dari mereka berupaya menyeberang dari Maroko menuju wilayah kantong Spanyol di Ceuta pada 30-31 Juli 2026.

Sebagian korban dilaporkan tenggelam, sementara lainnya meninggal akibat berdesakan saat mencoba melintasi pemecah ombak di perbatasan.

Berdasarkan laporan Associated Press, Al Jazeera, dan ABC News yang mengutip otoritas Spanyol, Minggu, 2 Agustus 2026, insiden tersebut menjadi salah satu krisis migrasi terbesar yang pernah terjadi di Ceuta.

Video yang beredar luas di media sosial memperlihatkan ribuan orang berenang menuju perbatasan Ceuta, memanjat dinding pembatas, lalu berlari beramai-ramai di sepanjang pesisir untuk memasuki wilayah Spanyol.

Kementerian Luar Negeri Spanyol dalam pernyataannya pada Sabtu (1/8) menyebut sekitar 50.000 orang memasuki Ceuta secara tidak sah selama dua hari tersebut.

"Lebih dari 48.000 orang, atau hampir seluruhnya, telah dipulangkan ke Maroko dalam waktu 48 jam," ujar pernyataan kementerian.

Pemerintah Spanyol menegaskan tidak ada migran yang berhasil melanjutkan perjalanan ke daratan utama Spanyol karena pemeriksaan perbatasan tetap diberlakukan sesuai Schengen Borders Code. Operator feri dan maskapai penerbangan juga diwajibkan memverifikasi dokumen perjalanan seluruh penumpang.

Menyusul krisis tersebut, sejumlah negara Eropa menyerukan respons bersama untuk mencegah terulangnya penyeberangan massal yang tidak terkendali.

Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni mengumumkan negaranya untuk sementara menangguhkan kebebasan bergerak dalam rezim Schengen untuk jalur laut dan udara dengan Spanyol serta kembali memberlakukan pemeriksaan perbatasan.

"Ini merupakan langkah luar biasa yang diambil untuk melindungi keamanan nasional dan mencegah dampak terhadap negara kami," tulis Meloni melalui platform X.

Penguatan Perbatasan

Ia menegaskan bahwa menjaga perbatasan berarti melindungi keselamatan warga, memerangi migrasi ilegal, sekaligus menghantam jaringan kriminal penyelundup manusia.

Sementara itu, Perdana Menteri Spanyol Pedro Sánchez mengatakan pemerintah akan memperkuat kehadiran aparat keamanan di Ceuta serta mempercepat proses pemulangan para migran yang masuk secara ilegal.

"Kami akan mempercepat proses repatriasi migran yang masuk secara tidak sah dan terus bekerja sama dengan otoritas Maroko untuk memerangi mafia penyelundupan manusia," ujar Sánchez.

Sebagai bagian dari langkah pengamanan, pemerintah Spanyol juga berencana membangun penghalang fisik di laut guna mempermudah pengawasan perbatasan dan proses repatriasi.

Akibat krisis tersebut, sekitar 80.000 penduduk Ceuta diminta tetap berada di rumah, sementara banyak toko dan aktivitas ekonomi di wilayah itu dihentikan sementara.

Baca juga:  Krisis Migran Ceuta: 22 Negara Eropa Serukan Pertemuan Darurat Menteri UE

(Willy Haryono)