Ilustrasi Anadolu
Penembakan Massal di Kanada, Dua Orang Tewas Termasuk Polisi
Fajar Nugraha • 23 June 2026 08:43
Montreal: Insiden penembakan fatal melanda kota Montreal, Kanada, pada Senin, 22 Juni, hingga menewaskan dua orang, yang salah satunya merupakan anggota kepolisian setempat.
Pihak kepolisian mengonfirmasi bahwa pelaku penembakan juga tewas dalam kejadian tersebut.
Sejauh ini pihak kepolisian belum merilis motif di balik serangan yang terjadi di kawasan Côte-des-Neiges tersebut. Wilayah tempat kejadian perkara (TKP) ini dikenal memiliki deretan restoran kosher serta supermarket yang kerap dikunjungi oleh komunitas besar Yahudi di Montreal, di mana areanya mencakup pusat perbelanjaan, pertokoan, dan gedung pemukiman.
Pihak Kepolisian Montreal menyampaikan rasa duka cita yang mendalam atas gugurnya salah satu personel mereka saat sedang bertugas di lapangan melalui rilis resmi di platform media sosial X.
"Dengan rasa sedih yang mendalam, kami mengonfirmasi kematian salah satu petugas polisi kami dalam tugas," bunyi pernyataan resmi Kepolisian Montreal, seperti dikutip CBS News, pada Selasa, 23 Juni 2026.
Selain itu, polisi mengumumkan bahwa seorang warga sipil dan pelaku penembakan tewas di lokasi, sembari mengimbau warga sekitar untuk menjauhi area tersebut. Petugas kepolisian yang gugur tersebut kemudian diidentifikasi bernama Mohamed Lamine Benredouane yang berusia 34 tahun.
Berdasarkan data kepolisian, Benredouane telah bergabung dan mengabdi di Layanan Kepolisian Montreal sejak tahun 2021 silam. Kepala Layanan Kepolisian Montreal, Fady Dagher, menyampaikan penghormatan terakhirnya kepada mendiang dengan menyebutnya sebagai sosok polisi yang sangat luar biasa dan penuh semangat dalam menjalankan tugasnya.
"Dia adalah seorang polisi yang sangat, sangat, sangat hebat dan sangat bersemangat," ujar Dagher kepada awak media.
Dagher juga mengatakan bahwa hari kejadian merupakan momen yang sangat kelam bagi institusinya, mengingat ini adalah kasus gugurnya personel aktif pertama bagi agensi kepolisian SPVM sejak tahun 2002.
"Ini hari yang sangat, sangat menyedihkan. Ini adalah sebuah mimpi buruk," ungkap Dagher emosional.
Pihak kepolisian merinci bahwa kronologi peristiwa penembakan tersebut bermula sekitar pukul 11.30 waktu setempat. Pasukan kepolisian langsung mengepung lokasi kejadian dengan didukung oleh pantauan helikopter taktis dari udara.
Dagher menjelaskan kepada wartawan bahwa dirinya belum mengetahui identitas resmi dari warga sipil yang tewas, maupun statusnya apakah korban merupakan bagian dari komunitas Yahudi atau bukan. Ia juga belum bisa memastikan pihak mana yang menembak warga sipil tersebut, namun ia memastikan pelaku langsung dilumpuhkan di tempat.
"Tersangka langsung ditembak saat itu juga. Namun untuk orang yang satunya lagi, saya belum memiliki rinciannya," jelas Dagher.
Lembaga penyiaran publik Radio Canada melaporkan bahwa seorang petugas polisi wanita lainnya juga mengalami luka tembak yang sangat serius dalam insiden ini. "Kami semua berada di belakangnya," tegas Dagher memberikan dukungan moril bagi personelnya yang terluka dalam konferensi pers Senin sore.
Lebih lanjut, Dagher memastikan situasi saat ini sudah terkendali dan tidak ada ancaman lanjutan bagi keselamatan masyarakat sekitar. Ia juga mengaku belum memiliki data terkait spekulasi apakah pelaku atau pihak lain sengaja menghubungi layanan darurat 911 untuk menjebak polisi ke dalam sebuah jebakan penembakan.
"Saya tidak berpikir polisi menjadi target awal, namun mungkin kita akan melihat apa yang akan diungkap oleh hasil penyelidikan nanti," urai Dagher.
Pusat Urusan Israel dan Yahudi (CIJA), yang merupakan salah satu kelompok masyarakat sipil terkemuka di Kanada, mengatakan bahwa pihaknya tengah memantau ketat perkembangan situasi keamanan di lokasi kejadian. "Sembari menunggu rincian lebih lanjut mengenai sifat dari insiden yang mengerikan ini, kami mendesak anggota komunitas untuk tetap menerapkan kewaspadaan," tulis pernyataan resmi CIJA.
Wakil Perdana Menteri Quebec, Christine Frechette, turut menyampaikan belasungkawa dan mengaku sangat terpukul oleh tragedi penembakan massal tersebut.
"Sangat penting untuk membiarkan pihak berwenang melakukan pekerjaan mereka dan menghindari spekulasi," pungkas Frechette meminta publik menahan diri dari menyebarkan asumsi liar.
(Kelvin Yurcel)