Ilustrasi pemantauan hilal. Foto: Dok. Metrotvnews.com.
Sidang Isbat Iduladha 2026, Simak Sejarah dan Perkembangan Kriteria Hilal MABIMS
Muhamad Marup • 17 May 2026 15:00
Jakarta: Sidang Isbat Iduladha 2026 digler Minggu, 17 Mei 2026. Sidang isbat menjadi tahapan penting karena menentukan secara resmi awal bulan Zulhijah 1447 Hijriah.
Secara perhitungan astronomi atau hisab Iduladha 2026 diperkirakan jatuh pada Rabu, 27 Mei 2026. Meski demikian, msyarakat tetap menunggu keputusan resmi pemerintah melalui sidang isbat yang diselenggarakan Kementerian Agama (Kemenag) Republik Indonesia.
Salah satu penentu dalam memutuskan awal bulan Zulhijah adalah kriteria hilal MABIMS (Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura). Dalam perjalanannya, kriteria hilal MABIMS mengalami perubahan.
Perkembangan kriteria MABIMS
Mengutip laman resmi Kementerian Agama, sejak 1992, negara-negara anggota MABIMS menggunakan kriteria imkanur rukyat dengan parameter 2–3–8 sebagai acuan dalam menilai visibilitas hilal. Acuan tersebut mencakup tinggi hilal minimal 2 derajat, elongasi 3 derajat, serta umur bulan minimal 8 jam setelah ijtimak.Seiring berjalannya waktu, perkembangan data astronomi menunjukkan adanya keterbatasan pada kriteria tersebut. Pada posisi hilal yang masih rendah, dengan elongasi kecil, sabit bulan sangat tipis sehingga sulit diamati secara kasat mata.
Hasil kajian tersebut kemudian mengerucut pada kriteria baru yang dinilai lebih realistis secara astronomis, yakni tinggi hilal minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat. Parameter ini didasarkan pada kompilasi data rukyat global yang menunjukkan bahwa ketebalan sabit bulan dan posisi hilal dari ufuk menjadi faktor utama dalam menentukan kemungkinan terlihatnya hilal.
Di Indonesia, penerapan kriteria baru tersebut mulai digunakan sejak 2022, setelah melalui berbagai forum akademik dan pembahasan bersama para ahli falak nasional. Proses ini melibatkan unsur pemerintah, organisasi kemasyarakatan Islam, serta kalangan akademisi.
Tahapan Sidang Isbat
Sidang isbat biasanya berlangsung dalam beberapa tahapan penting sebelum pemerintah menetapkan awal Zulhijah.1. Seminar Posisi Hilal
Tahap awal dimulai dengan pemaparan posisi hilal oleh Tim Hisab Rukyat Kemenag. Dalam sesi ini, para ahli akan menjelaskan sejumlah data astronomi seperti:
- Tinggi hilal
- Elongasi bulan
- Posisi bulan saat matahari terbenam
- Potensi visibilitas hilal
- Paparan ini umumnya terbuka untuk media dan masyarakat sebagai bentuk transparansi informasi.
Pada hari yang sama, proses pemantauan hilal dilakukan di sejumlah titik pengamatan dari Aceh hingga Papua. Metode rukyat menjadi bagian penting karena Indonesia menggunakan pendekatan gabungan antara hisab dan rukyat dalam menentukan awal bulan Hijriah.
Ilustrasi pemantauan hilal. Foto: Media Indonesia (MI)/Ramdani.
Dalam buku Pengantar Ilmu Falak karya A. Kadir disebutkan bahwa rukyat dilakukan untuk memastikan keberadaan hilal yang sebelumnya telah dihitung secara astronomi.3. Sidang Penetapan
Setelah seluruh laporan rukyat diterima, Menteri Agama memimpin sidang tertutup bersama peserta sidang untuk menetapkan keputusan resmi. Forum tersebut mempertimbangkan beberapa aspek, di antaranya:
- Data hisab astronomi
- Hasil pengamatan hilal
- Kriteria visibilitas hilal MABIMS