Trump Sebut Proposal Balasan Iran 'Sampah' yang Tidak Dapat Diterima

Presiden AS Donald Trump. (EFE)

Trump Sebut Proposal Balasan Iran 'Sampah' yang Tidak Dapat Diterima

Willy Haryono • 12 May 2026 09:13

Washington: Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan bahwa gencatan senjata antara AS dan Iran dalam kondisi kritis sehingga harus dipasangi alat life-support, serta menyebut proposal balasan dari Teheran sebagai sebuah "sampah."

Pernyataan keras ini dilontarkan setelah Trump menolak proposal balasan terbaru dari Iran, yang memicu Teheran untuk menyiagakan militernya guna mengantisipasi segala bentuk agresi.

Situasi terkini langsung memicu lonjakan harga minyak dunia akibat kekhawatiran akan krisis energi yang berkepanjangan. Reaksi keras Trump terhadap posisi Iran telah memupus harapan akan tercapainya kesepakatan cepat untuk membuka kembali Selat Hormuz bagi pelayaran komersial.

Setelah melabeli proposal Iran sebagai "sampah" dan sebagai sesuatu yang "sama sekali tidak dapat diterima," Trump menegaskan bahwa AS akan meraih kemenangan mutlak atas Iran. Ia menyebut gencatan senjata yang sempat menghentikan pertempuran di Teluk selama sebulan terakhir kini berada di ambang kehancuran.

"Gencatan senjata ini sedang dalam kondisi kritis yang sangat parah, ibarat seorang dokter yang masuk ke ruangan dan berkata bahwa orang yang Anda cintai hanya memiliki peluang hidup sekitar satu persen," ujar Trump kepada wartawan, seperti dikutip France 24, Selasa, 12 Mei 2026.

Ia menambahkan bahwa para pemimpin Iran adalah "orang-orang yang sangat tidak terhormat,"

"Sampah yang mereka kirimkan kepada kami itu - saya bahkan tidak selesai membacanya," sebut Trump, merujuk pada proposal balasan Iran.

Kesiagaan Iran

Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menanggapi pernyataan tersebut dengan menegaskan bahwa negaranya siap menghadapi segala kemungkinan.

Melalui unggahan di media sosial X, ia mengatakan angkatan bersenjata Iran siap memberikan pelajaran atas setiap agresi. Menurutnya, strategi dan keputusan yang buruk akan selalu berujung pada hasil yang buruk.

Perkembangan ini mengguncang pasar energi global yang sebelumnya sudah kacau akibat perang serta blokade ganda yang diterapkan Iran dan AS di Selat Hormuz. CEO raksasa minyak Saudi Aramco, Amin Nasser, mengatakan bahwa guncangan pasokan energi saat ini adalah yang terbesar yang pernah dialami dunia.

Ia memperkirakan jika Selat Hormuz dibuka hari ini, pasar masih membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk kembali stabil, dan jika pembukaan tertunda beberapa minggu lagi, normalisasi baru akan tercapai pada 2027.

Selain masalah energi, dunia juga terancam krisis pupuk yang dapat memicu kelaparan bagi puluhan juta orang. Direktur Eksekutif Kantor PBB untuk Layanan Proyek (UNOPS), Jorge Moreira da Silva, memperingatkan bahwa hanya tersisa waktu beberapa minggu untuk mencegah krisis kemanusiaan masif yang dapat memaksa 45 juta orang tambahan jatuh ke jurang kelaparan.

Trump tidak merinci poin yang mendasari penolakannya, namun Kementerian Luar Negeri Iran mengatakan bahwa mereka menuntut penghentian blokade laut AS serta penghentian serangan Israel terhadap Hizbullah di Lebanon.

Juru bicara kementerian, Esmaeil Baqaei, menegaskan Iran juga menuntut pelepasan aset rakyat Iran yang selama bertahun-tahun dibekukan secara tidak adil di bank-bank asing. Ia menekankan bahwa Teheran hanya menuntut hak-hak legal mereka, bukan konsesi tambahan.

Isu Nuklir dan Selat Hormuz

Pencabutan sanksi internasional dinilai akan mengurangi pengaruh Washington dalam upaya menghentikan pengayaan nuklir Iran. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sendiri bersikeras bahwa konflik tidak akan berakhir sampai fasilitas nuklir Iran dihancurkan.

Namun, laporan The Wall Street Journal menyebutkan proposal Iran menyertakan kemungkinan pengenceran sebagian uranium yang diperkaya tinggi untuk ditransfer ke negara ketiga. Ketidakpastian resolusi ini meningkatkan kekhawatiran di Selat Hormuz, di mana Iran mulai menerapkan mekanisme pembayaran tol bagi kapal yang melintas.

Washington menegaskan kontrol Iran atas jalur air internasional tersebut tidak dapat diterima. Trump mengatakan sedang mempertimbangkan untuk menghidupkan kembali operasi pengawalan kapal tanker di Hormuz, meskipun Arab Saudi sebelumnya dikabarkan melarang penggunaan wilayah udara dan pangkalannya untuk operasi tersebut karena khawatir akan eskalasi.

Di sisi lain, Angkatan Laut AS dalam blokadenya dilaporkan beberapa kali melepaskan tembakan untuk melumpuhkan atau mengalihkan rute kapal.

Menanggapi tindakan tersebut, juru bicara komisi keamanan nasional parlemen Iran memperingatkan bahwa kesabaran Teheran telah habis. Segala serangan terhadap kapal Iran akan memicu respons kuat dan menentukan terhadap kapal serta pangkalan militer Amerika Serikat. (Kelvin Yurcel)

Baca juga:  Iran Tegaskan Dunia Tidak Seharusnya Didominasi Satu Kekuatan Sepihak

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Willy Haryono)