Polisi Israel Dikecam usai Halangi Jemaah ke Gereja Yerusalem saat Minggu Palma

Polisi Israel mencegah umat Nasrani hadiri Minggu Palma di Gereja Suci Yerusalem. Foto: Anadolu

Polisi Israel Dikecam usai Halangi Jemaah ke Gereja Yerusalem saat Minggu Palma

Fajar Nugraha • 30 March 2026 17:41

Yerusalem: Gelombang kritik internasional meningkat tajam setelah pihak kepolisian Israel menghalangi Patriark Latin Yerusalem untuk memasuki Gereja Makam Kudus guna memimpin Misa Minggu Palma.

Insiden ini memicu ketegangan diplomatik dan protes keras dari berbagai pemimpin dunia.

Dalam pernyataan bersama, Patriarkat Latin Yerusalem dan Kustodi Tanah Suci mengecam tindakan tersebut sebagai sebuah preseden serius yang melanggar prinsip kebebasan beribadah.

“Keputusan tersebut merupakan penyimpangan dari prinsip-prinsip rasionalitas, kebebasan beribadah, dan penghormatan terhadap status quo yang mengatur situs-situs suci,” tulis pernyataan bersama tersebut, seperti dikutip dari TRT World, Senin 30 Maret 2026.

Pihak otoritas gereja juga menyampaikan penyesalan mendalam kepada umat Kristen di seluruh dunia, mengingat gangguan ini terjadi pada salah satu hari paling suci dalam kalender liturgi Kristen.

Mereka menggambarkan tindakan kepolisian tersebut sebagai hal yang “sangat tidak masuk akal dan sama sekali tidak pantas.”

Aksi pengadangan tersebut memicu reaksi keras dari sejumlah negara Eropa dan Timur Tengah. Perdana Menteri Italia, Giorgia Meloni, secara tegas menyebut insiden itu sebagai sebuah penghinaan terhadap umat beragama di seluruh dunia.

Menteri Luar Negeri Italia, Antonio Tajani, bahkan mengambil langkah diplomatik formal dengan memanggil Duta Besar Israel di Roma sebagai bentuk protes.

“Langkah tersebut tidak dapat diterima. Italia menegaskan kembali komitmen penuh untuk melindungi kebebasan beragama,” tegas Tajani.

Sama dengan Italia, Presiden Prancis Emmanuel Macron menyatakan dukungannya bagi umat Kristen di Tanah Suci. Ia menilai tindakan tersebut mencerminkan tren peningkatan pelanggaran terhadap status hukum dan historis situs-situs keagamaan di Yerusalem.

Kementerian Luar Negeri Yordania dan Lebanon turut mengeluarkan pernyataan serupa, menyebut aksi tersebut sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional dan hak akses tanpa hambatan ke tempat ibadah.

Kementerian Luar Negeri Palestina mengklasifikasikan tindakan kepolisian Israel sebagai "kejahatan" yang berdampak luas bagi komunitas Kristen dan Muslim. Mereka menyerukan adanya intervensi internasional yang mendesak untuk menjaga integritas wilayah suci tersebut.

Menghadapi tekanan internasional yang kian masif dan reaksi global yang semakin memanas, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu akhirnya mengambil langkah mundur.

“Perdana Menteri Benjamin Netanyahu telah memerintahkan otoritas terkait untuk segera memberikan akses kepada Patriark menuju Gereja Makam Kudus,” sebut laporan resmi pemerintah tak lama setelah tekanan diplomatik menguat.

Situasi di sekitar Gereja Makam Kudus dilaporkan mulai kondusif setelah perintah tersebut dikeluarkan, meskipun para pemimpin agama menyerukan agar kejadian serupa tidak terulang kembali demi menjaga stabilitas dan perdamaian di Yerusalem.


(Hilda Kartika Barends)

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Fajar Nugraha)