Ilustrasi. Foto: Freepik.
Filipina Longgarkan Standar BBM Sementara akibat Krisis Energi Global
Diva Rabiah • 23 March 2026 12:46
Manila: Pemerintah Filipina mengizinkan penggunaan sementara Bahan Bakar Minyak (BBM) dengan standar Euro II untuk menjaga pasokan energi di tengah dampak perang Israel-Iran.
Melansir Channel News Asia, Senin, 23 Maret 2026, kebijakan ini berlaku terbatas bagi kendaraan produksi 2015 ke bawah, jeepney tradisional (angkutan umum Filipina), pembangkit listrik, generator, serta sektor maritim, dan pelayaran. Kelompok tersebut dapat menggunakan produk minyak bumi yang memenuhi standar Euro II.
Departemen Energi Filipina (DOE) menyatakan langkah tersebut bertujuan menjaga pasokan BBM tetap berkelanjutan, memadai, mudah diakses, sekaligus memberikan fleksibilitas terbatas bagi sektor-sektor yang terdampak.
DOE juga mewajibkan perusahaan minyak yang menyediakan bahan bakar jenis Euro II memisahkan Euro IV dalam proses penyimpanan, distribusi, hingga penjualan.
Sejatinya, Filipina telah beralih dari bahan bakar Euro II ke Euro IV yang lebih bersih sejak 2016. Saat ini, standar Euro IV tetap berlaku dengan kandungan sulfur 50 parts per million (ppm), lebih rendah 10 kali dibandingkan Euro II yang mencapai 500 ppm.
Sebelumnya pada minggu lalu, ribuan sopir jeepney turun ke jalan di berbagai wilayah untuk memprotes kenaikan harga solar yang mencapai lebih dari dua kali lipat. Lonjakan dipicu kenaikan harga minyak global akibat perang antara AS dan Israel melawan Iran.
.jpg)
Ilustrasi. Foto: Metrotvnews.com
Diplomasi Energi Filipina
Seperti negara Asia Tenggara lainnya, Filipina mengambil sejumlah langkah untuk menekan dampak kenaikan biaya, antara lain mempersingkat hari kerja dan memberikan subsidi bahan bakar.
Parlemen juga memberikan kewenangan darurat kepada presiden untuk menangguhkan atau menurunkan pajak bahan bakar.
Presiden Filipina Ferdinand Marcos menyatakan pada Minggu, 22 Maret 2026, Filipina sedang menjajaki kerja sama pasokan energi dengan India, Tiongkok, Jepang, Korea Selatan, Thailand, dan Brunei.
Filipina yang sangat bergantung pada pasokan minyak dari kawasan Teluk juga berencana mengimpor minyak dari Rusia untuk pertama kalinya dalam lima tahun terakhir.