Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf. (Anadolu Agency)
Iran Tolak Ikuti Putaran Baru Negosiasi Langsung dengan AS di Pakistan
Willy Haryono • 20 April 2026 19:16
Teheran: Iran menolak mengikuti putaran baru negosiasi langsung dengan Amerika Serikat (AS) di Pakistan, dengan menyebut tuntutan Washington tidak realistis dan tindakannya telah melanggar gencatan senjata.
Penolakan tersebut dilaporkan kantor berita resmi IRNA dan dikutip Gulf Times, Senin, 20 April 2026, yang menyebut Iran juga tidak akan mengirim delegasi ke Islamabad selama blokade laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran masih berlangsung.
Kantor berita Tasnim juga menyatakan belum ada keputusan untuk berpartisipasi dalam pembicaraan lanjutan.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump meningkatkan tekanan dengan ancaman keras terhadap Teheran.
“Kami menawarkan kesepakatan yang sangat adil dan masuk akal. Jika mereka tidak menerimanya, Amerika Serikat akan menghancurkan setiap pembangkit listrik dan setiap jembatan di Iran,” tulis Trump di platform Truth Social.
Sebelumnya, Trump juga mengklaim militer AS telah mengambil alih kapal kargo berbendera Iran setelah melumpuhkan ruang mesinnya. Klaim tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.
Gedung Putih belum memberikan tanggapan resmi atas penolakan Iran tersebut.
Negosiasi dan Peran Pakistan
Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif mengatakan telah berbicara dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengenai konflik di kawasan Teluk. Dalam pernyataannya, Sharif menegaskan komitmen Pakistan untuk terus berperan sebagai fasilitator perdamaian dan stabilitas regional.Ia juga menyebut telah berdiskusi dengan sejumlah pemimpin regional, termasuk dari Arab Saudi, Qatar, dan Turki.
Trump sebelumnya menyatakan bahwa utusan AS akan tiba di Pakistan untuk melanjutkan perundingan, meski waktu yang tersedia terbatas sebelum gencatan senjata dua pekan berakhir pada Rabu.
Perbedaan Besar dan Ketegangan di Selat Hormuz
Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf sebelumnya mengakui adanya kemajuan dalam putaran awal negosiasi, namun menegaskan kedua pihak masih memiliki perbedaan besar, terutama terkait program nuklir dan Selat Hormuz.Washington dilaporkan mengusulkan penghentian aktivitas nuklir Iran selama 20 tahun, sementara Teheran mengajukan durasi lebih pendek antara tiga hingga lima tahun.
Situasi di Selat Hormuz juga tetap tegang. Jalur pelayaran strategis itu dilaporkan masih tertutup, dengan data pelayaran menunjukkan aktivitas kapal hampir terhenti.
Laporan mengenai penembakan terhadap kapal di kawasan tersebut juga belum dapat diverifikasi secara independen.
Dampak Global dan Situasi di Lapangan
Ketegangan terbaru kembali memicu kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi global. Analis energi Amrita Sen dari Energy Aspects memperingatkan potensi volatilitas pasar setelah tindakan Iran pada akhir pekan menyoroti rapuhnya situasi saat ini.Konflik yang telah memasuki pekan kedelapan ini disebut menjadi salah satu guncangan terbesar terhadap pasokan energi global.
Di Islamabad, persiapan keamanan meningkat menjelang kemungkinan kedatangan delegasi AS. Dua pesawat kargo militer AS dilaporkan mendarat di pangkalan udara Nur Khan, sementara otoritas setempat memperketat pengamanan di sekitar lokasi perundingan.
Baca juga: Pakistan Isyaratkan Iran Akan Hadiri Putaran Kedua Perundingan Damai dengan AS