Netanyahu Temui Trump di Gedung Putih, Bahas Iran hingga Gaza

Pertemuan Benjamin Netanyahu dan Presiden AS Donald Trump akan turut membahas Iran. Foto: Anadolu

Netanyahu Temui Trump di Gedung Putih, Bahas Iran hingga Gaza

Fajar Nugraha • 28 July 2026 19:42

Washington: Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dijadwalkan bertemu Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump di Gedung Putih pada Selasa, 28 Juli 2026, untuk pertama kalinya sejak perang Iran dimulai.

Pertemuan itu berlangsung setelah hubungan keduanya sempat memanas akibat perbedaan pandangan terkait konflik tersebut.

Pertemuan ini menjadi yang kedelapan sejak Trump kembali menjabat sebagai presiden tahun lalu sekaligus pertemuan tatap muka pertama sejak perang pecah. Agenda utama diperkirakan mencakup perang Iran, implementasi kesepakatan yang dimediasi Amerika Serikat antara Israel dan Lebanon, serta situasi di Gaza.

Sebelum bertolak dari Israel pada Senin, 27 Juli 2026, Netanyahu mengatakan Iran akan menjadi pembahasan utama dalam pertemuan tersebut.

“Ini adalah sebuah kehormatan besar, tetapi juga tanggung jawab yang besar. Kami akan membahas seluruh agenda, terutama Iran. Tentu saja tujuan kami adalah menjaga keamanan sekaligus memperluas lingkaran perdamaian di kawasan,” ujarnya, dikutip dari Channel News Asia, Selasa, 28 Juli 2026.

Hubungan Trump dan Netanyahu sempat mencapai titik terendah pada April ketika keduanya berbeda pendapat mengenai perundingan gencatan senjata. Trump bahkan pernah menyebut Netanyahu sebagai sosok yang “sangat sulit”, sementara Netanyahu menggambarkan perbedaan itu hanya sebagai “ketidaksepakatan taktis” dan menegaskan keduanya tetap memiliki tujuan yang sama dalam perang.

Selain Iran, kedua pemimpin diperkirakan membahas pelaksanaan kerangka kesepakatan antara Israel dan Lebanon yang ditandatangani pada Juni, meski implementasinya di lapangan masih menghadapi berbagai kendala. Pembicaraan juga diperkirakan menyentuh kondisi Gaza, di tengah mandeknya upaya diplomatik untuk memulai kembali rekonstruksi wilayah Palestina tersebut.

Hampir tiga tahun setelah perang Israel dan Hamas pecah, kondisi kemanusiaan di Gaza masih memburuk. Israel juga terus melancarkan serangan yang menurut militernya menyasar kelompok bersenjata.

Tidak Ada Keretakan Hubungan

Pakar hubungan internasional dari Hebrew University of Jerusalem, Yonatan Freeman, menilai kunjungan Netanyahu bertujuan menunjukkan bahwa hubungan Amerika Serikat dan Israel tetap solid.

“Saya pikir tujuan utamanya adalah menunjukkan kepada dunia, Iran, Lebanon, dan pihak lain bahwa tidak ada keretakan atau perselisihan besar antara Amerika Serikat dan Israel,” katanya kepada AFP.

Freeman menilai persamaan pandangan Trump dan Netanyahu lebih besar daripada perbedaannya. Menurutnya, perbedaan hanya berkaitan dengan cara, waktu, intensitas, dan tujuan jangka pendek operasi militer, bukan tujuan akhir perang.

Ia juga memperkirakan Trump akan lebih memprioritaskan pembahasan mengenai Iran dan perluasan Abraham Accords dibandingkan Gaza. Abraham Accords merupakan serangkaian perjanjian normalisasi hubungan yang dimediasi Amerika Serikat pada masa jabatan pertama Trump, yang membuka hubungan diplomatik resmi Israel dengan Uni Emirat Arab, Bahrain, dan kemudian Maroko.

Meski demikian, sejumlah pengamat menilai pembicaraan juga dapat mencakup kemungkinan pengurangan kehadiran militer Israel di Lebanon, Suriah, atau Gaza.

Kunjungan Netanyahu berlangsung beberapa bulan menjelang pemilu nasional Israel, saat ia bersiap mencalonkan diri kembali di tengah survei yang menunjukkan tingkat dukungannya masih tertinggal akibat kritik terhadap kegagalan pemerintah mencegah serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 yang memicu perang Gaza.

(Keysa Qanita)

(Fajar Nugraha)