Kelompok Hamas di hadapan ambulans di Gaza. Foto: Anadolu
Direktur RS Gaza Ditahan di Sel Isolasi Israel dengan Kondisi Memprihatinkan
8 June 2026 16:14
Tel Aviv: Direktur Rumah Sakit Kamal Adwan di Gaza utara, Dr. Hussam Abu Safiya, saat ini tengah ditahan di sel isolasi Israel dengan kondisi yang sangat memprihatinkan.
Hal tersebut disampaikan oleh seorang pengacara asal Palestina yang melaporkan pada Minggu, 7 Juni 2026. Pengacara bernama Nasser Odeh tersebut menyampaikan kepada Anadolu bahwa Dr. Abu Safiya mengidap berbagai penyakit kronis.
Akibatnya, ia sangat membutuhkan pasokan obat-obatan serta perawatan medis secara rutin, namun hak kesehatannya tersebut justru dicabut oleh pihak otoritas belakangan ini.
"Abu Safiya tidak menerima obat-obatan esensial yang dia butuhkan, dan kami tidak memiliki komunikasi atau pembaruan apa pun mengenai kondisinya," kata Odeh, seperti dikutip Anadolu, pada Senin, 8 Juni 2026.
Odeh menjelaskan bahwa dirinya sempat menjenguk dokter spesialis asal Palestina tersebut pada 26 Mei lalu, sebelum Abu Safiya akhirnya dipindahkan secara sepihak ke sel isolasi di Penjara Nafha yang terletak di wilayah Israel selatan pada 3 June kemarin.
Sebagai informasi, Dr. Abu Safiya ditangkap oleh pasukan Israel pada akhir tahun 2024 silam dalam sebuah aksi penggerebekan militer di Rumah Sakit Kamal Adwan di Gaza utara, di tengah berkecamuknya perang genosida Israel di wilayah kantong tersebut.
Dalam kunjungan terakhirnya, Odeh mengungkapkan bahwa kondisi Abu Safiya tampak sangat memprihatinkan dengan tangan dan kaki yang diborgol. Proses pertemuan tersebut juga berlangsung di dalam sebuah ruangan khusus yang diawasi ketat oleh kamera pengintai.
"Kami berbicara melalui telepon dari balik pembatas kaca, dengan penjaga yang berdiri di samping Abu Safiya dan saya,” ujar Odeh menggambarkan jalannya pertemuan.
Ia menambahkan bahwa durasi kunjungan tersebut berjalan sangat singkat. Situasi itu membuat Abu Safiya kesulitan untuk menceritakan kondisi maupun masalah pribadinya secara leluasa karena adanya ketakutan akan tindakan balasan atau hukuman dari para sipir yang berjaga di lokasi.
Berdasarkan data statistik otoritas Palestina, agresi militer Israel di Gaza sejak Oktober 2023 lalu telah menewaskan lebih dari 73.000 warga Palestina dan melukai lebih dari 173.000 orang, di mana mayoritas korban merupakan kelompok perempuan dan anak-anak.
Meskipun kesepakatan gencatan senjata telah resmi diberlakukan sejak 10 Oktober 2025, data terbaru dari Kementerian Kesehatan Gaza menunjukkan militer Israel tetap membunuh sedikitnya 961 warga Palestina dan melukai lebih dari 3.000 orang lainnya dalam rangkaian serangan harian yang terus terjadi hingga saat ini.
(Kelvin Yurcel)