Presiden AS Donald Trump. (Anadolu Agency)
Trump Disebut Makin Serius Pertimbangkan Opsi Militer terhadap Kuba
Muhammad Reyhansyah • 19 May 2026 15:13
Washington: Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dilaporkan semakin serius mempertimbangkan opsi perang terhadap Kuba setelah kampanye tekanan ekonomi Washington terhadap negara tersebut gagal menghasilkan perubahan yang diinginkan.
Dua sumber anonim mengatakan kepada Politico bahwa Trump dan para pejabat senior pemerintahannya semakin frustrasi karena kepemimpinan Kuba menolak melakukan perubahan yang dituntut Washington.
"Suasananya jelas telah berubah," kata salah satu sumber yang mengetahui pembahasan internal tersebut kepada Politico, seperti dikutip dari Anadolu, Selasa, 19 Mei 2026.
Menurut sumber itu, strategi awal AS adalah meyakini kepemimpinan Kuba berada dalam posisi lemah sehingga kombinasi penegakan sanksi yang lebih ketat, blokade minyak, serta kemenangan militer AS di Venezuela dan Iran akan membuat Havana bersedia mencapai kesepakatan.
Namun situasi di Iran disebut tidak berjalan sesuai rencana dan Kuba dinilai jauh lebih tangguh dari perkiraan awal.
"Karena itu, aksi militer kini menjadi opsi yang dipertimbangkan dengan cara yang sebelumnya tidak terjadi," kata sumber tersebut.
Dampak Blokade Energi AS
Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel pada Kamis mengatakan pencabutan "blokade" energi oleh Washington akan menjadi cara yang jauh lebih sederhana untuk membantu Kuba dibanding paket bantuan senilai USD100 juta yang ditawarkan Amerika Serikat."Kerusakan dapat diatasi dengan cara yang jauh lebih mudah dan cepat melalui pencabutan atau pelonggaran blokade, karena sudah diketahui bahwa situasi kemanusiaan ini dihitung dan diciptakan secara sengaja," tulis Diaz-Canel di platform X.
Ia juga mengatakan rakyat Kuba tidak akan menunjukkan sikap tidak tahu berterima kasih kepada Washington meski tawaran bantuan tersebut dianggap paradoksal di tengah tekanan yang diberikan AS terhadap Kuba.
Kuba pada Rabu mengatakan negara itu telah sepenuhnya kehabisan bahan bakar minyak dan diesel serta menyebut jaringan listrik nasional berada dalam kondisi kritis tanpa cadangan energi.
Pernyataan tersebut muncul sehari setelah Departemen Luar Negeri AS memperbarui tawaran bantuan kemanusiaan langsung senilai USD100 juta bagi Kuba sambil mendesak reformasi dan mengkritik pemerintahan komunis Havana.
Kuba kini menghadapi krisis bahan bakar setelah Trump memutuskan memberlakukan embargo minyak pada 29 Januari.
Perintah tersebut secara eksplisit mengancam penerapan tarif AS terhadap negara mana pun yang secara langsung maupun tidak langsung menjual atau memasok minyak ke Kuba.
Trump juga berulang kali mengatakan Kuba akan menjadi target berikutnya setelah operasi militer terhadap Iran selesai dan mengklaim pemerintahan komunis di negara itu akan segera runtuh.
Baca juga: Dituduh AS Punya 300 Drone Militer, Kuba Tegaskan Hak Membela Diri