PBNU: Iduladha Jadi Pengingat Kemanusiaan di Tengah Ketidakpastian Global

PBNU: Iduladha Jadi Pengingat Kemanusiaan di Tengah Dunia yang Terluka

PBNU: Iduladha Jadi Pengingat Kemanusiaan di Tengah Ketidakpastian Global

Anggi Tondi Martaon • 24 May 2026 11:11

Jakarta: Wakil Sekretaris Jenderal PBNU, KH. Macshoem Faqih, menilai Iduladha 1447 Hijriah hadir di tengah situasi dunia yang penuh ketegangan akibat perang, krisis kemanusiaan, dan tekanan ekonomi global. 

Menurut dia, konflik yang terus memanas antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran telah menciptakan ketidakpastian dunia yang berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat, termasuk naiknya harga kebutuhan pokok dan melemahnya rasa aman sosial.

“Di saat gema takbir berkumandang, dunia justru sedang dipenuhi kabar tentang perang, ketegangan politik, dan krisis kemanusiaan yang belum juga reda,” ujar pria yang akrab disapa Gus Macshoem itu melalui keterangan tertulis, Minggu, 24 Mei 2026.

Majelis Masyayikh Pondok Pesantren Langitan, Widang, Tuban, itu mengatakan, Iduladha bukan sekadar perayaan tahunan atau ritual penyembelihan hewan kurban. Melainkan momentum untuk menghidupkan kembali nilai kesabaran, ketaatan, dan pengorbanan di tengah dunia yang semakin individualistis.

Gus Macshoem menjelaskan, kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS mengandung pesan universal. Yakni, bagaimana manusia menjaga kemanusiaannya ketika menghadapi ujian hidup yang berat.

“Kesabaran yang diajarkan Idul Adha bukan menyerah tanpa usaha, tetapi kemampuan menjaga arah hidup ketika keadaan terasa berat,” ungkap Gus Macshoem.

Gus Macshoem menilai tekanan hidup modern membuat banyak orang mudah marah, putus asa, dan kehilangan ketenangan. Menurut dia, media sosial juga memperlihatkan bagaimana manusia semakin mudah terjebak dalam pertengkaran dan kemarahan.

“Padahal kesabaran adalah kekuatan. Ia menjaga manusia tetap berpikir jernih ketika emosi sedang penuh,” ujarnya.

Selain itu, Gus Macshoem menegaskan bahwa Iduladha mengajarkan pentingnya ketaatan di tengah budaya instan yang mendorong manusia mengejar keuntungan pribadi tanpa mempertimbangkan nilai kejujuran dan amanah. “Kita melihat bagaimana perebutan kepentingan dan ambisi kekuasaan membuat dunia semakin gaduh. Yang paling merasakan dampaknya justru masyarakat kecil,” kata Gus Macshoem.

Menurutnya, ujian ketaatan saat ini hadir dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari godaan berbuat curang, mengabaikan tanggung jawab, hingga memilih keuntungan sesaat meskipun merugikan orang lain.

Oleh karena itu, ia mengingatkan bahwa iman tidak cukup berhenti pada simbol dan ucapan, tetapi harus tercermin dalam sikap hidup yang jujur, disiplin, dan bertanggung jawab.

Logo Nahdlatul Ulama (NU). Foto: Istimewa.

Dalam kesempatan itu, Gus Macshoem juga menyoroti pentingnya nilai pengorbanan yang terkandung dalam ibadah kurban. Ia menyebut dunia modern cenderung membentuk manusia untuk terus mengambil, bukan memberi.

“Padahal inti Idul Adha adalah kesediaan mengorbankan ego demi kebaikan yang lebih besar,” ucapnya.

Ia mengatakan, pengorbanan tidak selalu berbentuk hal besar, tetapi juga bisa diwujudkan melalui kepedulian sosial, membantu sesama, hingga menjaga perasaan orang lain di tengah kehidupan yang semakin keras.

Menurut Gus Macshoem, pembagian daging kurban menjadi simbol penting bahwa kebahagiaan tidak boleh berhenti pada diri sendiri, melainkan harus dirasakan bersama, terutama oleh masyarakat yang hidup dalam keterbatasan.

“Dunia hari ini mungkin tidak kekurangan orang pintar dan kuat. Tetapi dunia sangat membutuhkan lebih banyak manusia yang tetap tenang saat diuji, tetap jujur saat tergoda, dan tetap peduli ketika banyak orang sibuk dengan dirinya sendiri,” tuturnya.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Anggi Tondi)