Tiang listrik baru yang berada di SUB Unit Layanan Pelanggan Mbay, Nagekeo, NTT. Foto: Metrotvnews.com/Anggi Tondi Martaon.
Hikayat Pembawa Nyala Pascagempa NTT
Anggi Tondi Martaon • 27 August 2026 16:18
Nagekeo: Nyala lampu jadi kebutuhan pokok, penting dan tak terganti. Apalagi, di tengah kondisi krisis seperti pascagempa di Nusa Tenggara Timur (NTT). Otomatis, pihak yang memastikan nyala lampu itu jadi tulang punggung kebutuhan masyarakat.
Tanggung jawab berat itu berada di pundak-pundang orang seperti Paulus Oswaldus. Meski langkah kakinya masih berat, karena berhadapan langsung dengan gempa di Nagekeo, Paulus melaksanakan tugas membawa 'nyala' bagi masyarakat.
Paulus bercerita pada Metrotvnews.com sambil menyeruput kopi. Usai gempa pada 15 Agustus 2026, Paulus memacu motornya berangkat menuju kantornya, perusahaan penyedia dan penyalur listrik milik negara. Hari masih pagi saat Paulus menggeber motor, namun jalanan penuh manusia.
Baca Juga :
BNPB Catat 77.912 Rumah Rusak Akibat Gempa NTT
Warga tumpah ruah ke jalanan, mereka mencari jalan menuju dataran tinggi. Langkah itu diambil, usai warga mendapat peringatan tsunami. Meski belakangan peringatan dicabut, mereka tak mau ambil risiko.
Paulus tak mau ikut arus. Dia memilih melaksanakan tugas. Menuju kantor dan menerima perintah supervisor. Tugasnya satu, memastikan aliran listrik tetap stabil, dan menerangi rumah-rumah warga dengan nyala.
Di kantor, Paulus bergabung dengan tim. Target dia dan tim sudah terpetakan, yakni membuat listrik di Kecamatan Aesesa, Nagekeo, menyala. Jika tidak, Kabupaten Nagekeo gelap gulita menjelang malam.
Penerangan sangat dibutuhkan agar para korban tidak melalui hari pertama dalam kondisi gelap. Di bawa sinar terik matahari, mereka menyusuri jalan memeriksa jaringan kelistrikan di setiap sudut wilayah.
Pemeriksaan dilakukan bermodalkan pendataan yang dilakukan petugas yang berjaga shift malam agar perbaikan jaringan efektif di tengah kondisi yang mencekam pascagempa.
Beruntung, semua kerusakan dapat diperbaiki tanpa hambatan. Mayoritas jaringan kelistrikan, terutama di jalan kota sudah pulih menjelang sore hari.
"Sore sudah menyala semua," ujar Paulus kepada Metrotvnews.com, Kamis, 27 Agustus 2026.
Pekerjaan berat menanti
Meski berhasil menyalakan kembali lampu di Kabupaten Nagekeo, pekerjaan jauh dari selesai. Keesokan harinya, mereka kembali bergerilya memperbaiki jaringan listrik yang mengalami gangguan di wilayah lainnya.
Kerusakan jaringan listrik yang cukup parah terjadi di Desa Togurambang, Kecamatan Aesesa, Nagekeo, NTT. Sebab, mayoritas tiang listrik di sana miring hingga roboh akibat gempa.
Perbaikan tidak bisa dilakukan dengan cepat. Setidaknya, dibutuhkan beberapa hari mengganti tiang listrik yang miring atau roboh.
Supaya tiang berdiri kokoh menjulang tinggi, petugas harus membuat lubang sedalam dua meter. Setelah itu, tiang diangkat menggunakan katrol dan diarahkan ke lubang yang sudah digali dengan alat bantuan.
Setelah posisi diatur agar tegak lurus, lalu fondasi tiang diperkuat menggunakan sejumlah material agar tidak goyang.
Sedangkan perbaikan transformasi (trafo) listrik yang rusak menggunakan mobil crane. Alat tersebut setidaknya meringankan beban petugas dalam memperbaiki atau mengganti alat yang berfungsi mendistribusikan listrik tersebut.
Selain itu, petugas harus mengevakuasi tiang listrik yang roboh dari tengah jalan. Hal itu harus dilakukan agar tidak mengganggu akses warga.
Pekerjaan akhirnya dituntaskan pada Kamis, 20 Agustus 2026. Dipastikan, tiang yang diganti tidak asal berdiri. Tiang tersebut kembali menjulang tinggi menopang kabel yang mengaliri listrik ke rumah-rumah warga.

Genset yang disiagakan di SUB Unit Layanan Pelanggan Mbay, Nagekeo, NTT. Foto: Metrotvnews.com/Anggi Tondi Martaon.
Tetap siaga
Meski pekerjaan berat sudah diselesaikan dan mayoritas jaringan listrik sudah normal, petugas masih siaga hingga saat ini. Mereka tetap melayani panggilan dari masyarakat yang membutuhkan bantuan.
Paulus menceritakan, mayoritas pengaduan yang diterima yaitu listrik padam di sejumlah rumah. Ada juga masyarakat yang mengajukan permintaan bantuan memindahkan meteran listrik ke tempat aman. Sehingga, listrik tetap menyala supaya tenda mereka tetap terang di malam hari.
"Ada yang minta dipindahkan ke kamar mandi, ke tempat-tempat aman supaya listrik tetap bisa digunakan menghidupi lampu di tenda," ucap Paulus.
Pengaduan warga siap dilayani dengan optimal. Bahkan, mereka siap menerima panggilan saat malam hari. Sebab, tetap ada petugas yang berjaga dari malam hingga pagi hari melayani masyarakat.