Mendag: Jepang Pilar Penting Kemitraan Ekonomi Indonesia di Indo-Pasifik

Menteri Perdagangan Budi Santoso di resepsi National Day Jepang. Foto: Metrotvnews.com

Mendag: Jepang Pilar Penting Kemitraan Ekonomi Indonesia di Indo-Pasifik

Muhammad Reyhansyah • 6 February 2026 14:25

Jakarta: Menteri Perdagangan Budi Santoso menegaskan bahwa Jepang salah satu pilar utama dalam pembangunan ekonomi Indonesia dan stabilitas kawasan Indo-Pasifik.

Jadi Jepang bukan sekadar sebagai mitra dagang.

Mendag Budi menekankan bahwa hubungan kedua negara telah berkembang dari perdagangan sederhana menjadi kemitraan strategis berbasis kepercayaan dan visi bersama.

“Jepang merupakan landasan penting bagi pembangunan ekonomi Indonesia dan kemakmuran kawasan. Hubungan ini dibangun atas dasar kepercayaan dan kepentingan bersama,” ujar Mendag Budi dalam acara resepsi National Day Jepang di Hotel St. Regis, Jakarta, Kamis, 5 Februari 2026.

Ia menyoroti peran Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement (IJEPA) yang ditandatangani pada 2007 sebagai fondasi utama kerja sama ekonomi bilateral. Menurutnya, perjanjian tersebut tidak hanya memfasilitasi perdagangan barang, tetapi juga pertukaran keterampilan dan teknologi.

“IJEPA bertujuan meningkatkan perdagangan dan melalui liberalisasi perdagangan, fasilitasi, serta penguatan kapasitas,” jelas Mendag.

Mendag Budi mencatat, nilai perdagangan bilateral Indonesia dan Jepang pada tahun lalu mencapai USD32 miliar atau sekitar Rp539,79 triliun, menjadikan Jepang sebagai mitra dagang terbesar keempat Indonesia.

Ke depan, kerja sama kedua negara diproyeksikan semakin berkembang seiring penandatanganan protokol amandemen IJEPA pada tahun lalu. Perluasan akses pasar dinilai krusial bagi kepentingan ekonomi nasional Indonesia.

“Ekspansi akses pasar menjadi bagian penting dalam memperkuat daya saing nasional,” kata Mendag Budi.

Strategi Ekspansi Ekonomi Nasional

Dalam kesempatan tersebut, Mendag Budi juga memaparkan arah kebijakan perdagangan Indonesia yang semakin terbuka. Saat ini, Indonesia tercatat memiliki 20 perjanjian perdagangan internasional aktif, 15 dalam proses ratifikasi, serta 11 lainnya dalam tahap negosiasi.

Ia mendorong pelaku usaha untuk memanfaatkan berbagai perjanjian tersebut guna mengoptimalkan peluang pasar global.

“Kami terbuka untuk negosiasi perdagangan. Dunia usaha harus memaksimalkan manfaat dari perjanjian ini,” ujarnya.

Di bidang investasi, Jepang disebut masih menjadi salah satu investor utama di Indonesia. Pada 2025, tambahan investasi Jepang mencapai USD3,1 miliar atau sekitar Rp52,29 triliun, menempatkannya sebagai investor terbesar kelima.

Investasi tersebut banyak mengalir ke sektor infrastruktur, manufaktur, dan otomotif, serta didukung melalui skema kerja sama pemerintah dan badan usaha (KPBU) maupun bantuan pembangunan.

Mendag Busan menilai, hasil nyata kerja sama Indonesia–Jepang terlihat melalui berbagai proyek strategis, seperti MRT Jakarta, Pelabuhan Patimban, serta pusat kelautan dan perikanan terpadu.

“Proyek-proyek ini telah meningkatkan mobilitas perkotaan, memperkuat logistik, dan mendorong ekonomi maritim,” katanya.

Menatap masa depan, Mendag Budi Santoso melihat potensi kolaborasi kedua negara semakin terbuka, khususnya di sektor ekonomi digital, energi terbarukan, dan rantai pasok berkelanjutan.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Fajar Nugraha)