AS ancam serang infrastruktur sipil milik Iran jika Selat Hormuz belum dibuka. Foto: Anadolu
Iran Tolak Proposal Gencatan Senjata, Hanya Ingin Akhiri Perang Secara Permanen
Fajar Nugraha • 7 April 2026 06:35
Teheran: Iran mengatakan bahwa mereka menginginkan akhir yang permanen untuk perang dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel, dan menolak tekanan untuk membuka kembali Selat Hormuz.
Sementara Presiden AS Donald Trump memperingatkan negara itu dapat "dihancurkan" jika tidak memenuhi tenggat waktu Selasa malamnya untuk mencapai kesepakatan.
“Tanggapan Iran terdiri dari 10 klausul, termasuk pengakhiran konflik di kawasan itu, protokol untuk jalur aman melalui Selat Hormuz, pencabutan sanksi, dan rekonstruksi,” tambah kantor IRNA, seperti dikutip Channel News Asia, Selasa 7 April 2026.
Trump, yang telah mengancam akan menghujani Teheran dengan "neraka" jika negara itu tidak mencapai kesepakatan pada pukul 8.00 malam pada Selasa 7 April untuk membuka Selat Hormuz. Ini adalah jalur vital untuk pasokan energi global dan Trump menolak tanggapan Iran serta mengatakan tenggat waktunya adalah final.
Pada konferensi pers, Trump mengatakan bahwa Iran dapat "disingkirkan" dalam satu malam, "dan malam itu mungkin besok malam", merujuk pada hari Selasa. Ia bersumpah akan menghancurkan pembangkit listrik dan jembatan Iran, mengabaikan kekhawatiran bahwa tindakan tersebut akan menjadi kejahatan perang atau mengasingkan 93 juta penduduk Iran.
Tanpa kesepakatan dengan Teheran, kata Trump, "Setiap jembatan di Iran akan dihancurkan" pada tengah malam EDT pada hari Rabu dan "setiap pembangkit listrik di Iran akan berhenti beroperasi, terbakar, meledak, dan tidak akan pernah digunakan lagi".
Serangan terhadap universitas
Sementara Juru Bicara IRGC Ebrahim Zolfaqari di televisi pemerintah mengatakan, Trump "berhalusinasi" dan peringatan Trump tidak lebih sebagai retorika kasar, arogan, dan ancaman tanpa dasar.”Setelah komentar terbaru Trump, Wakil Menteri Olahraga Iran, Alireza Rahimi, menyerukan kepada para seniman dan atlet untuk membentuk rantai manusia di pembangkit listrik di seluruh negeri pada hari Selasa.
"Kita akan bergandengan tangan untuk mengatakan: Menyerang infrastruktur publik adalah kejahatan perang," kata Rahimi di X.
Para ahli independen juga mengatakan serangan terhadap infrastruktur sipil seperti pembangkit listrik dan jembatan akan merupakan kejahatan perang. Trump mengatakan rakyat Iran "bersedia menderita demi kebebasan" dan AS telah mencegat pesan yang meminta pemboman.
Setelah AS dan Israel menyerang pada 28 Februari, Iran secara efektif menutup Hormuz, jalur bagi sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam dunia. Cengkeraman jalur perairan tersebut terhadap ekonomi global telah terbukti menjadi kartu tawar yang ampuh bagi Iran, dan Teheran enggan melepaskannya terlalu mudah.
Kerangka kerja yang dimediasi Pakistan untuk mengakhiri perang mengusulkan gencatan senjata segera, diikuti oleh pembicaraan tentang penyelesaian perdamaian yang lebih luas yang akan diselesaikan dalam 15 hingga 20 hari, kata sebuah sumber yang mengetahui proposal tersebut.
Iran juga mengancam akan membalas serangan AS-Israel pada Senin pagi terhadap Universitas Teknologi Sharif di Teheran, salah satu lembaga sains terkemuka di negara itu, di mana kantor berita WANA Iran mengatakan pusat data kecerdasan buatan dan fasilitas lainnya rusak.
“Para agresor akan melihat kekuatan kita” sebagai tanggapan terhadap pemboman Sharif, kata Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi pada X. Menteri sains Iran telah menuduh Amerika Serikat dan Israel menyerang sekitar 30 universitas dalam perang tersebut.
Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun Google News Metrotvnews.com