Regu penyelamat berupaya mencari korban selamat akibat gempa yang melanda Venezuela. Foto: The New York Times
Tiga Gempa Besar Guncang Dunia dalam 24 Jam, Apakah Saling Berkaitan? Ini Penjelasannya
Putri Purnama Sari • 26 June 2026 18:55
Jakarta: Tiga gempa bumi berkekuatan besar mengguncang tiga negara berbeda dalam waktu kurang dari 24 jam, yakni Venezuela, California Utara di Amerika Serikat (AS), dan Jepang. Rentetan peristiwa tersebut memicu pertanyaan publik mengenai kemungkinan adanya keterkaitan di antara ketiga gempa tersebut.
Meski terjadi dalam rentang waktu yang berdekatan, para ahli menegaskan bahwa gempa di ketiga wilayah tersebut tidak saling memicu maupun berhubungan satu sama lain. Masing-masing memiliki sumber dan mekanisme tektonik yang berbeda.
Tiga Gempa Besar Terjadi Beruntun

Alat pencatat gempa/Ilustrasi/Istimewa
Gempa pertama mengguncang wilayah utara-tengah Venezuela pada Rabu, 24 Juni 2026 sore waktu setempat. Berdasarkan data Survei Geologi Amerika Serikat (USGS), gempa bermagnitudo 7,1 tersebut berpusat di Montalban dengan kedalaman sekitar 13 kilometer.
Tak lama kemudian, California Utara juga diguncang gempa berkekuatan magnitudo 5,6 pada Rabu malam waktu setempat. Gempa yang berpusat pada kedalaman sekitar 8,1 kilometer itu disebut sejumlah media di Amerika Serikat sebagai gempa terkuat yang melanda kawasan tersebut sejak 1990.
Selanjutnya, gempa bermagnitudo 7,2 mengguncang wilayah timur laut Jepang pada Kamis, 25 Juni 2026 pagi waktu setempat. Menurut Badan Meteorologi Jepang, pusat gempa berada di lepas pantai Prefektur Iwate dengan kedalaman sekitar 50 kilometer. Guncangan tercatat mencapai level 6 atas pada skala intensitas seismik Jepang.
Menariknya, jarak waktu antara gempa di Venezuela dan Jepang hanya sekitar 25 menit, sehingga memunculkan spekulasi bahwa keduanya saling berkaitan.
Ketiga Gempa Tidak Saling Berkaitan
Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, menjelaskan bahwa ketiga gempa tersebut dipicu oleh mekanisme sumber yang berbeda sehingga tidak memiliki hubungan satu sama lain.Menurutnya, gempa di California Utara dan Venezuela berasal dari aktivitas sesar atau patahan aktif, sedangkan gempa di Jepang dipicu oleh aktivitas subduksi atau megathrust.
Daryono mengatakan bahwa dalam kurun waktu kurang dari 12 jam memang terjadi peningkatan aktivitas tektonik di sejumlah wilayah dunia. Namun, fenomena tersebut bukan berarti gempa di satu wilayah memicu gempa di wilayah lainnya.
Ia menegaskan setiap sumber gempa memiliki sistem akumulasi tegangan masing-masing sehingga bekerja secara independen.
"Ketiga gempa memiliki sumber gempa sendiri-sendiri. California Utara dan Venezuela itu sesar atau patahan, sementara Jepang sumber gempanya megathrust. Sumber-sumber gempa tersebut memiliki kemampuan mengakumulasi tegangan, jadi tidak saling berkaitan," kata Daryono dalam keterangannya, yang dikutip Jumat, 26 Juni 2026.
Ia juga menambahkan bahwa kemunculan gempa dalam waktu yang hampir bersamaan merupakan sebuah kebetulan.
Gempa Venezuela Termasuk Doublet Earthquake
.jpg)
Hunian yang rusak parah akibat gempa melanda Venezuela. Foto: The New York Times
Daryono mengungkapkan bahwa gempa besar yang melanda Venezuela merupakan fenomena doublet earthquake atau gempa kembar.
Gempa utama bermagnitudo 7,5 didahului oleh gempa pendahuluan berkekuatan magnitudo 7,2 hanya dalam selang waktu sekitar 40 detik. Dua guncangan besar yang terjadi hampir bersamaan tersebut memperparah dampak kerusakan di wilayah terdampak.
Akibatnya, banyak rumah warga dan bangunan mengalami kerusakan berat, termasuk di ibu kota Caracas.
Jadi Pengingat Penting bagi Indonesia
Daryono menilai rangkaian gempa yang terjadi di berbagai belahan dunia seharusnya menjadi pengingat bagi Indonesia untuk terus meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi bencana.Sebagai negara yang berada di kawasan Cincin Api Pasifik (Ring of Fire), Indonesia memiliki tingkat aktivitas seismik yang tinggi sehingga risiko gempa bumi selalu ada.
Menurutnya, ancaman terbesar saat gempa bukanlah guncangan itu sendiri, melainkan bangunan yang roboh akibat tidak memenuhi standar ketahanan gempa. Karena itu, ia mendorong penguatan pembangunan gedung dan rumah tahan gempa, terutama pada fasilitas publik dan kawasan permukiman.
Selain itu, masyarakat juga diimbau terus meningkatkan kesiapsiagaan dengan memahami langkah penyelamatan diri saat gempa. Dengan kesiapan yang baik, risiko korban jiwa dan dampak yang ditimbulkan akibat gempa bumi dapat ditekan semaksimal mungkin.