Kisah Haru Lansia Asal Sergai Dapat Bantuan Pelunasan Utang Biaya Haji

Nek Saniah (72), seorang haji asal Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai), Sumatra Utara. (Metro TV/ Surya Dharma)

Kisah Haru Lansia Asal Sergai Dapat Bantuan Pelunasan Utang Biaya Haji

Surya Dharma • 24 June 2026 16:53

Serdang Bedagai: Nek Saniah (72), seorang haji asal Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai), Sumatra Utara, sempat menjadi perhatian sesama jemaah dalam satu kloter saat pelaksanaan ibadah haji 2026. Ia diketahui terlilit utang untuk melunasi Biaya Perjalanan Ibadah Haji (BPIH) menjelang keberangkatannya.

Kondisi ini terungkap saat petugas haji menelusuri latar belakang keberangkatan Nek Saniah. Setelah mengetahui kronologi lengkap bahwa Nek Saniah harus berutang untuk melunasi biaya haji, Kementerian Haji dan Umrah turun tangan memberikan bantuan untuk melunasi utang tersebut.

“Awalnya ibu saya, Nek Saniah, dibantu oleh orang tua dari adik angkat saya pada tahun 2013 untuk mendaftar haji dengan biaya Rp25.100.000. Namun menjelang keberangkatan tahun 2026, masih ada kekurangan sekitar Rp18 juta, sehingga kami berutang kepada keluarga di Pekanbaru,” ujar Anak Nek Saniah, Siti Masitah, di Serdang Bedagai, Rabu, 24 Juni 2026. 
 


Siti mewakili keluarganya menyampaikan terima kasih atas bantuan yang diberikan pemerintah. Ia mengatakan bantuan tersebut sangat membantu melunasi beban utang yang ada.

“Alhamdulillah pemerintah Indonesia memberikan bantuan sebesar Rp20.800.000, sehingga utang kami bisa dilunasi. Bahkan masih ada sisa untuk keperluan lain,” kata Siti.

Nek Saniah merupakan warga Dusun 1 Desa Sukajadi, Kecamatan Perbaungan, Serdang Bedagai. Sehari-hari, ia bekerja sebagai tukang cuci pakaian di kampungnya.



Menurut Siti, ibunya mendaftar haji pada tahun 2013 dengan bantuan biaya dari majikan sebesar Rp25.100.000. Namun menjelang keberangkatan pada 2026, Nek Saniah masih kekurangan sekitar Rp18.000.000 dari total biaya yang harus dilunasi.

Kekurangan biaya tersebut juga belum termasuk kebutuhan lain, seperti biaya manasik haji, pembelian kursi roda, serta biaya pendampingan karena kondisi fisik yang sudah sulit berjalan. Untuk menutupi kebutuhan itu, keluarga akhirnya berutang kepada kerabat di Pekanbaru, Riau.

(Silvana Febiari)