Direktur Pemasaran dan Pengembangan KEK Industropolis Batang Angga Brahmana Sukma dalam Forum Pemasaran Investasi Jawa Tengah 2026. Foto: dok KEK Industropolis Batang.
KEK Industropolis Batang Jadi Magnet Investasi Teknologi Tinggi
Husen Miftahudin • 10 September 2026 06:40
Semarang: Jawa Tengah terus memperkuat posisinya sebagai salah satu destinasi investasi strategis di Indonesia. Upaya tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam Forum Pemasaran Investasi Jawa Tengah 2026 yang digelar pada 8-9 September 2026 di Semarang.
Forum mengusung tema "Powering Sustainable Growth: Investing in Central Java’s Green Industrial Future through Advanced Manufacturing and Digital Infrastructure". Kegiatan tersebut mempertemukan pemerintah, pelaku usaha, pengelola kawasan industri, serta calon investor untuk memperkenalkan potensi investasi Jawa Tengah.
Direktur Promosi Wilayah Asia Tenggara, Australia, Selandia Baru, dan Pasifik Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM Saribua Siahaan menegaskan pemerintah terus berupaya menciptakan iklim investasi yang memberikan kepastian dan kemudahan bagi investor.
"Investor tidak perlu khawatir, kami akan terus mendukung efisiensi, stabilitas, dan keuntungan. Kami dari pemerintah akan menyusun regulasi yang mempermudah investor masuk ke Indonesia," ujar Saribua, dikutip dari keterangan tertulis, Kamis, 10 September 2026.
Menurut Saribua, kolaborasi pemerintah, dunia usaha, investor, dan perguruan tinggi menjadi salah satu kunci untuk mendorong pertumbuhan investasi. Investor yang sudah beroperasi di Indonesia didorong melakukan ekspansi. Sementara itu, investor baru diharapkan menjadikan Indonesia, termasuk Jawa Tengah, sebagai salah satu tujuan investasi.
Investasi dorong lapangan kerja dan UMKM
Plt. Kepala DPMPTSP Provinsi Jawa Tengah Johan Hadiyanto mengatakan investasi memberikan dampak lebih luas bagi perekonomian daerah. Dampak tersebut mencakup penciptaan lapangan kerja, peningkatan aktivitas usaha, pendapatan masyarakat, pertumbuhan UMKM, hingga penguatan rantai pasok ekonomi daerah.
"Bagi kami, angka tersebut bukan sekadar capaian statistik. Di baliknya terdapat perluasan lapangan kerja, aktivitas usaha, pendapatan masyarakat, tumbuhnya UMKM, serta semakin kuatnya rantai pasok ekonomi daerah," papar Johan.
Jawa Tengah memiliki sejumlah faktor pendukung pengembangan industri, antara lain konektivitas Trans-Jawa, infrastruktur pelabuhan dan bandara, kawasan industri dan kawasan ekonomi khusus (KEK), serta ketersediaan tenaga kerja produktif.
Arah pengembangan investasi juga diarahkan pada sektor bernilai tambah, seperti advanced manufacturing, elektronik, otomotif dan komponen kendaraan listrik (EV), semikonduktor, industri berorientasi ekspor, serta hilirisasi.
Sementara itu, Staff Ahli Bidang Hubungan Kelembagaan Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM Ricky Kusmayadi menilai investasi memiliki peran strategis dalam memperkuat perekonomian nasional.
"Investasi menjadi salah satu pendorong utama melalui peningkatan kapasitas produksi, penciptaan lapangan kerja, penguatan daya saing nasional, serta mendukung prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia," papar Ricky.
Dalam konteks tersebut, pengembangan kawasan industri menjadi bagian penting untuk mendukung masuknya investasi bernilai tambah dan berteknologi tinggi.

(Site visit ke KEK Industropolis Batang untuk memberikan gambaran langsung mengenai kesiapan kawasan dan peluang investasi yang tersedia. Foto: dok KEK Industropolis Batang)
KEK Industropolis Batang siapkan ekosistem industri
KEK Industropolis Batang menjadi salah satu kawasan yang diproyeksikan mendukung kebutuhan industri masa depan. Kawasan tersebut dikembangkan berdasarkan masterplan seluas 4.300 hektare dengan konsep Smart, Green, and Sustainable.
Konsep tersebut mencakup integrasi infrastruktur industri, digital, utilitas, konektivitas logistik, serta fasilitas pendukung investasi. Direktur Pemasaran dan Pengembangan KEK Industropolis Batang Angga Brahmana Sukma mengatakan kesiapan kawasan tidak hanya ditentukan oleh luas lahan.
"Fokus kami bukan hanya pada luasan kawasan. Ada dua parameter utama kami dalam menyiapkan tempat untuk berinvestasi, yaitu efisiensi dari sisi investasi dan efisiensi dari sisi produksi," ungkap Angga.
Menurut Angga, kesiapan ekosistem kawasan mulai terlihat dari masuknya investasi berteknologi tinggi. Salah satunya melalui rencana pengembangan hyperscale data center AI oleh Zankore. Zankore disebut merupakan perusahaan patungan yang melibatkan Nvidia Corporation, Indosat, Ooredoo Group, dan Nokia.
Investasi hyperscale data center AI di Industropolis Batang direncanakan mencapai sekitar Rp82 triliun dan ditargetkan mulai beroperasi pada 2027. "Kita sebagai warga Jawa Tengah patut berbangga hati karena investasi high-tech saat ini sudah masuk ke Jawa Tengah," ujar Angga.
Angga mengatakan KEK Industropolis Batang tidak hanya diarahkan menjadi kawasan dengan fasilitas industri, tetapi juga ekosistem yang mendukung aktivitas ekonomi dan kehidupan di dalam kawasan.
"Kami tidak hanya ingin mengembangkan deretan pabrik. Kami meyakini kawasan ini harus menjadi satu ekosistem yang hidup. Bukan hanya sekadar deretan pabrik, tetapi juga ada kehidupan di dalamnya," ujar Angga. Konsep tersebut juga terlihat dari pengalaman PT Rumah Keramik Indonesia, salah satu tenant di KEK Industropolis Batang.