Sri Lanka Naikkan Harga BBM di Tengah Gejolak Minyak Global

Ilustrasi. Foto: Freepik.

Sri Lanka Naikkan Harga BBM di Tengah Gejolak Minyak Global

Ade Hapsari Lestarini • 12 March 2026 06:27

Kolombo: Sri Lanka menaikkan harga bahan bakar eceran mulai Senin tengah malam waktu setempat. Penaikan ini terjadi di tengah gejolak harga minyak mentah global yang disebabkan oleh konflik di Timur Tengah.

Melansir Xinhua, Kamis, 12 Maret 2026, perusahaan minyak milik negara Ceylon Petroleum Corporation mencatat dalam revisi tersebut, harga Auto Diesel naik 22 rupee menjadi 303 rupee (sekitar USD0,97) per liter.

Sementara Super Diesel naik 24 rupee menjadi 353 rupee per liter. Bensin 92 Oktan naik 24 rupee menjadi 317 rupee per liter dan Bensin 95 Oktan naik 25 rupee menjadi 365 rupee per liter. Harga minyak tanah juga dinaikkan 13 rupee menjadi 195 rupee per liter.

Perusahaan tersebut mengatakan pesanan telah dilakukan untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar nasional hingga Agustus, di samping tender jangka panjang yang diatur oleh pemerintah.

Direktur pelaksana Ceylon Petroleum Corporation, Mayura Neththikumarage, mengatakan negara tersebut memiliki stok bahan bakar yang cukup untuk bertahan hingga akhir April berdasarkan pola konsumsi yang berlaku.


 

 

Harga minyak dunia


Harga minyak mentah dunia masih bergerak fluktuatif di zona merah pada perdagangan Rabu, 11 Maret 2026. Berdasarkan data terbaru dari Investing.com pukul 15.46 WIB, harga minyak mentah Brent untuk kontrak Mei (LCOK6) berada di level USD 89,23 per barel atau mengalami penurunan dari pembukaan USD91,09 per barel.

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman April tercatat di posisi US85,32 per barel. Harga ini mengalami tekanan setelah sempat dibuka pada level US87,29 per barel dengan rentang pergerakan harian yang lebar antara US81,82 hingga US88,58 per barel.

Penurunan harga ini merupakan respons pasar terhadap rencana International Energy Agency (IEA) yang akan melepas cadangan minyak darurat dalam jumlah besar.

Langkah ini dilakukan sebagai upaya stabilisasi energi global menyusul kekhawatiran gangguan pasokan di Selat Hormuz akibat ketegangan di Timur Tengah yang sempat mendorong harga menembus level psikologis USD 100 pada awal pekan ini.

Meskipun saat ini harga cenderung melandai, volatilitas pasar diperkirakan tetap tinggi seiring penantian pelaku pasar terhadap rilis data inflasi Amerika Serikat (CPI) serta perkembangan situasi geopolitik terbaru.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Ade Hapsari Lestarini)