Kebakaran Bromo Meluas Jadi 921 Hektare

Penanganan kebakaran di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS)/BPBD Kab. Malang.

Kebakaran Bromo Meluas Jadi 921 Hektare

Daviq Umar Al Faruq • 12 August 2026 08:50

Malang: Kebakaran hutan di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) terus meluas hingga mencakup sekitar 921,42 hektare. Data sementara BPBD Kabupaten Malang pada Selasa, 11 Agustus 2026, menunjukkan kebakaran kini merambah wilayah Probolinggo hingga kawasan Penanjakan di Kabupaten Pasuruan.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Malang, Sadono Irawan, mengatakan angka tersebut masih bersifat sementara dan dalam proses pendataan ulang. Perkembangan luasan terdampak menjadi perhatian karena api masih terpantau di sejumlah titik dengan kondisi medan yang terjal.

"Prakiraan luas lahan yang terbakar saat ini total sekitar 921,42 hektare dengan jenis vegetasi cemara gunung, mentigen, akasia dan semak belukar. Data berkembang dalam proses pendataan ulang," kata Sadono, Rabu, 12 Agustus 2026.

Kebakaran pertama kali terpantau di kawasan Kaldera Bromo, tepatnya Bukit Jantur/Bantengan, wilayah Kabupaten Probolinggo, pada 3 Agustus 2026. Dua hari kemudian, arah angin membawa api hingga menjalar ke wilayah administratif Kabupaten Malang.

Saat ini titik api terbesar masih berada di kawasan Pakis Bincil Dingklik, sementara titik api di P30 telah dinyatakan nihil. Di kawasan Penanjakan, api masih tersisa dalam skala kecil dan terus ditangani oleh tim gabungan.
 


Upaya pemadaman dilakukan melalui jalur darat dan udara secara bersamaan untuk menekan penyebaran api. Tim darat melakukan pembuatan sekat bakar, pembasahan area yang dapat dijangkau, serta penanganan manual menggunakan gepyok dan armada tangki.

Sementara dari udara, tiga helikopter dikerahkan untuk melakukan water bombing di titik target Pusung Duwur wilayah Dingklik. Operasi tersebut dilakukan secara bergantian mengikuti standar operasional penerbangan karena kondisi cuaca dan jarak pandang menjadi faktor pembatas.

"Operasi water bombing dilaksanakan dengan tiga unit Heli dari BNPB diatur bergantian mengikuti SOP penerbangan, dengan total 16 Rit 5 Sortie atau sebanyak 37.000 liter," beber Sadono.

Hingga Selasa, total air yang telah dijatuhkan melalui operasi water bombing sejak penanganan udara dimulai mencapai 205.800 liter. Operasi udara juga didukung drone water spray milik BPBD Jawa Timur untuk membantu pembasahan hot spot dan mencegah bara kembali menyala.


Penanganan kebakaran di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS)/BPBD Kab. Malang


Kondisi di lapangan masih dipengaruhi kabut dan kepulan asap yang mengganggu jarak pandang menuju titik sasaran. Angin yang cukup kencang serta medan terjal juga membuat proses pemadaman manual dan operasi udara tidak dapat dilakukan secara maksimal.

"Kabut dan kepulan asap menyebabkan operasi Water Bombing tidak bisa dimaksimalkan karena visibilitas yang kurang menuju titik target operasi," jelas Sadono.

Untuk mengantisipasi perkembangan kebakaran, tim darat akan melakukan pemantauan dan pemetaan titik api pada Rabu, 12 Agustus 2026. Koordinasi dengan BMKG juga akan diperkuat untuk memperoleh informasi mengenai potensi pertumbuhan awan yang dapat memengaruhi operasi water bombing.

Seluruh pintu masuk kawasan wisata Bromo juga masih ditutup sementara sejak Sabtu, 8 Agustus 2026 pukul 22.00 WIB. Penutupan berlaku di Cemorolawang, Wonokitri, Jemplang, Coban Trisula, dan Senduro hingga batas waktu yang akan diumumkan lebih lanjut.

(Whisnu M)