Rusia dan AS Intensifkan Negosiasi Akhiri Perang Ukraina

Presiden Rusia Vladimir Putin memulai pertemuan dengan tiga utusan Amerika Serikat (AS). Foto: TASS

Rusia dan AS Intensifkan Negosiasi Akhiri Perang Ukraina

Muhammad Reyhansyah • 23 January 2026 15:32

Moskow: Presiden Rusia Vladimir Putin memulai pertemuan dengan tiga utusan Amerika Serikat (AS) pada Kamis, 22 Januari 2026 untuk membahas rencana mengakhiri perang di Ukraina, demikian disampaikan Kremlin.

Dua utusan Amerika Serikat, Steve Witkoff dan Jared Kushner, datang bersama Josh Gruenbaum, yang baru ditunjuk Presiden Donald Trump sebagai penasihat senior bagi Dewan Perdamaian, badan yang dibentuk untuk menangani penyelesaian konflik internasional.

Putin menyambut ketiga utusan tersebut sesaat sebelum tengah malam di Moskow. Pertemuan itu berlangsung setelah Trump menyatakan bahwa kesepakatan damai sudah “cukup dekat”, sementara Witkoff mengatakan negosiasi kini menyisakan satu isu utama.

Tak lama setelah pembicaraan dimulai, Rusia mengumumkan telah melakukan patroli pesawat pengebom strategis, sebuah langkah yang kerap dilakukan Moskow sebagai unjuk kekuatan dan penegasan daya tangkal.

Kementerian Pertahanan Rusia menyebutkan pesawat pengebom Tu-22M3, bagian dari armada jarak jauh yang digunakan Rusia sepanjang perang untuk meluncurkan rudal ke kota-kota Ukraina, sasaran militer, dan infrastruktur energi terbang lebih dari lima jam di atas Laut Baltik dengan pengawalan jet tempur Rusia.

Kremlin menyatakan Putin didampingi oleh ajudan kebijakan luar negeri Yuri Ushakov dan utusan khusus Kirill Dmitriev, sebagaimana dalam pertemuan-pertemuan sebelumnya dengan pihak Amerika Serikat. Sebuah rekaman video singkat memperlihatkan Putin berjabat tangan dengan ketiga utusan AS dan mempersilakan mereka duduk di sebuah meja oval panjang.

Wilayah dan NATO Jadi Isu Kunci

Dilansir dari AsiaOne, Jumat, 23 Januari 2026, Trump selama setahun terakhir terus menekan agar konflik yang telah berlangsung hampir empat tahun dan menjadi yang paling mematikan di Eropa sejak Perang Dunia Kedua segera diakhiri. Pada Rabu, ia mengatakan Putin dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky akan “bodoh” jika gagal mencapai kesepakatan.

Witkoff tidak mengungkapkan secara rinci isu utama yang masih menghambat perundingan. Namun, semua pihak sebelumnya menyoroti persoalan wilayah sebagai titik krusial.

Putin secara khusus menuntut Ukraina menyerahkan sekitar 20 persen wilayah timur Donetsk yang masih dikuasai Kyiv. Zelensky menolak tuntutan tersebut, dengan menegaskan Ukraina tidak akan menyerahkan wilayah yang berhasil dipertahankan dengan pengorbanan besar selama perang berkepanjangan.

Rusia juga menuntut Ukraina melepaskan ambisinya bergabung dengan NATO serta menolak kehadiran pasukan NATO di wilayah Ukraina setelah tercapainya kesepakatan damai.

Diplomasi Intensif di Tengah Krisis

Witkoff dan Kushner terbang ke Moskow dari Davos, Swiss, setelah bertemu pejabat Ukraina di sela Forum Ekonomi Dunia. Trump sendiri bertemu Zelensky pada Kamis.

Zelensky mengatakan setelah pertemuan tersebut bahwa syarat jaminan keamanan bagi Ukraina telah difinalisasi, meski isu wilayah masih belum terselesaikan. Ia juga menyebut Ukraina tengah menghadapi musim dingin terberat selama perang, ketika Rusia meningkatkan serangan rudal dan drone terhadap infrastruktur energi.

Di tengah suhu yang jauh di bawah titik beku, ratusan ribu warga di Kyiv dan kota-kota lain mengalami pemadaman listrik berkepanjangan dan kehilangan pemanas.

Sebagai tanda positif, Zelensky menyatakan perunding dari Rusia, Ukraina, dan Amerika Serikat akan menggelar pertemuan trilateral untuk pertama kalinya di Abu Dhabi pada Jumat dan Sabtu. 

Ia juga mengatakan kesepakatan hampir tercapai terkait pemulihan ekonomi pascaperang, yang menjadi elemen penting dalam proposal Ukraina untuk menyeimbangkan rencana damai awal Amerika Serikat yang dinilai terlalu menguntungkan Moskow.

Ketika ditanya pesan apa yang ingin ia sampaikan kepada Putin, Trump menjawab singkat, “Perang ini harus diakhiri.”

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Fajar Nugraha)