237 Penyintas Gempa Sikka Mulai Kembali ke Rumah

Pengungsi korban gempa bumi yang menempati GOR Samador, Maumere, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, mulai kembali ke rumah, Senin (24/8). Foto: BNPB

237 Penyintas Gempa Sikka Mulai Kembali ke Rumah

Palce Amalo • 24 August 2026 21:01

Sikka: Sebanyak 84 keluarga atau 237 jiwa penyintas gempa bumi di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), mulai meninggalkan lokasi pengungsian di GOR Samador, Maumere, untuk kembali ke rumah masing-masing, Senin, 24 Agustus 2026.

"Kepulangan dilakukan secara bertahap setelah kondisi rumah warga dipastikan masih aman untuk ditempati," kata Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan, Senin, 24 Agustus 2026.

Suasana di GOR Samador pada Senin sore mulai berubah. Para penyintas mengemasi barang pribadi, membersihkan area yang digunakan sebagai tempat tinggal sementara, lalu bersiap meninggalkan lokasi pengungsian.

Sebelum pulang, penyintas dipanggil satu per satu berdasarkan data kartu keluarga. Mereka juga menerima bantuan kebutuhan pokok untuk menunjang aktivitas setelah kembali ke rumah.

Proses kepulangan difasilitasi BNPB bersama Pemerintah Kabupaten Sikka, Dinas Sosial, TNI AL, Satpol PP, dan Basarnas. Armada disediakan untuk mengangkut para penyintas, barang pribadi, serta bantuan sembako menuju kediaman masing-masing.

Kepulangan diprioritaskan bagi warga yang rumahnya mengalami kerusakan ringan dan hasil pemeriksaan menunjukkan kondisi struktur masih aman untuk dihuni.

Proses tersebut dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan aspek keselamatan serta hasil pendataan dan verifikasi kondisi bangunan.
 


Masih 1.053 Jiwa Mengungsi

Sejak gempa bumi berkekuatan Magnitudo 7,7 mengguncang wilayah NTT pada Sabtu, 15 Agustus 2026, tercatat 300 keluarga atau 1.290 jiwa mengungsi di GOR Samador.

Dengan kepulangan 84 keluarga atau 237 jiwa, jumlah penyintas yang masih bertahan di lokasi pengungsian kini mencapai 216 keluarga atau 1.053 jiwa.

BNPB bersama pemerintah daerah masih melakukan pendataan dan verifikasi tingkat kerusakan rumah warga terdampak. Data tersebut menjadi dasar dalam menentukan bentuk dukungan yang diberikan kepada masing-masing keluarga. Pendataan dilakukan secara bertahap untuk memastikan bantuan disalurkan sesuai tingkat kerusakan rumah dan kebutuhan penyintas.

Pemerintah menyiapkan bantuan perbaikan bagi rumah yang masuk kategori rusak ringan dan rusak sedang. Untuk rumah rusak ringan, bantuan perbaikan ditetapkan sebesar Rp15 juta. Sementara itu, rumah dengan kategori rusak sedang mendapatkan dukungan perbaikan sebesar Rp30 juta. Untuk rumah yang mengalami kerusakan berat, penanganan dilakukan melalui pembangunan hunian tetap (huntap).


Penyaluran logistik ke pengungsi korban gempa NTT menggunakan motor. Dok. Tangkapan Layar


Sebelum huntap selesai dibangun, pemerintah menyiapkan solusi tempat tinggal sementara bagi warga yang rumahnya mengalami kerusakan berat. Penyintas dapat memperoleh dana tunggu hunian (DTH) sebesar Rp600 ribu per bulan untuk menyewa rumah.

Selain skema tersebut, warga juga dapat menempati hunian sementara (huntara) hingga pembangunan huntap selesai. BNPB menegaskan penyaluran seluruh bentuk dukungan dilakukan berdasarkan pendataan, verifikasi, dan validasi tingkat kerusakan rumah bersama pemerintah daerah.

Tahapan tersebut dilakukan untuk memastikan bantuan diterima masyarakat sesuai kriteria sekaligus mendukung proses pemulihan pascabencana secara tertib dan akuntabel.

Kepulangan sebagian penyintas dari GOR Samador menjadi bagian dari proses peralihan penanganan darurat menuju tahap pemulihan. BNPB bersama pemerintah daerah dan unsur terkait masih mendampingi masyarakat, memenuhi kebutuhan dasar, serta mempercepat pemulihan hunian bagi warga terdampak gempa.

(Whisnu M)