Presiden Iran Masoud Pezeshkian. (Anadolu Agency)
Presiden Iran Desak Akhiri Perang dengan AS, Klaim Posisi Teheran Kuat
Willy Haryono • 22 August 2026 13:54
Teheran: Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyerukan agar perang yang telah berlangsung berbulan-bulan dengan Amerika Serikat (AS) diakhiri.
Pezeshkian menegaskan Iran berada dalam posisi kuat dan membantah anggapan bahwa Teheran menyerah terhadap tuntutan Washington.
"Seluruh dunia mengakui kemenangan kami dan menegaskan bahwa Amerika telah menyerang sekolah, rumah sakit, serta infrastruktur kami, yang merupakan pelanggaran terhadap seluruh aturan dan membuatnya dibenci di seluruh dunia," kata Pezeshkian, sebagaimana dilansir Al Jazeera, Sabtu, 22 Agustus 2026.
Pernyataan tersebut disampaikan Pezeshkian saat menjelaskan kembali isi nota kesepahaman yang dicapai Iran dan AS pada Juni. Kesepakatan tersebut mendapat kritik dari sejumlah faksi garis keras di parlemen Iran yang menilai pemerintah terlalu banyak memberikan konsesi kepada Washington.
Pezeshkian menolak anggapan bahwa kesepakatan tersebut merupakan bentuk penyerahan diri Iran.
"Mereka bahkan tidak dapat menemukan satu pun klausul dalam kesepakatan ini yang menunjukkan adanya penyerahan diri. Seluruh komitmen justru menjadi tanggung jawab pihak lain," ujarnya.
Di tengah pernyataan Pezeshkian tersebut, pimpinan militer Iran kembali memperingatkan bahwa angkatan bersenjata Iran siap merespons setiap ancaman baru.
Peringatan itu disampaikan setelah masa berlaku nota kesepahaman Iran-AS berakhir beberapa hari sebelumnya.
"Dengan kesiapan di darat, laut, udara, pertahanan udara, dan ruang siber, angkatan bersenjata Iran akan merespons ancaman baru dari musuh dengan tindakan balasan yang menghancurkan, keras, dan melumpuhkan," kata Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran Mayor Jenderal Ali Abdollahi.
Pernyataan Pezeshkian dan pimpinan militer tersebut menunjukkan adanya kombinasi antara seruan untuk mengakhiri perang dan kesiapan Iran menghadapi kemungkinan eskalasi baru.
Dalam sistem politik Iran, presiden menjalankan pemerintahan sehari-hari, sementara Pemimpin Tertinggi memiliki kewenangan tertinggi dalam sejumlah persoalan strategis, termasuk kebijakan pertahanan dan keamanan nasional. (Razaqa Hariz)
Baca juga: Iran Tantang Kebijakan Ekonomi Trump, Sebut Sanksi AS Akan Berakhir Gagal