Menteri Kebudayaan Fadli Zon di Auditorium K.301 Adi Karsa Keteknikan, Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI). Dokumentasi/ Humas Universitas Indonesia.
Menteri Kebudayaan Sebut Teknologi Buka Ruang Baru Pengembangan Budaya Indonesia
Deny Irwanto • 13 August 2026 19:30
Jakarta: Menteri Kebudayaan Fadli Zon menilai perkembangan teknologi dapat membuka ruang baru bagi pengembangan kebudayaan Indonesia. Kolaborasi antara kebudayaan, pendidikan, dan bidang ilmu pengetahuan dinilai penting agar kekayaan budaya dapat terus berkembang mengikuti perubahan zaman.
Pandangan tersebut disampaikan Fadli Zon dalam Public Lecture pada pembukaan Pagelaran Budaya Karya Raya FTUI 2026 di Auditorium K.301 Adi Karsa Keteknikan, Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI) baru-baru ini.
“Pemajuan kebudayaan membutuhkan kolaborasi berbagai bidang keilmuan, termasuk STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics). Teknologi dapat membuka banyak ruang untuk mengembangkan kebudayaan, mulai dari kecerdasan artifisial, teknologi digital, desain, arsitektur, hingga produksi seni dan budaya,” kata Fadli Zon dalam keterangan pers dikutip, Kamis, 13 Agustus 2026.
Gagasan tersebut sejalan dengan tema Karya Raya FTUI 2026 yang mempertemukan unsur teknik, inovasi, dan kebudayaan. Melalui kegiatan tersebut, kebudayaan ditempatkan sebagai ruang pertemuan antara kreativitas, teknologi, pendidikan, dan nilai-nilai yang berkembang di masyarakat.
.jpeg)
Menteri Kebudayaan Fadli Zon di Auditorium K.301 Adi Karsa Keteknikan, Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI). Dokumentasi/ Humas Universitas Indonesia.
Fadli berharap kegiatan yang mempertemukan berbagai bidang tersebut dapat menjadi ruang kolaborasi yang lebih luas antara dunia seni, budaya, teknologi, dan pendidikan.
Budaya Jadi Landasan Perkembangan Teknologi
Wakil Rektor Bidang Akademik Universitas Indonesia, Mahmud Sudibandriyo, mengatakan perkembangan teknologi perlu tetap disertai perhatian terhadap nilai-nilai budaya dan kemanusiaan.
Menurutnya, perguruan tinggi tidak hanya memiliki peran dalam menghasilkan lulusan dan inovasi, tetapi juga dapat menjadi ruang untuk menjaga kebudayaan serta mengembangkan gagasan yang relevan dengan tantangan masa depan.
“Universitas Indonesia meyakini bahwa perguruan tinggi tidak hanya bertugas menghasilkan lulusan yang unggul dan inovasi yang berkualitas, tetapi juga memiliki tanggung jawab untuk merawat kebudayaan, memperkuat karakter bangsa, serta menjadi ruang lahirnya gagasan-gagasan yang mampu menjawab tantangan masa depan,” kata Mahmud.
Sementara Dekan FTUI Kemas Ridwan Kurniawan menilai teknologi dan budaya tidak seharusnya ditempatkan sebagai dua hal yang berjalan terpisah. Menurutnya, perkembangan teknologi tetap perlu mempertimbangkan nilai kemanusiaan serta kebutuhan masyarakat.
“Teknologi lahir dari budaya, memengaruhi budaya, dan pada saat yang sama harus mampu memberi manfaat bagi manusia dan masyarakat. Inilah semangat yang ingin kami bangun melalui Karya Raya FTUI 2026,” jelas Kemas.
Ia mengatakan pemahaman tersebut juga penting dalam pendidikan keteknikan. Penguasaan teknologi, menurutnya, perlu diimbangi dengan karakter, kreativitas, dan kepedulian terhadap lingkungan sosial dan budaya.
“Bagi kami, menjadi insan teknik tidak cukup hanya dengan menguasai teknologi yang hebat. Kami juga ingin membangun manusia dan lingkungan akademik yang memiliki karakter, kreativitas, kepedulian terhadap budaya, serta mampu memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.
Mengenalkan Keberagaman Budaya
Karya Raya FTUI 2026 merupakan bagian dari rangkaian Dies Natalis FTUI ke-62. Kegiatan tersebut menghadirkan sejumlah aktivitas yang mempertemukan karya akademik dan ekspresi budaya, di antaranya pameran budaya, pameran inovasi dan industri, serta pertunjukan seni.
Salah satu penampilan dalam kegiatan tersebut berupa pertunjukan tari Papua oleh CEP CCIT. Pertunjukan itu membawakan sejumlah lagu daerah, yakni Mambo Simbo, Dibaye Dibayo, dan Apuse.
Ketiga lagu tersebut membawa pesan yang berbeda, mulai dari keceriaan dan kekompakan hingga persatuan, gotong royong, rasa syukur, kasih sayang keluarga, serta perpisahan.
Melalui kegiatan tersebut, pertemuan antara teknologi dan kebudayaan menjadi salah satu cara untuk memperkenalkan keberagaman budaya kepada generasi muda. Di tengah perubahan teknologi yang berlangsung cepat, pemahaman terhadap budaya dinilai tetap penting sebagai bagian dari pembentukan karakter dan identitas masyarakat.