Abdul El-Sayed Menang Kursi Senat AS di Tengah Serangan Islamofobia

Politikus Partai Demokrat Abdul El-Sayed. Foto: Anadolu

Abdul El-Sayed Menang Kursi Senat AS di Tengah Serangan Islamofobia

Muhammad Reyhansyah • 5 November 2026 11:34

Michigan: Politikus Partai Demokrat Abdul El-Sayed mengalahkan pesaingnya dari Partai Republik, Mike Rogers, dalam pemilihan Senat Amerika Serikat (AS) dari Michigan pada Selasa, 3 November 2026. Kemenangan tersebut menjadikannya Muslim pertama yang terpilih menjadi senator dalam sejarah AS.

El-Sayed dijadwalkan dilantik pada 3 Januari 2027. Kemenangannya juga membantu Partai Demokrat merebut kembali kendali Senat setelah menghadapi kampanye yang diwarnai serangan anti-Muslim dan anti-Arab, termasuk dari Presiden Donald Trump.

Mengutip laporan Al Jazeera, Kamis, 5 November 2026, Direktur Eksekutif Arab American Institute (AAI), Maya Berry, mengatakan Partai Republik menggunakan sentimen anti-Arab dan anti-Muslim sebagai strategi untuk menyerang El-Sayed. Namun, upaya tersebut tidak berhasil menghalangi kemenangannya.

“Penolakan para pemilih terhadap sikap fanatik tersebut merupakan hal yang luar biasa. Ini penting bagi setiap anak laki-laki bernama Abdul, setiap anak perempuan bernama Zainab, dan setiap anak kecil bernama Bobby. Pada akhirnya, kita berbicara tentang apakah negara ini mendukung demokrasi yang inklusif atau tidak,” kata Berry kepada Al Jazeera.


Hadapi Serangan Kampanye

Setelah memenangkan pemilihan pendahuluan Demokrat pada Agustus, El-Sayed menghadapi berbagai tuduhan tanpa dasar dari Trump dan sejumlah politikus Republik. Salah satu tuduhan tersebut menyebutnya sebagai seorang “jihadis”.

Dalam pemilihan pendahuluan itu, American Israel Public Affairs Committee (AIPAC) dilaporkan menghabiskan lebih dari USD30 juta untuk menentang pencalonannya. El-Sayed dikenal sebagai pengkritik kebijakan Israel.

Mantan pejabat kesehatan masyarakat tersebut mengusung sejumlah agenda, termasuk memperluas layanan kesehatan yang dibiayai pemerintah agar dapat diakses seluruh warga AS, mengurangi pengaruh uang dalam politik, serta mengatasi krisis keterjangkauan biaya hidup.

Ia juga menuduh Israel melakukan genosida di Gaza dan menyerukan agar anggaran yang selama ini digunakan untuk membiayai perang di luar negeri dialihkan untuk menyelesaikan persoalan domestik.

Pada hari-hari terakhir kampanye, El-Sayed juga menghadapi perkembangan politik yang tidak menguntungkan setelah mantan pesaingnya dalam pemilihan pendahuluan Demokrat, anggota Kongres Haley Stevens, menyatakan dukungan kepada Rogers.

Dukungan Pemilih Michigan

Michigan memiliki komunitas Arab-Amerika yang besar. Sejumlah pemilih di negara bagian tersebut mengatakan pemilu kali ini dapat menentukan arah politik Michigan dan AS dalam beberapa tahun mendatang.

Trump sebelumnya menyerang El-Sayed dengan mengangkat isu agama dan identitas etnisnya. Ia bahkan menyebut warga kulit hitam atau Yahudi yang mendukung El-Sayed sebagai orang yang “gila”.

Namun, hasil awal pemilu menunjukkan El-Sayed memperoleh dukungan kuat dari pemilih kulit hitam di Detroit.

Gary Colbert, salah seorang pemilih di Detroit bagian barat, mengecam pernyataan Trump tersebut. Ia juga mengkritik dampak kebijakan pemerintahan Trump terhadap kehidupan masyarakat, termasuk kenaikan harga bensin akibat perang Iran.

Sementara itu, Frank Espinosa, seorang guru yang menjadi sukarelawan di tempat pemungutan suara di Detroit barat daya, mengatakan perlindungan terhadap imigran dari kebijakan penindakan pemerintahan Trump menjadi salah satu prioritas pemilih.

“Menurut saya, hal nomor satu yang kami inginkan adalah agar ICE keluar dari jalanan kami,” kata Espinosa kepada Al Jazeera, merujuk pada badan penegakan imigrasi AS, Immigration and Customs Enforcement (ICE).

Ia juga menyebut masyarakat menginginkan berakhirnya perang di luar negeri dan biaya hidup yang lebih terjangkau, termasuk harga kebutuhan pokok dan bahan bakar.

Espinosa menilai serangan terhadap agama Islam dan identitas Arab El-Sayed sangat mengecewakan. Namun, ia meyakini masyarakat Detroit akan menentukan pilihan berdasarkan kepentingan mereka sendiri.


Komunitas Arab-Amerika

Di Dearborn, kawasan pinggiran Detroit yang dikenal sebagai pusat komunitas Arab-Amerika, pemilihan tersebut juga dipandang sebagai persoalan hak untuk menjadi bagian dari masyarakat AS.

Ali Baleed Almaklani, seorang pemimpin komunitas Yaman-Amerika, mengatakan kampanye anti-Muslim justru mendorong komunitas Arab dan Muslim meningkatkan partisipasi politik.

“Kami sudah muak dengan semua kebencian ini, begitu pula masyarakat Amerika secara umum,” kata Almaklani kepada Al Jazeera.

Ia menilai El-Sayed lebih banyak membicarakan layanan kesehatan, perekonomian, dan persoalan yang dihadapi masyarakat. Sebaliknya, lawan politiknya lebih banyak mengangkat isu terorisme dan tuduhan tanpa dasar terhadap komunitas Muslim.

Dearborn mencatat tingkat partisipasi pemilih yang tinggi pada Selasa, dengan antrean panjang di sejumlah tempat pemungutan suara.

Sally Howell, profesor sejarah emeritus di University of Michigan-Dearborn yang meneliti komunitas Arab-Amerika, menilai kemenangan El-Sayed menunjukkan keinginan masyarakat AS terhadap perubahan.

“Perubahan ini juga mencakup penolakan terhadap kebencian dalam politik, khususnya kebencian terhadap Muslim,” kata Howell kepada Al Jazeera.

Ia menambahkan kemenangan tersebut juga mencerminkan pengakuan terhadap nilai kehidupan warga Palestina, sebagaimana kehidupan warga Amerika, imigran, dan kelompok lainnya.

(Fajar Nugraha)