Profil Mohammad Yamin, Tokoh Sumpah Pemuda Asal Sumatra Barat

Tokoh Sumpah Pemuda Mohammad Yamin. (Dokumentasi/ Pinterest)

Profil Mohammad Yamin, Tokoh Sumpah Pemuda Asal Sumatra Barat

Silvana Febiari • 22 October 2026 15:56

Jakarta: Mohammad Yamin dikenal sebagai salah satu tokoh penting di balik lahirnya Sumpah Pemuda. Putra asal Talawi, Sumatra Barat, ini berperan dalam memperjuangkan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. 

Mengutip laman Ensiklopedia Sastra Indonesia, Mohammad Yamin lahir di Talawi, dekat Sawahlunto, Sumatra Barat, pada 23 Agustus 1903. Ia merupakan putra Oesman Bagindo Khatib, seorang mantri kopi sekaligus kepala adat di Minangkabau, dan Siti Saadah, perempuan asal Solok.

Yamin menempuh pendidikan di sejumlah sekolah, mulai dari sekolah Melayu, HIS, hingga AMS Yogyakarta yang diselesaikannya pada 1927. Ia kemudian melanjutkan pendidikan di Sekolah Hakim Tinggi di Jakarta dan meraih gelar Meester in de Rechten atau sarjana hukum pada 1932.

Perjuangkan Bahasa Persatuan

Keterlibatan Yamin dalam pergerakan nasional dimulai melalui organisasi pemuda. Ia aktif di Jong Sumatra Bond dan menjadi salah satu tokoh yang mendorong penggunaan bahasa Melayu sebagai bahasa pemersatu berbagai suku bangsa di Indonesia.

Dalam Kongres Pemuda Indonesia I pada 1926, Yamin turut memperjuangkan gagasan bahasa persatuan. Pemikiran tersebut berkembang dalam Kongres Pemuda II yang berlangsung pada 28 Oktober 1928.

Kongres itu menghasilkan Sumpah Pemuda, termasuk ikrar untuk menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Kesepakatan tersebut menjadi tonggak penting dalam pembentukan identitas nasional di tengah keberagaman bahasa dan budaya masyarakat Nusantara.

Gagasan Yamin tentang bahasa persatuan juga tercermin dalam karya sastranya. Pada 1920, ia menulis puisi Tanah Air, yang diterbitkan dalam majalah Jong Sumatra. Sementara itu, kumpulan puisi Indonesia Tumpah Darahku terbit pada 1928, memperlihatkan semangat cinta tanah air dan persatuan bangsa.

Pelopor Sastra Modern Indonesia

Selain aktif dalam pergerakan politik, Yamin dikenal sebagai salah satu pelopor puisi modern Indonesia. Ia menghasilkan sejumlah karya sastra, termasuk drama Ken Arok dan Ken Dedes, yang pertama kali dipentaskan pada 27 Oktober 1928.

Yamin juga menerjemahkan karya sastra dunia, seperti karya Rabindranath Tagore dan drama Julius Caesar karya William Shakespeare. Minatnya terhadap sejarah dan kebudayaan turut dituangkan dalam buku Gadjah Mada (1946), Pangeran Dipanegara (1950), dan 6000 Tahun Sang Merah Putih (1954).

Karya-karya tersebut memperlihatkan perhatian Yamin terhadap pembentukan identitas bangsa, baik melalui bahasa, sastra, maupun pemahaman sejarah.


Tokoh Sumpah Pemuda Mohammad Yamin. (Dokumentasi/ Wikipedia)

Berkiprah dalam Pemerintahan

Peran Yamin berlanjut dalam proses pembentukan negara Indonesia. Ia menjadi anggota Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Ia juga terlibat dalam pembahasan ketatanegaraan pada masa menjelang kemerdekaan.

Setelah Indonesia merdeka, Yamin menduduki sejumlah jabatan penting. Ia pernah menjadi Menteri Kehakiman pada 1951 dan Menteri Pengajaran, Pendidikan, dan Kebudayaan pada 1952–1955. Ia juga dipercaya memimpin Panitia Pemilihan Umum 1955 serta Dewan Perancang Nasional pada 1962.

Kiprahnya di berbagai bidang menunjukkan luasnya kontribusi Yamin dalam perjalanan bangsa. Mulai dari pergerakan pemuda hingga pembangunan pemerintahan.

Mohammad Yamin meninggal dunia di Jakarta pada 17 Oktober 1962 dan dimakamkan di tanah kelahirannya, Talawi, Sawahlunto, Sumatra Barat. Pemerintah menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden RI pada 6 November 1973.

(Silvana Febiari)