(Ilustrasi seseorang mengalami gejala influenza. Foto: AI Generated)
Temuan Influenza A di Tangerang Capai 30 Ribu Kasus, Ini Pemicunya
Silvana Febiari • 3 October 2026 13:34
Kabupaten Tangerang: Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten, mencatat 30.000 kasus infeksi influenza tipe A sepanjang periode Januari hingga September 2026.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang, Hendra Tarmizi menjelaskan lonjakan kasus ini dipicu oleh faktor cuaca ekstrem serta tingginya tingkat paparan polusi atau debu akibat kemarau panjang.
"Jumlah laporan kasus yang biasanya berkisar antara 20.000 hingga 25.000 kasus per bulan, kini telah melonjak menjadi hampir 28.000 hingga 30.000 kasus," kata Hendra, dilansir dari Antara, Sabtu, 3 Oktober 2026.
Selama dua bulan terakhir antara periode Agustus sampai September 2026, temuan kasus influenza ini naik mencapai sekitar 5.000 kasus setiap bulannya.
"Jadi meningkat itu karena faktor cuaca kan memang banyak udara hujan belum turun, kemudian juga debu banyak, itu yang membuat banyak influenza meningkat, hampir 5.000 kasus per bulan," ujarnya.
Sejumlah fasilitas kesehatan di Kabupaten Tangerang belum melakukan pemeriksaan laboratorium khusus untuk mendeteksi sub-tipe virus influenza tipe A tersebut. Namun, sebagian besar kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) pada dasarnya disebabkan virus influenza.
"Sebenarnya ISPA itu sebagian besar penyebabnya dari virus influenza. Memang karena kita tidak ada pemeriksaan influenza A," ucapnya.
Berdasarkan laporan yang diterima Dinkes, lonjakan kasus ini terjadi di hampir semua kelompok usia, mulai dari anak-anak, orang dewasa, hingga lansia. Penyebarannya juga telah meluas ke seluruh kecamatan di Kabupaten Tangerang.
"Sebarannya hampir semuanya ada di 29 kecamatan yang ada," ungkapnya.

Dok- Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang, Hendra Tarmizi memberikan keterangan resmi kepada awak media di Kabupaten Tangerang, Banten. ANTARA/Azmi Samsul M
Ia menilai penularan jenis virus ini tergolong cepat karena menyerupai karakteristik penularan virus seperti COVID-19, yakni melalui kontak erat dan droplet.
Meski demikian, penularan tersebut dapat dicegah dengan menjaga daya tahan tubuh dan menerapkan protokol kesehatan melalui pengurangan kontak erat terhadap penderitanya.
"Ya, biasanya melalui kontak erat, kontak droplet, seoerti halnya COVID aja itu tidak ada bedanya karena sama-sama virus," tuturnya.
Secara umum infeksi influenza ini tidak tergolong berbahaya bagi masyarakat. Infeksi tersebut biasanya dapat sembuh dengan sendirinya secara alami.
"Cuma akan bermasalah kalau yang diserang itu anak kecil yang daya tahan tubuhnya rendah, orang dewasa yang punya penyakit asma atau bronkitis, nah itu akan tambah parah," papar dia.