KLH Bakal Jembatani Penjualan Energi Hijau dari Sampah ke Industri

Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (LH/BPLH) Jumhur Hidayat saat meninjau Pusat Olah Sampah Setempat (TOSS) Center??????? Gema Santi di Kabupaten Klungkung, Bali, Sabtu, 3 Oktober 2026. Foto: Istimewa.

KLH Bakal Jembatani Penjualan Energi Hijau dari Sampah ke Industri

Gabriella Thesa Widiari • 4 October 2026 15:46

Jakarta: Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) menyatakan kesiapannya untuk menghubungkan energi hijau dari olahan sampah daerah dengan industri besar sebagai sumber energi alternatif. Langkah ini ditempuh untuk memastikan kepastian pembeli sehingga pengolahan sampah daerah berjalan berkelanjutan.

"Pemerintah akan mendorong kalau ada kesulitan soal pembeli dan sebagainya, nanti kami akan coba komunikasi. Karena sebaliknya, dari pihak pembeli juga sudah menghubungi kami (KLH). Mereka mencari di mana ada produk-produk yang seperti ini, tolong diberitahu untuk bisa dia peroleh," kata Menteri LH/Kepala BPLH Jumhur Hidayat, dilansir dari Antara, Minggu, 4 Oktober 2026.

Usai meninjau TOSS Center Gema Santi di Kabupaten Klungkung, Bali, Sabtu, 3 Oktober 2026, Jumhur menilai penggunaan bahan bakar olahan sampah membawa solusi ganda bagi industri padat energi. Selain efisiensi biaya, penggunaan energi ramah lingkungan membantu korporasi meraih pengakuan atas penurunan emisi karbon menuju target Net Zero Emission (NZE).

Terkait kendala jarak dan biaya logistik dari fasilitas pengolahan sampah ke kawasan industri, KLH mendorong skema pengolahan sampah antardaerah secara terintegrasi. Penggabungan volume sampah dari beberapa kabupaten dianggap ampuh menekan biaya produksi per unit sehingga lebih ekonomis bagi industri.


Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (LH/BPLH) Jumhur Hidayat saat meninjau Pusat Olah Sampah Setempat (TOSS) Center Gema Santi di Kabupaten Klungkung, Bali, Sabtu, 3 Oktober 2026. Foto: Istimewa. 

"Misal mengerjakan pengolahan sampah yang menghasilkan 1.000 ton dengan menghasilkan 100 ton bisa jadi tenaga kerja manusianya sama jumlahnya tapi hasilnya lebih banyak yang 1.000 ton. Artinya per unit, biaya yang dikeluarkan atau cost-nya lebih rendah. Biasanya orang bisnis akan berpandangan seperti itu," kata Jumhur.

(Gabriella Thesa Widiari)