KRL Green Line Makin Padat, KAI: Penumpang Membeludak, Kereta Terbatas

Ilustrasi KRL Jabodetabek. Foto: Metrotvnews.com/M. Azri Arifin.

KRL Green Line Makin Padat, KAI: Penumpang Membeludak, Kereta Terbatas

Putri Purnama Sari • 13 October 2026 13:58

Jakarta: Kepadatan penumpang KRL Commuter Line Jabodetabek masih menjadi persoalan di tengah meningkatnya jumlah pengguna. Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (KAI) Bobby Rasyidin mengungkapkan, tingkat okupansi tertinggi terjadi di Green Line atau lintas Rangkasbitung, yang mencapai 160 persen.

Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan Red Line dengan okupansi 130 persen dan Blue Line sebesar 120 persen. Kondisi ini menunjukkan tekanan kapasitas angkutan KRL yang berbeda-beda di setiap lintas.

Bobby menjelaskan, okupansi berkaitan dengan jumlah penumpang yang ditampung dalam satu gerbong KRL berukuran sekitar 20 x 3 meter persegi. Berdasarkan keterangannya, standar kepadatan yang digunakan adalah enam orang per meter persegi.

Namun, kepadatan penumpang di lintas Bogor dan Bekasi masih berada pada kisaran tujuh orang per meter persegi. Sementara itu, lintas Rangkasbitung memiliki kepadatan yang jauh lebih tinggi, yakni mencapai 12 orang per meter persegi.

“Standarnya itu 1 banding 6 (6 orang per meter persegi). Nah, Bogor dan Bekasi itu masih sekitar 1 banding 7 (7 orang per meter persegi). Sementara kalau yang Rangkasbitung ini 1 banding 12 (12 orang per meter persegi),” ujar Bobby, yang dikutip Selasa, 13 Oktober 2026.

Pengguna KRL Green Line Naik 79,03 Persen

Tingginya kepadatan penumpang di Green Line tidak terlepas dari pertumbuhan jumlah pengguna dalam beberapa tahun terakhir. Berdasarkan data KAI, jumlah pengguna di lintas ini meningkat sekitar 79,03 persen selama periode 2022–2025.

Pertumbuhan tersebut menjadi yang tertinggi dibandingkan lintas lainnya. Pada periode yang sama, jumlah pengguna Red Line meningkat 51,89 persen, sedangkan Blue Line mengalami kenaikan 54,40 persen.

Kenaikan jumlah pengguna yang tidak diimbangi kapasitas angkutan yang memadai dapat meningkatkan tekanan terhadap layanan, terutama pada jam-jam sibuk ketika banyak penumpang melakukan perjalanan menuju dan dari pusat aktivitas.

Kondisi ini membuat pengaturan jadwal perjalanan serta kapasitas rangkaian menjadi faktor penting dalam mendukung kelancaran layanan KRL Jabodetabek.

Headway KRL Green Line Jadi Salah Satu Persoalan

Bobby menyebut persoalan kepadatan di Green Line juga berkaitan dengan headway atau jarak waktu antarkereta yang masih berkisar 10–15 menit.

Jarak waktu tersebut membuat penumpang harus menunggu kedatangan kereta berikutnya. Ketika jumlah pengguna meningkat, penumpang yang menunggu berpotensi menambah kepadatan di stasiun maupun di dalam rangkaian yang datang.

Semakin tinggi permintaan perjalanan, semakin penting pula pengaturan frekuensi kereta agar kapasitas angkutan dapat mengakomodasi kebutuhan penumpang.

Meski demikian, kepadatan tidak hanya dipengaruhi oleh jarak waktu antarkereta. Pertumbuhan jumlah pengguna, kapasitas setiap rangkaian, dan jumlah kereta yang beroperasi juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan.

Jumlah Rangkaian KRL Green Line Masih Terbatas

Di tengah pertumbuhan pengguna yang paling tinggi, Green Line masih dilayani rangkaian dengan 10 gerbong. Jumlah rangkaian yang beroperasi di lintas ini tercatat sebanyak 19 rangkaian.

Sementara itu, Red Line dilayani 37 rangkaian dengan jumlah gerbong berkisar 8–12 gerbong. Adapun Blue Line memiliki 26 rangkaian dengan jumlah gerbong 10–12 gerbong.

Perbedaan jumlah rangkaian dan kapasitas gerbong tersebut menjadi salah satu aspek penting dalam melihat kemampuan layanan setiap lintas untuk menampung penumpang.

Berikut perbandingan kondisi KRL berdasarkan data yang disampaikan KAI:
  • Green Line: Okupansi 160 persen, pertumbuhan pengguna 79,03 persen pada 2022–2025, dan 19 rangkaian dengan 10 gerbong.
  • Red Line: Okupansi 130 persen, pertumbuhan pengguna 51,89 persen pada 2022–2025, dan 37 rangkaian dengan 8–12 gerbong.
  • Blue Line: Okupansi 120 persen, pertumbuhan pengguna 54,40 persen pada 2022–2025, dan 26 rangkaian dengan 10–12 gerbong.

(Putri Purnama Sari)