Harga Emas Dunia Naik Tipis, Mendekati USD4.200

Ilustrasi. Foto: Freepik.

Harga Emas Dunia Naik Tipis, Mendekati USD4.200

Eko Nordiansyah • 12 October 2026 08:52

Chicago: Harga emas dunia naik tipis pada Senin, 12 Oktober 2025 saat para pedagang menimbang klaim Presiden AS Donald Trump mengenai gencatan senjata energi segera antara Rusia dan Ukraina. Hal ini juga terjadi di tengah serangan baru di Timur Tengah yang mengancam akan memperparah tekanan inflasi.

Dikutip dari Investing, XAU/USD naik 0,3 persen menjadi USD4.206,86 per ons setelah menguat 1,3 persen pekan lalu. Sementara XAG/USD naik 0,6 persen menjadi USD60,99. Platinum dan paladium juga bergerak naik. Minyak mentah Brent acuan turun 1,2 persen.

Gencatan senjata energi Rusia-Ukraina mengimbangi risiko Timur Tengah

Trump mengatakan gencatan senjata energi antara Rusia dan Ukraina telah berlaku segera, memunculkan harapan akan adanya sedikit kelegaan bagi pasokan bahan bakar global.

Sebelumnya, ia telah mendesak Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy untuk menghentikan serangan terhadap kilang minyak Rusia dan menyatakan bahwa Moskow telah setuju untuk melepas pasokan diesel ke pasar global, yang berpotensi meredakan kekhawatiran akan krisis pasokan bahan bakar.

Namun, serangan baru di Timur Tengah terus mengancam keamanan energi. Bandara utama Arab Saudi, Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, diserang oleh pemberontak Houthi pada hari Minggu, sehari setelah serangan terhadap fasilitas tersebut menewaskan 12 orang dan melukai lebih dari 300 orang.
(Ilustrasi. Foto: Unplash)

Serangan yang dilancarkan Sabtu itu merupakan insiden paling mematikan di Arab Saudi sejak perang Iran dimulai pada akhir Februari. Kelompok Houthi menyebut serangan mereka sebagai balasan atas apa yang mereka sebut sebagai agresi Saudi, termasuk serangan terhadap bandara di ibu kota Yaman, Sanaa.

Eskalasi kekerasan terbaru ini memicu kekhawatiran konflik dapat meluas ke seluruh kawasan, yang berpotensi mendorong kenaikan harga energi dan memperkuat argumen perlunya kebijakan moneter yang lebih ketat.

Meskipun harga minyak telah melandai, logam mulia ini telah kehilangan sekitar seperlima nilainya sejak ketegangan AS-Iran memuncak pada akhir Februari.

Biaya energi yang lebih tinggi dan ancaman inflasi yang lebih luas telah mendorong sejumlah bank sentral untuk menaikkan suku bunga; hal ini menjadi hambatan bagi emas karena aset tersebut tidak menghasilkan pendapatan bunga.

Permintaan bank sentral menopang emas

Analis ANZ menyatakan kinerja emas belakangan ini didukung oleh meningkatnya permintaan investasi, dengan arus masuk dana ke exchange-traded fund (ETF) berbasis emas mencapai level tertinggi dalam empat tahun, menurut data Bloomberg.

Para analis mengaitkan minat investor tersebut dengan meningkatnya tekanan fiskal di seluruh dunia, khususnya kekhawatiran mengenai biaya pembayaran utang pemerintah dan jumlah uang beredar. Bank-bank sentral juga terus menambah cadangan emas mereka.

People’s Bank of China (Bank Sentral Tiongkok) menambah cadangannya sebesar 740 ribu ons pada September, melanjutkan tren pembelian yang telah berlangsung selama 23 bulan berturut-turut.

Namun, ANZ memperingatkan risiko inflasi dapat membatasi kenaikan harga lebih lanjut jika hal tersebut mendorong Federal Reserve untuk memperketat kebijakan lebih jauh.

Prospek suku bunga yang lebih tinggi tetap menjadi kekhawatiran bagi emas, karena aset yang menghasilkan imbal hasil (yield) menjadi lebih menarik ketika biaya pinjaman meningkat.

Oleh karena itu, para pedagang akan terus mempertimbangkan perkembangan konflik Rusia-Ukraina serta arus energi Timur Tengah terhadap prospek inflasi dan kebijakan moneter.

(Eko Nordiansyah)