71 Persen Calon Haji Mataram Berisiko Tinggi

Pelepasan jamaah calon haji asal Kabupaten Lombok Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Barat, di Asrama Haji Embarkasi Lombok Jalan Lingkar Selatan, Kota Mataram, Rabu, 22 April 2026. ANTARA/Nirkomala.

71 Persen Calon Haji Mataram Berisiko Tinggi

Silvana Febiari • 22 April 2026 15:20

Mataram: Dinas Kesehatan Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB) mencatat sekitar 71 persen calon haji asal Kota Mataram yang berangkat ke Tanah Suci pada musim haji 1447 Hijriah/2026 masuk kategori risiko tinggi (risti). Hasil pemeriksaan terhadap 809 calon haji menunjukkan sekitar 71 persen di antaranya dinyatakan berisiko tinggi.

"Calon haji yang masuk kategori risti dipicu dengan beragam penyebab," kata Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Mataram dr H Emirald Isfihan, dilansir dari Antara, Rabu, 22 April 2026. 

Beberapa penyebab calon haji masuk kategori risiko tinggi antara lain karena dipengaruhi faktor usia. Apalagi, calon jemaah haji yang berangkat tahun ini masih didominasi oleh jemaah lanjut usia (lansia).
 


Selain itu, jemaah yang masuk kategori risti masih didominasi karena hipertensi atau tekanan darah tinggi. Banyak di antara mereka juga memiliki penyakit degeneratif yang umumnya diderita lansia.

"Ada diabetes, dan juga karena satu dua penyakit lainnya. Tapi itu masih memenuhi kriteria dari istitaah kesehatan,"ucapnya.

Kendati masuk kategori risti, lanjut Emirald, calon haji tersebut masih layak dari sisi kesehatan untuk berangkat ke Tanah Suci. Sebab dari sistem komputerisasi haji terpadu bidang kesehatan (Siskohatkes), jemaah tersebut dinyatakan layak berangkat.

"Dari kesehatan, jemaah sudah memenuhi istitaah sehingga walaupun dia berisiko tinggi, tapi untuk melaksanakan ibadah masih posisinya masih bisa," ungkapnya.


Ilustrasi haji. Foto: Metro TV/Misbahol Moenir


Untuk memastikan kondisi jemaah tetap sehat dan mandiri selama di Tanah Suci, Dinkes Kota Mataram sudah bertemu dan berkoordinasi dengan tim kesehatan yang akan mendampingi jemaah ke Tanah Suci.

"Kami sudah mengingatkan petugas agar memberikan perhatian dan pendampingan lebih kepada jemaah dengan risiko tinggi, bahkan tidak hanya berkaitan dengan kesehatan tetapi juga bagaimana upaya pencegahannya di Tanah Suci," bebernya.

Emirald juga mengingatkan, pola makan, pola tidur dan istirahat jemaah sangat menentukan kesehatan. Untuk itu, perlu pendampingan petugas dalam menjalankan ibadah.

Di sisi lain, perubahan cuaca panas saat ini juga menjadi perhatian bagi calon haji karena dapat menyebabkan heatstroke. Kondisi ini perlu diantisipasi oleh jemaah karena hampir setiap tahun terjadi di Tanah Suci.

"Kondisi itu tentu menjadi atensi petugas kesehatan kami di sana. Tim kesehatan akan terus mengingatkan jemaah untuk selalu mengonsumsi obat dan memperbanyak minum air putih agar jemaah tidak dehidrasi," ujarnya.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Silvana Febiari)