Tucker Carlson saat masih akrab dengan Donald Trump. Foto: Press TV
Perang Melawan Iran adalah Kesalahan Terbesar Presiden AS
Fajar Nugraha • 13 April 2026 11:32
London: Perselisihan antara Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan mantan pembawa acara Fox News, Tucker Carlson, semakin menajam.
Ini terjadi setelah Carlson menyebut keputusan Trump meluncurkan perang melawan Iran sebagai kesalahan kebijakan luar negeri terbesar oleh pemimpin AS di masa hidupnya.
Dalam wawancara di program BBC "Sunday with Laura Kuenssberg," Carlson ditanya mengenai apakah Trump telah menjadi budak Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Meski menolak karakterisasi sederhana tersebut, ia menuding rezim Israel telah menyetir pemerintahan Trump ke dalam perang yang tidak beralasan dan ilegal.
"Saya tidak berpikir sesederhana bahwa 'dia berada di bawah kendali Netanyahu,' tetapi Anda tentu bisa meringkasnya seperti itu dan Anda tidak akan sepenuhnya salah," ujar Carlson, seperti dikutip dari Press TV, Senin, 13 April 2026.
Ia kemudian menyampaikan kritik paling kerasnya dengan menyebut perang tersebut sebagai blunder sejarah bagi kepresidenan Amerika Serikat.
"Kita mengetahui hal ini karena kesalahan tunggal terbesar yang dilakukan Trump atau presiden Amerika mana pun di masa hidup saya, adalah berperang dengan Iran dalam upaya mengubah rezimnya," tegas Carlson.
Ketika pembawa acara mencatat bahwa presiden-presiden AS terdahulu terkadang berani menolak permintaan Netanyahu, Carlson menyetujuinya tanpa ragu dan menyayangkan sikap Trump yang tidak melakukan hal serupa. Carlson lebih lanjut menegaskan bahwa pejabat rezim Israel secara aktif memanipulasi Amerika Serikat ke dalam perang yang ia nilai merugikan Washington dan dunia.
Sebelumnya pada Jumat, Carlson juga mengatakan kepada Newsmax bahwa Trump seolah menjadi budak bagi rezim Israel dan menyebut cara presiden menangani perang melawan Republik Islam Iran sangat mengerikan untuk disaksikan. Carlson mengaku tetap menyukai Trump namun merasa kasihan karena menganggap sang presiden tidak bisa membuat keputusannya sendiri dan terhimpit oleh kekuatan luar.
Pernyataan ini muncul setelah Trump melalui unggahan media sosial pada 9 April mengejek Carlson serta kritikus pro-MAGA lainnya sebagai individu ber-IQ rendah yang hanya mencari publisitas. Trump mengeklaim bahwa pandangan para kritikus tersebut berlawanan dengan gerakan MAGA dan menyebut Carlson sebagai pria yang hancur setelah dipecat dari Fox News.
Perang melawan Iran, yang pecah di tengah berlangsungnya pembicaraan nuklir, telah memicu penolakan keras dari sejumlah tokoh media terkemuka yang sebelumnya menyelaraskan diri dengan Trump. Mereka mulai mempertanyakan keputusan presiden yang dianggap berada di bawah pengaruh lobi zionis di Washington.
Carlson menyebut ancaman keras Trump pada hari Minggu Paskah terhadap infrastruktur sipil Iran sebagai sebuah kejahatan perang dan kejahatan moral. Sementara itu, mantan anggota DPR dari Partai Republik, Marjorie Taylor Greene, bahkan menyerukan agar Trump dicopot dari jabatannya melalui Amandemen ke-25 setelah presiden mengancam akan memusnahkan sebuah peradaban dalam unggahannya pada 7 April.
Berbagai jajak pendapat menunjukkan bahwa perang melawan Iran sangat tidak populer di mata publik Amerika Serikat. Konflik tersebut telah menelan biaya miliaran dolar tanpa berhasil mencapai satu pun tujuan strategis yang dicanangkan oleh pemerintah.
(Kelvin Yurcel)