Indonesia Perkuat Akses Industri ke Eurasia, Tajikistan Jadi Mitra Strategis

Dirjen KPAII Kemenperin Tri Supondy (kiri) bersama Wamenperin dan Teknologi Baru Republik Tajikistan Aziz Nazar. Foto: Biro Humas Kemenperin.

Indonesia Perkuat Akses Industri ke Eurasia, Tajikistan Jadi Mitra Strategis

Husen Miftahudin • 15 June 2026 11:34

Jakarta: Kementerian Perindustrian (Kemenperin) membidik penguatan akses pasar industri Indonesia ke kawasan Eurasia melalui peningkatan kerja sama bilateral dengan Tajikistan.

Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan kolaborasi industri antarnegara perlu terus diperkuat untuk mendorong inovasi, memperluas akses pasar, dan membuka peluang investasi yang mampu menciptakan nilai tambah bagi kedua pihak.

"Kolaborasi industri antarnegara perlu terus diperkuat untuk memacu inovasi, memperluas akses pasar, serta menciptakan peluang investasi yang memberikan nilai tambah bagi kedua belah pihak," ujar Agus dalam keterangan resmi, dikutip dari Antara, Senin, 15 Juni 2026.

Agus menilai hubungan Indonesia dan Tajikistan memiliki potensi yang saling melengkapi. Indonesia, sebagai salah satu pusat industri terbesar di Asia Tenggara, memiliki kekuatan pada sektor otomotif, elektronik, tekstil, serta industri pengolahan berbasis sumber daya alam.

Di sisi lain, Tajikistan tengah mempercepat pengembangan industri berbasis mineral, aluminium, tekstil, dan teknologi baru.

Potensi tersebut menjadi fokus pembahasan dalam pertemuan bilateral antara Direktur Jenderal Ketahanan, Perwilayahan, dan Akses Industri Internasional (KPAII) Kemenperin Tri Supondy dengan Wakil Menteri Perindustrian dan Teknologi Baru Republik Tajikistan Aziz Nazar.

Pertemuan berlangsung dalam rangkaian BRICS Forum on Partnership on New Industrial Revolution (PartNIR) 2026 di Xiamen, China, pada Rabu, 28 Mei 2026.
 

Baca juga: Wamenperin Optimistis Industri Tekstil Nasional Punya Peluang Besar di Pasar Global


(Bilateral meeting Indonesia-Tajikistan dalam rangkaian acara PartNIR 2026. Foto: dok Biro Humas Kemenperin)

 

Tajikistan jadi pintu masuk ke Kawasan CIS


Dalam pertemuan itu, kedua delegasi membahas sejumlah peluang kerja sama yang dinilai mampu memperkuat kemitraan industri kedua negara.

Indonesia memandang Tajikistan sebagai mitra penting sekaligus pintu masuk strategis untuk memperluas jangkauan produk manufaktur nasional ke kawasan Commonwealth of Independent States (CIS).

Dalam beberapa tahun terakhir, hubungan ekonomi kedua negara menunjukkan tren positif. Nilai perdagangan Indonesia dan Tajikistan meningkat dari USD1,7 juta pada 2021 menjadi USD1,9 juta pada 2025, dengan kontribusi utama berasal dari sektor nonmigas.

Capaian tersebut menunjukkan masih terbukanya ruang kerja sama yang lebih luas, baik dalam perdagangan maupun pengembangan industri.

Direktur Jenderal KPAII Kemenperin Tri Supondy, mengatakan penguatan hubungan dengan negara-negara mitra menjadi bagian dari strategi memperluas konektivitas industri sekaligus membuka peluang baru bagi pelaku usaha nasional.

"Kami terus meningkatkan peluang terciptanya kemitraan yang saling menguntungkan melalui perluasan jejaring industri, peningkatan investasi, serta pengembangan kerja sama yang mampu memberikan nilai tambah bagi kedua negara," jelas Tri.

Selain menjajaki peluang perdagangan dan investasi, kedua negara juga membahas tindak lanjut inisiasi nota kesepahaman (MoU) bidang industri yang diajukan Tajikistan.

Pembahasan diarahkan pada penyempurnaan ruang lingkup kerja sama agar lebih relevan dengan kebutuhan dan potensi masing-masing negara.
 

Sektor-sektor prioritas kolaborasi


Indonesia dan Tajikistan mengidentifikasi tiga sektor potensial yang dapat menjadi fokus kolaborasi, yakni pengembangan rantai pasok mineral kritis, industri farmasi dan alat kesehatan, serta ekosistem industri halal. Ketiga sektor tersebut dinilai memiliki prospek besar dan berpotensi memberikan manfaat ekonomi bagi kedua negara.

Pertemuan bilateral itu juga menjadi momentum untuk memperkenalkan partisipasi Indonesia sebagai Partner Country pada INNOPROM International Industrial Exhibition 2026 yang akan digelar di Ekaterinburg, Rusia, pada 6-9 Juli 2026.

Keterlibatan Indonesia dalam pameran industri terbesar di kawasan Eurasia itu diharapkan dapat memperluas promosi produk manufaktur nasional sekaligus membuka peluang kemitraan baru dengan pelaku industri dan investor dari berbagai negara.

(Husen Miftahudin)