Presiden Palestina Tuduh Israel Tekan Warga Untuk Tinggalkan Tepi Barat

Presiden Palestina Mahmoud Abbas. Foto: Anadolu

Presiden Palestina Tuduh Israel Tekan Warga Untuk Tinggalkan Tepi Barat

Muhammad Reyhansyah • 11 September 2026 14:51

Ramallah: Presiden Palestina Mahmoud Abbas mengatakan warga Palestina menghadapi “eskalasi berbahaya” dari pemerintah Israel di Tepi Barat yang diduduki, serta tekanan yang menurutnya bertujuan melemahkan kemampuan mereka untuk bertahan dan mendorong mereka meninggalkan wilayah tersebut.

Menurut laporan kantor berita Palestina, Wafa, Kamis, 10 September 2026, Abbas menyampaikan pernyataan itu dalam pidato pembukaan sidang pertama Dewan Revolusioner Gerakan Pembebasan Nasional Palestina atau Fatah.

“Di Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur, kami menghadapi eskalasi berbahaya dari pemerintah Israel yang ekstremis,” kata Abbas, dikutip dari Anadolu.

Menurutnya, eskalasi tersebut mencakup perluasan permukiman, terorisme oleh pihak pendudukan, penyitaan tanah dan padang penggembalaan, pembongkaran rumah, serta pembangunan pos pemeriksaan militer yang memutus akses antarkota dan desa sekaligus menekan kehidupan ekonomi dan sosial warga Palestina.

Abbas juga mengatakan Israel menahan lebih dari USD6 miliar dana Palestina.

“Langkah ini merupakan bagian dari kebijakan yang bertujuan melemahkan kemampuan rakyat Palestina untuk bertahan dan tetap tinggal, serta mendorong mereka menuju emigrasi,” ujar Abbas.

Mengenai Jalur Gaza, Abbas menyerukan pelaksanaan “segera dan penuh” tahap kedua rencana Presiden AS Donald Trump. Menurut Abbas, pelaksanaan tersebut harus mencakup gencatan senjata dan penarikan penuh pasukan Israel dari Gaza.

Tepi Barat yang diduduki telah mengalami peningkatan serangan oleh militer Israel dan pihak pendudukan sejak perang di Gaza dimulai pada Oktober 2023.

Pihak berwenang Palestina menyatakan telah mendokumentasikan pembunuhan, penangkapan, pembongkaran rumah, serangan terhadap masjid dan kendaraan, penghancuran lahan pertanian, pembatasan akses petani ke tanah mereka, serta pemindahan paksa.

Menurut data Palestina, sekitar 750.000 warga Israel tinggal di 156 permukiman ilegal dan 360 pos terdepan di Tepi Barat yang diduduki, termasuk Yerusalem Timur.

Warga Palestina memperingatkan bahwa operasi Israel dan kekerasan oleh pihak pendudukan membuka jalan bagi aneksasi resmi Tepi Barat, yang akan menghambat pembentukan negara Palestina berdasarkan resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Sementara di Tepi Barat, Israel juga telah menjalankan perang di Gaza sejak 8 Oktober 2023 yang disebut pihak berwenang Palestina telah menewaskan lebih dari 73.000 warga Palestina dan melukai lebih dari 174.000 lainnya, sebagian besar perempuan dan anak-anak.

(Fajar Nugraha)