Pemulihan NTT, BNPB Prioritaskan Pembangunan Huntara hingga Fasilitas Publik

Tenaga Ahli Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Oka Prawira.

Pemulihan NTT, BNPB Prioritaskan Pembangunan Huntara hingga Fasilitas Publik

Lukman Diah Sari • 14 September 2026 14:12

Jakarta: Hunian sementara (huntara) untuk warga terdampak gempa bumi magnitudo (M) 7,7 di Nusa Tenggara Timur (NTT) segera dibangun. Hal itu disampaikan Tenaga Ahli Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Oka Prawira. 

"Untuk itu, kami juga akan melaksanakan survei langsung kepada masyarakat, di mana apabila itu secara visual sudah terdampak, dan warganya juga tidak masalah, kami segera bangunkan huntara," ujar Oka dalam siaran Metro TV, Senin, 14 September 2026.

Oka menekankan bahwa pada pekan kedua dan ketiga ini, pihaknya akan memprioritaskan fasilitas pendidikan. Sehingga anak-anak dari jenjang PAUD, TK, SD, SMP, dan SMA dapat melaksanakan proses belajar mengajar dengan baik. 

"Apalagi sekarang sudah mau menghadapi musim hujan, karena di sebagian wilayah selatan Nagekeo sudah mengalami hujan. Untuk itu kita pastikan bahwa tenda-tenda darurat, ataupun fasilitas darurat yang ada, atau fasilitas sementara yang ada, itu dapat menyakinkan mereka dapat belajar dengan baik," jelas Oka.

Warga melintas di samping bangunan rumah yang roboh akibat gempa bumi magnitudo 7,7 di Pulau Palue, Kabupaten Sikka, NTT. ANTARA FOTO/Mega Tokan/wsj.

Kemudian fasilitas lainnya yang masuk prioritas adalah kesehatan, baik itu di puskesmas daerah maupun poliklinik daerah. Dia memastikan fasilitas kesehatan tersebut bisa berjalan untuk melayani kesehatan masyarakat. 

"Kemudian berikutnya adalah memastikan fasilitas sosial dan tempat ibadah dapat digunakan oleh masyarakat, sehingga jalan ekonomi dapat berlangsung, tetap masyarakat dapat beribadah dengan khusyuk dengan baik-baiknya," jelas Oka.

Gempa bumi M 7,7 mengguncang NTT pada 15 Agustus 2026, pukul 04.58 WIB. Bencana gempa itu menyebabkan korban meninggal 135 jiwa, ribuan jiwa luka-luka, dan mengungsi sekitar 60.572 jiwa, serta puluhan ribu unit rumah rusak.

(Lukman Diah Sari)