BRIN Pastikan Tak Ada Tsunami Akibat Erupsi Gunung Anak Krakatau

Warga beraktivitas di bibir pantai saat ombak menerjang kawasan tersebut di Teluk Labuan, Pandeglang, Banten. Foto: ANTARA FOTO/Muhammad Bagus Khoirunas/foc.

BRIN Pastikan Tak Ada Tsunami Akibat Erupsi Gunung Anak Krakatau

Fachri Audhia Hafiez • 14 September 2026 18:18

Jakarta: Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memastikan tidak ada anomali gelombang laut yang memicu ancaman tsunami di Selat Sunda, akibat peningkatan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau. Kabar yang menyebut adanya gelombang tinggi dipastikan hoaks.

"Hasil monitoring 24 jam, tidak ada tsunami ya dipastikan Bapak/Ibu. Jadi kalau ada informasi gelombang surut, gelombang tinggi itu dipastikan hoaks," kata Peneliti Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN Semeidi Husrin dalam diskusi kebencanaan yang diikuti secara daring di Jakarta, dilansir Antara, Senin, 14 September 2026.
 


Semeidi menjelaskan kepastian tersebut didapatkan dari hasil pemantauan intensif perangkat Inexpensive Device for Sea Level Measurement (IDSL) atau Perangkat Ukur Murah untuk Muka Air Laut (PUMMA) yang terpasang di Pulau Rakata. Alat pendeteksi berbasis anomali muka air laut ciptaan BRIN ini sudah terintegrasi langsung dengan sistem peringatan dini BMKG.

Ia tidak memungkiri bahwa semburan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau pada awal September sempat menutupi panel surya alat pemantau. Hal itu memicu kendala pengisian daya baterai IDSL-PUMMA di siang hari, meski alat tetap merekam data gelombang secara akurat.

Guna mengatasi kendala operasional akibat cuaca maupun erupsi, BRIN mendorong kolaborasi antarlembaga untuk memperbanyak unit perangkat pemantau di kawasan terdampak.


Ilustrasi erupsi Gunung Anak Krakatau. Foto: Dok. Antara.

"Oleh karena itu, diperlukan jumlah unit tambahan IDSL-PUMMA yang memadai. Jadi setidaknya diperlukan 6 unit di sana ya (Pulau Rakata), di setiap pulau yang mengelilingi," kata Semeidi.

Selain berencana menambah sensor muka air laut di Pulau Sertung, Pulau Panjang, dan Pulau Rakata, BRIN juga memprioritaskan perbaikan kamera CCTV pengawas untuk validasi visual di lapangan. Penyempurnaan infrastruktur dan pemeliharaan alat secara berkala ini diharapkan dapat mengoptimalkan perlindungan bagi kawasan pesisir Banten dan Lampung.

(Fachri Audhia Hafiez)