Relawan menyalurkan bantuan kepada pengungsi mandiri di Desa Marokopot, Kecamatan Aesesa, Kabupateng Nagekeo, NTT. Metrotvnews.com/Anggi
Misi Kemanusiaan Tak Berhenti, Bantuan untuk Korban Gempa NTT Terus Mengalir
Anggi Tondi Martaon • 31 August 2026 09:13
Nagekeo: Tak ada kata berhenti dalam menjalankan misi kemanusiaan. Hal tersebut yang diyakini sejumlah relawan di posko pusat bantuan di Kecamatan Aesesa, Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT). Mereka seolah tak mengenal lelah dalam menyalurkan bantuan untuk korban gempa magnitudo 7,7 yang mengguncang Flores beberapa waktu lalu.
Metrotvnews.com menyaksikan bagaimana relawan menyalurkan logistik dari perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN), seperti PTPN yang dikoordinasikan BRI, ke beberapa titik untuk memenuhi kebutuhan korban gempa. Salah satu tujuan pengiriman logistik, yakni Desa Marokopot, Kecamatan Aesesa.
Relawan menerabas teriknya panas matahari untuk mendistribusikan bantuan kepada 18 kepala keluarga (KK) yang mengungsi secara mandiri di Desa Marokopot. Bantuan tersebut berisi 78 paket yang terdiri atas lima kilogram (kg) beras, satu kg gula, satu liter minyak goreng, lima bungkus mi instan, hingga biskuit.
Mengungsi Mandiri Demi Jaga Hewan Ternak
Salah satu pengungsi, Mersiana Mei, menjelaskan awalnya mereka mengungsi ke pusat pengungsian yang berada di Lapangan Berdikari, Aesesa. Namun, hari ketiga pascagempa, Marsiana dan sejumlah warga lainnya memilih mendirikan tenda pengungsian secara mandiri lantaran harus bekerja dan menjaga ternak.
"Kita teringat ternak dan anak yang minta uang sekolah, jadi terpaksalah dengan ketakutan kami pulang," ujar Marsiana di Desa Marokopot, NTT, Senin, 31 Agustus 2026.

Suasana kediman pengungsi mandiri di Desa Marokopot, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo, NTT. Metro TV/Anggi
Marsiana mengaku memperoleh bantuan tenda dari BNPB. Sehingga, dia bisa tidur dengan aman sambil menjaga ternaknya.
Marsiana mengatakan jumlah ternak yang warga lebih dari 24 ekor Babi. Salah satu hewan mamalia itu memang banyak dibudidayakan warga di sana, selain kambing dan sapi.
Cari Kebutuhan Hidup Sendiri
Marsiana menyadari ada risiko yang harus diterima saat memilih menjadi pengungsi mandiri. Salah satunya tidak rutin mendapatkan bantuan.
Marsiana dan warga lainnya harus berjuang mencari kebutuhan hidup sendiri. Hingga akhirnya, kondisi tersebut dilihat salah seorang warga dan melaporkannya ke posko pusat.
Gerak Cepat Penyaluran Bantuan
Warga tersebut kemudian mengajukan pendistribusian bantuan. Setelah mendapat laporan, pihak terkait meminta data jumlah pengungsi di posko mandiri tersebut.
Bukan bermaksud mempersulit, data itu dibutuhkan untuk pendataan agar keluar masuk barang bantuan tercatat dengan rapi.
Setelah pengajuan disetujui, koordinator di posko pusat langsung menginstruksikan relawan untuk memuat barang bantuan. Barang bantuan disesuaikan dengan jumlah dan kebutuhan korban yang mengungsi mandiri.
Dalam hitungan menit, proses muat selesai dilakukan. Mereka langsung bergerak ke lokasi dan menyerahkan bantuan.
Relawan Pastikan Bantuan Tersalurkan
Keesokan harinya, relawan kembali menyalurkan bantuan kepada pengungsi mandiri. Kali ini, mereka menyusuri wilayah barat Kabupaten Nagekeo.
Jaraknya dari Kecamatan Aesea mencapai 35 kilometer. Butuh perjalanan satu jam lebih untuk tiba di lokasi penyaluran bantuan.
Jalur yang dilalui relawan juga tidak mulus. Mereka harus melalui jalan menanjak, berkelok-kelok, bahkan berlubang. Namun, 125 paket bantuan tetap disalurkan kepada korban yang membutuhkan di wilayah terdampak gempa.
Para relawan juga membawa kebutuhan bayi dan lansia. Di antaranya, selimut, bantal, tikar, popok, susu formula. Salah seorang relawan, Hendrik, menjelaskan tugas mereka memberikan bantuan ke titik pengungsi mandiri. Mereka setiap hari harus menyisir setiap sudut Nagekeo untuk memastikan semua kebutuhan masyarakat terpenuhi.
"Kami menyisir titik-titik pengungsian yang jarang mendapatkan atau tersentuh bantuan serta rumah mengalami rusak parah," kata Hendrik.
Tidak hanya di Nagekeo, pihaknya pernah mengantar bantuan ke Kecamatan Reo, Manggarai. Jika dilihat dari Google Map, jaraknya mencapai mencapai 149 kilometer dengan waktu tempuh 4 jam 12 menit.
Jarak yang jauh tak membuat relawan menyerah dalam menyalurkan bantuan. Mereka tetap bergerak untuk meringankan beban masyarakat yang terdampak gempa.