Alas Terpal dan Atap Tenda Jadi Saksi Pengabdian Dokter di Pulau Flores

Peskesmas darurat Maukaro memperoleh bantuan untuk tenaga kesehatan. Foto: MetroTVNews/Anggi Tondi.

Alas Terpal dan Atap Tenda Jadi Saksi Pengabdian Dokter di Pulau Flores

Anggi Tondi Martaon • 29 August 2026 10:30

Ende: Mencintai sesuatu berarti rela melakukan apapun. Hal tersebut menggambarkan pengabdian dokter Yolanda Arden Andora Sembiring. Tenaga kesehatan (nakes) yang bertugas di Maukaro, Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT), itu tetap bertahan menjalankan profesinya meski di tengah ketakutan dan ketidaknyamanan semenjak gempa magnitudo 7,7 mengguncang Pulau Flores.

Sejak gempa terjadi pada 15 Agustus 2026, dia harus menginap di tempat yang jauh dari kata layak. Selama beberapa hari pascagempa, Yolanda bersama sejumlah nakes lain harus menghabiskan malam di sebuah tenda terbuka yang disewa.

Mereka juga harus tidur beralaskan terpal. Hal itu tentu sangat tidak mengenakan karena badan harus menahan dingin dari udara malam.

"Jadi malam itu kami sangat kedinginan. Bahkan beberapa nakes kami hampir sakit karena malam dingin dan siangnya panas luar biasa," kata Yolanda kepada Metrotvnews.com menceritakan pengalamannya mengabdi di tengah musibah.

Yolanda mengakui kondisi yang tak nyaman. Namun, pelayanan kesehatan tetap diberikan dari pagi hingga malam. Tubuhnya baru istirahat jika tidak ada lagi pasien yang membutuhkan bantuan.

Namun, kuatnya tekad melayani pasien, hal itu tentu tidak cukup jika tak dibarengi dengan istirahat. Mesin saja kalau dipaksa terus bekerja tanpa istirahat akan rusak, apalagi tubuh manusia.

Setelah berjuang beberapa hari dengan badan yang kecapekan, tubuh Yolanda akhirnya menyerah. Tubuhnya tumbang karena tidak kuat menahan beban pekerjaan yang ekstra tanpa istirahat yang cukup.

Dia pun memutuskan untuk beristirahat setelah dipaksa rekan-rekannya. Jangan sampai, Yolanda sakit karena dia merupakan dokter satu-satunya di kecamatan tersebut. 

Yolanda pun akhirnya mendengarkan saran rekannya. Dia memutuskan istirahat total selama sehari. Meskipun singkat hal itu sudah cukup men-charge energinya kembali.

Perjuangan yang tanpa lelah itu akhirnya menemui kemudahan. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mendirikan dua tenda besar yang dikhusukan untuk pelayanan kesehatan agar nakes dan pasien tidak kepanasan. Di sisi tenda besar tersebut, dibangun sekita empat tenda untuk para nakes beristirahat.

Meski tenda istirahat yang diberikan baru sebatas melindungi mereka dari terik sinar matahari dan angin malam, namun itu sudah cukup. Setidaknya lebih baik dari beberapa hari sebelumnya, mereka bisa tidur dengan nyenyak tanpa diusik oleh dinginnya malam. 

Posko pusat bantuan perusahaan pelat merah di Kabupaten Nagekeo memutuskan untuk membantu  karena jarak mereka lebih dekat jika dibandingkan dengan posko pusat bantuan yang ada di Ende.

Bantuan yang diberikan disesuaikan dengan kebutuhan nakes. Mulai dari bantal, selimut, hingga kasur agar mereka bisa beristirahat dengan normal. 

Yolanda berterima kasih atas bantuan tersebut. Karena, mereka juga membutuhkan perhatian agar tetap dapat menjalankan tugas dengan baik.
 

Layani Proses Kelahiran di Atas Pick Up

Dengan suara seraknya Yolanda bercerita, gempa yang mengguncang Pulau Flores menghancurkan Puskesmas Maukaro yang menjadi tempatnya megabdi selama lima tahun terakhir. Bangunan yang diresmikan sekitar 2020 itu tiak bisa lagi digunakan.

Meski bagian depan terlihat baik-baik saja, tapi di dalam bangunan sudah tidak aman digunakan untuk pelayanan kesehatan. Sejumlah dinding bagian atas bangunan retak hingga roboh. Kondisi tersebut mengakibatkan alat kesehatan rusak berat.

"Dan otomatis tidak bisa digunakan lagi," beber Yolanda. 


dokter Yolanda Arden Andora Sembiring menceritakan pengalamannya memberikan layanan kesehatan di tengah bencana di NTT. Foto: MetroTVNews/Anggi Tondi. 

Di sisi lain, Puskesmas Maukaro merawat seorang ibu hamil yang akan melahirkan. Sialnya, proses persalinan dijadwalkan pada 16 Agustus 2026, atau tepatnya hari pertama pascagempa.

Yolanda harus memutar otak dalam situasi genting tersebut. Sebab, gedung puskesmas yang rusak berat tidak bisa digunakan. Di sisi lain, mereka belum memiliki tenda darurat. Akhirnya, diputuskan proses persalinan di atas pick up dengan peralatan dan obat-obatan seadanya.

Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Proses persalinan tidak sepenuhnya lancar. Sebab, terjadi ratensi plasenta atau ari-ari tidak keluar dengan sendirinya karena tersangkut di dinding leher rahim. Normalnya, ari-ari tersebut keluar dengan sendirinya dalam setengah jam, paling lama. Namun, ari-ari ibu tersebut belum juga keluar setelah sejam lebih. Hal itu membuat pasien mengalami pendarahan hebat. Hemoglobin ibu tersebut turun drastis. 

Mendapati kondisi tersebut, Yolanda dan nakes lain memutuskan mengambil obat-obatan di gedung puskesmas yang sudah retak. Bermodalkan keberanian, para nakes mengambil obat-obatan yang dibutuhkan ibu tersebut.

Namun, kondisi sang ibu tidak kunjung membaik. Yolanda tak mau ambil risiko. Dia pun memutuskan merujuk ibu tersebut ke rumah sakit di pusat Kabupaten Ende dengan ambulans. Adapun waktu tempuh dari lokasi persalinan yang berada di Desa Kebirangga, Maukaro, dengan RS di Ende mencapai 2,5 jam lebih.

"Itu pun kalau tidak ada penghalang," beber Yolanda.

Beruntung, keputusan yang diambil sangat tepat. Setelah menjalani perawatan di RS di Ende, pasien tersebut berangsur pulih. Ibu dan bayi itu selamat setelah melewati persalinan darurat di tengah bencana.

Setelah melalui pengalaman tersebut, Yolanda  berharap agar Puskesmas Maukaro dapat segera diperbaiki. Sebab, keberadaan fasilitas tersebut sangat vital. Selama masa tanggap darurat ini saja, nakes dan relawan di Puskesmas Maukaro sudah melayani 1.246 jiwa.

(Gabriella Thesa Widiari)