Kisah Melli Menembus Bencana Aceh Demi Berkumpul Bersama Keluarga

Melli Saputri, anak serta adiknya berjalan kaki di kawasan Wih Porak. Foto: Istimewa

Kisah Melli Menembus Bencana Aceh Demi Berkumpul Bersama Keluarga

Fajri Fatmawati • 11 January 2026 18:40

Bener Meriah: Ketika kabar terhenti dan jalan terputus, satu-satunya pilihan bagi Melli Saputri, 25, hanyalah pulang. Dari Kota Banda Aceh, ia menempuh perjalanan berisiko menuju Kabupaten Bener Meriah, membawa rindu dan harapan di tengah lanskap bencana Aceh yang belum sepenuhnya pulih.

Perjalanan yang biasanya mudah berubah menjadi ujian keberanian pada 30 Desember 2025. Bersama adik dan anaknya, Melli menumpang kendaraan umum L300 menuju Tenge Besi. Namun setibanya di wilayah terdampak, mereka terpaksa beralih ke jalur alternatif.

"Di kawasan Wih Porak, mobil sempat tersangkut karena derasnya aliran air menyerupai sungai, semua penumpang turun dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki," ujar Melli kepada Metrotvnews.com, Minggu, 11 Januari 2026.
 


Dengan beban ganda di tubuhnya, Melli melangkah pelan. Tas berisi pakaian digendong di punggung, sementara tas lain berisi sembako dipeluk di dada sebagai bekal untuk keluarga di kampung, mengingat harga kebutuhan pokok di daerah tersebut melonjak pasca-bencana.

“Apa-apa mahal di Bener Meriah,” tutur Melli lirih.

Medan semakin berat ketika mereka mendekati jembatan berlumpur. Jalan licin dan genangan air memaksa Melli menyewa jasa porter agar barang-barang bisa menyeberang dengan aman. 

Selepas itu, kendaraan biasa tak lagi mampu melintas. Ia dan anaknya menumpang mobil pikap dengan bayaran sukarela, lalu kembali berjalan kaki di lumpur tebal menuju titik terakhir.

Saat tenaga hampir habis, harapan datang dari arah berlawanan. Sang ayah menyusul menjemput, setelah sinyal komunikasi kembali terhubung di wilayah tersebut. “Waktu mau sampai, abah datang jemput. Akhirnya dibantu sampai jumpa sama keluarga dirumah,” ujar Melli dengan lega bercampur haru.


Melli Saputri, anak serta adiknya berjalan kaki di kawasan Wih Porak. Foto: Istimewa


Di balik perjalanan berat itu, ada kekuatan kecil yang menguatkannya yaitu sang anak. Sepanjang jalan, anaknya tak banyak mengeluh. “Alhamdulillah, anak enggak rewel. Dia pengertian,” kata Melli sambil tersenyum.

Kerinduan Melli untuk pulang dan memastikan keselamatan keluarga akhirnya mengalahkan rasa lelah dan takut yang menyertai setiap langkahnya. Kini, ia telah kembali berkumpul dengan keluarga di Bener Meriah, meski bayang-bayang bencana masih terasa.

Seiring berjalannya waktu, penanganan darurat pasca-bencana mulai menunjukkan hasil. Akses vital Jembatan Tenge Besi di Kecamatan Pintu Rime telah selesai diperbaiki dan kembali bisa dilintasi kendaraan. Pemulihan infrastruktur ini menjadi urat nadi kebangkitan warga, membuka kembali jalur mobilitas, distribusi logistik, dan harapan, sehingga perjalanan berisiko seperti yang dialami Melli tidak lagi terulang.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Silvana Febiari)