Ilustrasi. (Medcom.id)
BMKG Ungkap Fakta-Fakta El Nino, Ternyata Tak Terjadi Setiap Musim Kemarau
Silvana Febiari • 14 July 2026 13:26
Jakarta: Banyak orang mengira setiap kali musim kemarau maka fenomena El Nino pasti sedang berlangsung. Namun, anggapan tersebut keliru.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) membagikan sejumlah fakta mengenai El Nino melalui akun media sosial resminya. Informasi disampaikan untuk mengedukasi masyarakat mengenai fenomena El Nino serta dampaknya di Indonesia.
Baca Juga :
El Nino Bukan Kemarau, Begini Penjelasannya
Apa Itu El Nino?
Secara ilmiah, El Nino adalah fenomena alam ketika suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur menjadi lebih hangat dari biasanya.Kondisi menghangatnya suhu air laut ini menyebabkan pusat pembentukan awan hujan bergeser menjauh dari wilayah Indonesia. Akibat pergeseran ini, curah hujan di sejumlah wilayah Indonesia mengalami penurunan yang cukup signifikan.
.jpg)
Anomali suhu muka laut Indonesia dasarian I Juli 2026. (Dokumentasi/ BMKG)
Arti Nama "Anak Laki-Laki"
Nama El Nino berasal dari bahasa Spanyol yang berarti "anak laki-laki". Istilah unik ini pertama kali digunakan oleh para nelayan di Peru karena fenomena menghangatnya suhu laut tersebut umumnya mulai muncul di permukaan menjelang perayaan Natal (yang identik dengan kelahiran bayi laki-laki Yesus Kristus).El Nino Tidak Terjadi Setiap Tahun
Salah satu salah kaprah yang sering terjadi adalah menganggap El Nino hadir di setiap musim kemarau. Faktanya, El Nino merupakan fenomena iklim yang biasa muncul dalam siklus 2 hingga 7 tahun sekali.Saat fenomena ini aktif, curah hujan di sebagian wilayah Indonesia akan berkurang sehingga membuat musim kemarau berpotensi menjadi jauh lebih kering dibandingkan dengan kemarau normal.
Sejarah El Nino Kuat di Indonesia
Indonesia tercatat pernah melewati beberapa periode El Nino dengan intensitas kuat. Tahun-tahun yang membekas dalam sejarah iklim tanah air akibat El Nino kuat ini di antaranya adalah:- Tahun 1982
- Tahun 1997
- Tahun 2015
- Tahun 2023
Ketika periode El Nino kuat ini terjadi, curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia, terutama di Jawa, Bali hingga Nusa Tenggara, sebagian Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua mengalami penurunan yang sangat drastis. Hal ini menyebabkan musim kemarau terasa jauh lebih ekstrem dan kering.
El Nino Kuat Tidak Berarti Kekeringan Parah di Semua Daerah
Meskipun El Nino dengan kategori kuat dapat meningkatkan risiko kekeringan secara umum, BMKG menegaskan tingkat dampaknya tidaklah sama rata di setiap daerah.Tingkat dampak kekeringan bisa berbeda-beda di setiap wilayah, sangat bergantung pada kondisi klimatologis lokal dan ketersediaan sumber daya air di masing-masing tempat. Oleh karena itu, BMKG senantiasa memantau perkembangan iklim secara berkala agar masyarakat dan pemerintah daerah dapat melakukan langkah antisipasi dan kesiapsiagaan sejak dini.